POJOKSATU.id, KARAWANG - Suasana politik tingkat desa di Kabupaten Karawang mulai menghangat menjelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Bengle yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Salah satu bakal calon kepala desa yang mulai mencuri perhatian publik adalah Nurnida Alya. Perempuan muda berusia 27 tahun itu langsung turun ke lapangan untuk menyerap berbagai persoalan yang selama ini dikeluhkan masyarakat.
Mengusung gerakan bertajuk “Alya Mendengar Rakyat”, Nurnida Alya menggelar safari politik perdananya di kawasan padat penduduk Wagir 2, Desa Bengle, Kecamatan Majalaya, Karawang.
Kegiatan silaturahmi dan dialog warga tersebut dipusatkan di lingkungan RT 13 dan RT 14 RW 06. Kehadiran Alya disambut hangat warga yang berharap adanya perubahan nyata bagi pembangunan desa ke depan.
Dalam pertemuan itu, Alya tidak hanya memperkenalkan diri sebagai bakal calon kepala desa, tetapi juga memaparkan visi besar yang ingin diwujudkannya jika mendapat amanah memimpin Desa Bengle.
Di hadapan puluhan kepala keluarga yang hadir, Alya menegaskan dirinya ingin membawa perubahan progresif dengan pendekatan yang lebih dekat kepada masyarakat.
Pertemuan yang berlangsung santai tersebut kemudian berubah menjadi ruang curahan hati warga terkait berbagai persoalan yang selama ini dianggap belum terselesaikan.
Ketua RT 13, Anton atau Karlan Hardoni, menyampaikan sejumlah kebutuhan mendesak yang menjadi harapan masyarakat di wilayahnya. Ia mengaku selama ini banyak fasilitas umum yang belum tersentuh pembangunan.
“Kami merindukan tindakan nyata. Fasilitas-fasilitas umum ini sudah lama dinantikan oleh warga kami di RT 13,” ujar Anton di hadapan Alya, Rabu 20 Mei 2026.
Baca Juga: Nurnida Alya Dharmawan Siap Maju Pilkades Bengle 2026, Bawa Visi Besar Bangun Desa
Anton menjelaskan, sedikitnya terdapat 170 kepala keluarga di wilayah RT 13 yang membutuhkan perhatian serius pemerintah desa.
Beberapa kebutuhan yang disampaikan di antaranya pembangunan lapangan bulu tangkis sebagai sarana olahraga pemuda, pengadaan pos ronda lengkap dengan blandongan untuk tempat berkumpul warga, hingga pembangunan turap penahan tanah.
Selain itu, warga juga meminta normalisasi saluran drainase guna mengantisipasi genangan air saat musim hujan serta penambahan lampu penerangan jalan umum (PJU) di sejumlah titik yang masih gelap.
Keluhan serupa juga disampaikan Ketua RT 14, Edi. Ia menyoroti minimnya penerangan di area pemakaman umum yang kerap menyulitkan warga saat ada prosesi pemakaman malam hari.
“Kondisinya sangat menyulitkan, terutama jika ada prosesi pemakaman saat diguyur hujan pada malam hari. Kami sangat butuh penerangan di area makam,” kata Edi.
Menurut Edi, sedikitnya terdapat 80 kepala keluarga di wilayah RT 14 yang berharap persoalan fasilitas umum tersebut segera mendapat solusi konkret.
Mendengar berbagai aspirasi itu, Nurnida Alya menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh warga yang telah terbuka menyampaikan keluhan secara langsung.
Bagi Alya, seluruh masukan warga bukan sekadar catatan biasa, melainkan menjadi bahan penting dalam menyusun program prioritas pembangunan desa ke depan.
Ia menegaskan bahwa pendekatan mendengar langsung masyarakat merupakan langkah awal untuk memahami kebutuhan riil warga di lapangan.
“Semua aspirasi yang disampaikan masyarakat hari ini menjadi catatan penting bagi saya. Ini bukan hanya sekadar mendengar, tetapi bagaimana nanti bisa diwujudkan menjadi kerja nyata,” ujar Alya.
Pendekatan humanis dan dialogis yang dibawa Alya pun dinilai warga menjadi warna baru dalam dinamika politik desa.
Warga menilai sosok Alya memiliki kepedulian dan kemauan untuk turun langsung mendengarkan persoalan masyarakat tanpa sekat.
“Kami melihat sosoknya punya ketulusan untuk mendengar. Mudah-mudahan silaturahmi seperti ini bisa sering dilakukan. Doa kami, semoga apa yang dicita-citakan dikabulkan, selalu sehat, dan sing sayang ka warga jika terpilih nanti,” tutur Anton.
Kehadiran Nurnida Alya di tengah masyarakat Wagir 2 sekaligus menjadi sinyal awal mulai menghangatnya kontestasi Pilkades Bengle.
Baca Juga: SPMB SD Purwakarta 2026 Dimulai, Pengawasan Diperluas hingga Desa demi Transparansi
Dengan gaya komunikasi yang santai namun aktif menyerap aspirasi, Alya mencoba membangun kedekatan emosional dengan warga akar rumput.
Baca Juga: Dana Bencana Rp5,6 Miliar Mandailing Natal 2025, Bupati Saipullah Akui Belum Semuanya Digunakan
Langkah blusukan tersebut diperkirakan akan terus berlanjut ke sejumlah wilayah lain di Desa Bengle dalam beberapa waktu mendatang sebagai bagian dari upaya menyusun program pembangunan berbasis kebutuhan masyarakat. ***




