POJOKSATU.id, JAKARTA— Soekarno pernah memarahi Menterinya Chaerul Saleh dan juga tokoh PKI DN Aidit. Bung Karno memarahi Aidit karena tak menyebut nama Bung Hatta di naskah Proklamasi.
Hubungan Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta sungguh berwarna. Terkadang mesra, sering juga diwarnai perbedaan pandangan politik.
Hatta bahkan akhirnya mundur dari posisi Wakil Presiden tahun 1956. Namun Soekarno dan Hatta tetap saling menghormati walau tak lagi bersama.
Baca Juga: Mengejutkan, IPW Sebut Putusan Seumur Hidup Sambo Sudah Tepat, Pangkal Masalah di Putusan Mati
Bahkan Soekarno pernah sangat marah kepada Ketua CC PKI DN Aidit yang membacakan naskah proklamasi saat Upacara 17 Agustus di tahun 1960-an.
Dimana dalam membaca naskah Proklamasi itu, DN Aidit dengan sengaja tanpa menyebutkan nama Bunga Hatta.
Menurut penuturan jurnalis sekaligus sejarawan Hendi Jo, dikutip dari Merdekacom, Aidit yang membacakan teks proklamasi tidak menyebut nama Mohammad Hatta, yang seharusnya dibaca berangkaian di naskah Proklamasi :
“Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta.”
Setelah Aidit membaca naskah proklamasi, Sukarno naik pitam dan langsung pergi meninggalkan upacara yang belum selesai.
Sebaliknya, Hatta juga selalu membela Soekarno dari orang-orang yang mengejeknya. Hatta tak rela presiden RI dilecehkan di luar negeri.
Pertemuan terakhir dua sahabat itu konon begitu mengharukan. Tidak banyak kata yang terucap. Tapi keduanya telah saling mengerti dan saling memaafkan. Beberapa hari setelah pertemuan itu, Soekarno meninggal.
Selain kemarahan karena tak menyebut nama Bung Hatta, Sukarno juga pernah memarahi Ketua CC PKI DN Aidit pada Mei 1964.
Sebab Aidit menilai Pancasila mungkin untuk sementara dapat mencapai tujuannya sebagai faktor penunjang dalam menempa kesatuan dan kekuatan Nasakom.
Begitu Nasakom menjadi realitas, Aidit menganggap Pancasila dengan sendirinya tak akan ada lagi.
"Presiden Sukarno marah besar mendengar pidato Aidit seperti itu. Bung Karno memerintahkan jajarannya agar 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila,” kata Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah saat seminar daring bertajuk ‘Pancasila Dalam Gotong Royong Menuju Indonesia Maju’, Senin (8/6/2020).
“Peringatan berhasil dilaksanakan pada 1 Juni 1964 dan Presiden Sukarno berpidato ‘Pancasila Sepanjang Masa’ sebagai antitesis pidato Aidit," katanya lagi.
Menurut Basarah, sejak saat itu, hari lahir Pancasila selalu diperingati di masa pemerintahan Soekarno.
Tapi pada 1970 peringatan dilarang. Padahal 1 Juni 1968, Soeharto masih berpidato peringatan Hari Lahir Pancasila.
Bung Karno Marahi Menteri Chaerul Saleh
Soekarno pernah memarahi menterinya yang suka kebut-kebutan dengan putranya, Guntur Soekarno Putra.
Kemarahan itu diceritakan Guntur dalam buku Bung Karno : Bapakku, Kawanku, Guruku.
Guntur memang menulis tentang kisah-kisah ringan dan humanis dari Bung Karno yang dituangkannya dalam buku tersebut.
Sisi lain kehidupan Sang Proklamator yang sering tidak tampak dari luar pun tersingkap jelas.
Kala itu, putra sulung Bung Karno, Guntur, berusia remaja dan menjelang kuliah di ITB, dia mendapat mobil VW sport Kharman Ghia.
Lama kelamaan Bung Karno mendapat kabar, kalau Guntur senang ngebut membawa kendaraannya.
Kejadian ini pada tahun 1962. Bung Karno lantas menegur Menteri Chaerul Saleh, karena dianggap suka bersama Guntur membawa mobil keliling Jakarta sambil ngebut.
“Heeeh Rul Rul. Dia ini nyetir gila-gilaan lantaran kau. Begrijp je (Mengerti kau). Dikira aku tidak tahu. Kau dan Guntur suka balap-balapan di daerah Kebayoran,” umpat Bung Karno.
“Tukang-tukang becak di daerah Cikini semuanya lari ketakutan diserempet, kalau melihat mobil Kharman Ghia merah kepunyaan kalian. Kau ini memang terlalu Rul. Jij itu menteriku (Kau itu menteriku). Jadi jangan ngros-boy,” tegas Bung Karno lagi.***




