POJOKSATU.id, KARAWANG - Hamparan sawah hijau kekuningan di balik tembok tinggi Lapas Kelas IIA Karawang menghadirkan pemandangan yang tak biasa, Senin 25 Mei 2026. Di bawah terik matahari yang menyengat, suara tawa dan semangat para petugas, warga binaan, hingga pejabat daerah membaur dalam satu momentum besar: panen raya padi varietas M70D.

Panen raya yang digelar di lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Karawang itu bukan sekadar agenda seremonial. Momentum tersebut menjadi simbol nyata bahwa ketahanan pangan bisa tumbuh dari mana saja, bahkan dari balik jeruji besi.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Dandim 0604/Karawang Letkol Inf Nanda Siswanto bersama Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM RI serta jajaran Forkopimda Kabupaten Karawang.

Dengan mengenakan caping dan memegang arit, para pejabat turun langsung ke area persawahan untuk memotong batang padi pertama. Suasana penuh keakraban terlihat saat mereka membaur bersama warga binaan yang selama ini mengelola lahan produktif tersebut.

Bagi Letkol Inf Nanda Siswanto, panen raya di lingkungan lapas menjadi bukti bahwa program pembinaan dapat berjalan selaras dengan upaya memperkuat ketahanan pangan daerah.

Baca Juga: LBH GABBAR Desak Kejari Karawang Periksa BTN dan Notaris di Kasus KPR Citra Swarna Grande dan Kartika Residence

“Ini adalah kolaborasi luar biasa. Ketahanan pangan bukan cuma tugas petani di desa, tapi tanggung jawab kita bersama. Apa yang dilakukan di Lapas Karawang ini adalah bukti bahwa lahan produktif dan pembinaan yang tepat bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa bagi ketahanan pangan daerah,” ujar Letkol Inf Nanda Siswanto.

Program pertanian di dalam lapas ini memanfaatkan lahan SAE sebagai pusat edukasi sekaligus pelatihan keterampilan bagi warga binaan. Di tempat inilah para warga binaan belajar mengenai teknik budidaya modern, pengelolaan pertanian, hingga praktik agrobisnis sederhana.

Varietas padi M70D dipilih karena memiliki sejumlah keunggulan. Selain dikenal tangguh, padi ini juga memiliki masa panen yang sangat cepat, yakni sekitar 70 hari sejak masa tanam. Keunggulan tersebut dinilai cocok diterapkan pada lahan pembinaan yang membutuhkan hasil optimal dalam waktu relatif singkat.

Keberhasilan panen raya ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Lapas Kelas IIA Karawang. Di tengah berbagai keterbatasan, para warga binaan mampu membuktikan bahwa mereka dapat menghasilkan komoditas pangan berkualitas.

Tidak hanya menghasilkan padi, program ini juga memberikan dampak psikologis dan sosial yang besar bagi warga binaan. Mereka tidak sekadar menjalani masa hukuman, tetapi juga memperoleh bekal keterampilan yang dapat digunakan ketika kembali ke tengah masyarakat.

Baca Juga: Seleksi Dirut PD Petrogas Karawang Masuk Tahap UKK, 22 Peserta Adu Kompetensi di UI

Kepala Lapas Karawang menegaskan bahwa konsep pembinaan berbasis pertanian ini merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian warga binaan.

Melalui program tersebut, para warga binaan diajarkan disiplin, tanggung jawab, hingga kerja sama tim. Aktivitas bertani juga dinilai mampu membentuk karakter positif karena mereka terlibat langsung dalam proses menanam, merawat, hingga memanen hasil pertanian.

Panen raya padi M70D ini sekaligus memperlihatkan kuatnya sinergi lintas instansi di Karawang. Kodim 0604/Karawang, jajaran pemasyarakatan, pemerintah daerah, hingga unsur Forkopimda bersama-sama mendukung program ketahanan pangan berbasis pembinaan masyarakat.

Karawang sendiri dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional di Jawa Barat. Kehadiran program pertanian di lingkungan lapas menjadi tambahan energi baru dalam menjaga produktivitas pangan daerah.

Di sisi lain, program ini juga membawa pesan kemanusiaan yang kuat. Di balik tembok penjara, harapan tetap tumbuh. Benih-benih padi yang ditanam para warga binaan menjadi simbol kesempatan kedua untuk memperbaiki hidup dan kembali produktif.

Hamparan padi yang menguning di lahan SAE Lapas Karawang menjadi bukti bahwa proses pembinaan tidak selalu identik dengan keterbatasan. Dengan pendampingan yang tepat, warga binaan mampu menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat.

Momentum panen raya tersebut pun ditutup dengan semangat optimisme. Dari balik jeruji, kontribusi nyata untuk menjaga stabilitas pangan bangsa terus mengalir demi mendukung ketahanan pangan nasional. ***