Oleh: Dahlan Iskan

Tentu banyak yang berubah. Begitulah sebuah rencana sebesar kereta cepat Jakarta–Bandung.

Stasiun Padalarang itu, misalnya, tidak pernah disebut dalam rencana awal.

Anda masih ingat: stasiun terakhir kereta cepat itu rencananya di Kota Walini. Masih sekitar 10 km sebelum Padalarang.

Baca Juga: Jadwal Siaran Langsung Bola Kamis 21 September: Taiwan vs Indonesia, LASK vs Liverpool

Kota Walini sendiri tidak ada burinik-nya. Di peta juga tidak ada. Rupanya, itulah kota yang hanya ada dalam rencana.

Yakni, kota baru di lahan perkebunan karet PTPN VIII milik BUMN.

Awalnya kereta cepat dianggap kesempatan besar bagi PTPN VIII.

Baca Juga: Fahri Hamzah Sebut Ganjar dan Anies Baswedan Belum Cukup Umur Jadi Presiden, Ini Maksudnya

Tidak masalah, sebagian lahannya disetorkan sebagai modal dalam PT KCIC.

Tapi, nilai komersial lahan PTPN VIII akan menjadi berkali lipat.

Rupanya investor untuk membangun kota baru tidak kunjung didapat.

Baca Juga: Rocky Gerung Sebut Anies Baswedan Lakukan Kesalahan dengan Memilih Cak Imin

PTPN VIII sendiri tidak punya cukup modal untuk mengembangkannya.

Maka, Kota Walini ditinggal. Kesempatan pun lewat.

KCIC pilih membangun Stasiun Padalarang. Yakni, di lahan stasiun lama. Di sebelah stasiun kuno bikinan Belanda.

Maka, di kompleks Stasiun Padalarang itu ada dua bangunan: klasik dan modern. Gaya Belanda lama dan gaya Tiongkok modern.

Yang juga berubah adalah stasiun pemberangkatan: Halim. Di lahan Bandara Halim Perdanakusuma milik TNI-AU. Seluas 3,5 hektare.

Baca Juga: Enggan Refleksi Diri di Depan Cermin, Psikolog Sebut Prabowo Subianto Punya Kecenderungan Denial

PT KCIC pun harus menyewa lahan tersebut. Jangka panjang: 50 tahun. Biaya sewanya, jangan kaget, Rp10 triliun. Akan diterima negara.

Stasiun Halim sangat megah. Modern. Mirip yang di Tiongkok.

Saat saya mencoba KA cepat itu, stasiun belum sepenuhnya selesai.

Pertamanannya belum jadi. Pertokoan dan perestorannya belum ada yang buka.

Baca Juga: Wakil Ketua TPN Sebut Jokowi Akan Ikut Tentukan Cawapres Ganjar Pranowo

Tapi, menurut rencana, banyak resto terkenal buka di situ.

Salah satunya favorit saya: Lanzhou Lamian. Yakni, mi dari provinsi muslim di Tiongkok: Provinsi Ganshu. Halal. Mi daging sapi.

Untuk ke Stasiun Halim, nantinya ada akses langsung dari jalan tol.

Baca Juga: Irwan Mussry Diperiksa KPK, Suami Maia Estianty Itu Jelaskan Perkaranya

Kemarin saya lewat akses itu. Belum sepenuhnya dibuka. Tidak ada tanda. Saya sempat terlewat. Terpaksa muter jauh di jalan tol.

Pulangnya, saya pilih menerobos jalan darurat. Masih berbentuk tanah uruk. Menuju jalan aspal di kompleks perumahan TNI-AU.

Itulah jalur tercepat menuju Bandara Halim.

Letak Stasiun Halim berada di sebelah kiri jalan tol Cawang–Cikampek.

Maka, setelah beberapa kilometer dari stasiun, kereta cepat harus masuk terowongan. Panjangnya 1 km. Yakni, untuk menerobos bawah jalan tol.

Maka, ketika kereta cepat keluar dari terowongan itu, relnya sudah berada di sebelah kanan jalan tol.

Baca Juga: Gegara Pamer Pakai Gaun Pengantin dengan Sang Kekasih, Agnez Mo Terpaksa Klarifikasi Begini

Lalu, hanya sekejap sudah sampai Purwakarta. Lalu, Padalarang.

Total melewati 13 terowongan. Yang terpanjang adalah 4 km. Itulah terowongan terpanjang di Indonesia.

Yang juga di luar rencana adalah sulitnya membuat terowongan di jalur ini.

Baca Juga: Dilaporkan Atas Dugaan Penganiayaan oleh Sang Tunangan, Begini Respon Ayu Aulia

Tanahnya tidak keras. Gampang longsor. Harus ada intervensi ilmu pengetahuan.

Bukit-bukit yang akan dibor itu harus dibuat keras.

Caranya: bukit-bukit itu harus banyak disuntik. Cairan yang disuntikkan adalah semen cair.

Baca Juga: Peringati Ulang Tahun Mendiang Laura Anna, Greta Irene Merasa Bersalah Bisa Move On

Setelah bukit mengeras, barulah dibor untuk membuat terowongan.

Semua itu membuat biaya membengkak. Saya tidak pernah mendalami sisi keuangan KCIC.

Saya tidak tahu persis seberapa membengkak. Juga, bagaimana mengatasinya.

Yang jelas, bisnis kereta cepat ini tidak menarik. Setidaknya bagi saya. Mungkin juga bagi Anda.

Relakah uang Anda ditanamkan ke sebuah bisnis yang modalnya baru akan kembali 30 tahun kemudian.

Bahkan bisa-bisa 50 tahun. Saya tidak mau.

Baca Juga: Kuasa Hukum Korban Pertanyakan Tak Masuknya Pasal TPPU Kasus IPhone Si Kembar Rihana Rihani

Kenapa Tiongkok mau?

Saya tidak tahu.

Yang jelas, sekarang ini kereta cepat Jakarta–Bandung jadi kebanggaan Tiongkok juga: sebagai contoh sukses program OBOR di Asia Tenggara.

Baca Juga: Sidang Perdana Si Kembar Rihana Rihani, Keduanya Didakwa Lakukan Tipu Gelap hingga UU ITE

Itu juga sekaligus membuat Amerika Serikat melotot: pengaruh Tiongkok kian merajalela di mana-mana.

Maka, di KTT G20 di India barusan, Presiden AS Joe Biden meluncurkan program spektakuler: membangun jalan pintas dari India sampai Arab Saudi.

Lewat Pakistan, Iran, dan negara-negara Teluk. Itu akan diteruskan ke Turki. Lalu, ke Eropa.

Baca Juga: Terungkap di Sidang Suap CCTV Yana Mulyana, Saksi Sebut Antar 4 Amplop ke Rumah Ketua DPRD Kota Bandung

 Akankah berhasil seperti program OBOR? Terserah saja.

Kembali ke KCIC. Kalaupun ada satu saja yang saya kurang suka, itu adalah pemilihan desain eksterior kereta cepat.

Saya lebih suka warna yang di Tiongkok. Atau warna Shinkansen yang di Jepang.

Perasaan saya, desain dan pilihan warna di sana terasa sangat futuristis.

Tentu ini sangat subjektif. Orang lain bisa saja lebih suka yang di Jakarta–Bandung.

Baca Juga: Ini Arti Penting Kemenangan Atas Kirgistan Bagi Timnas Indonesia U24

 Menurut perasaan saya, boleh saja nuansanya merah, tapi tidak seperti itu.

Selebihnya: wuzzzzz....