POJOKSATU.id, KARAWANG - Di balik suasana haru dan bahagia momen kelulusan sekolah, tersimpan perjuangan besar yang kini tengah dihadapi SLB Tunas Harapan Karawang.

Tahun ini, sekolah luar biasa tersebut resmi meluluskan delapan siswa yang terdiri dari dua laki-laki dan enam perempuan. Namun selepas prosesi kelulusan usai, tantangan baru langsung menanti: bagaimana memastikan para lulusan disabilitas itu memiliki masa depan yang mandiri melalui dunia kerja.

Kepala SLB Tunas Harapan Karawang, Ismiati, S.Pd., mengaku hingga kini pihak sekolah masih terus berupaya membuka pintu-pintu industri dan dunia usaha agar anak-anak didiknya mendapatkan kesempatan bekerja yang layak.

Saat ditemui di ruang kerjanya, Ismiati menuturkan bahwa peluang kerja untuk lulusan laki-laki mulai menunjukkan titik terang. Pihak sekolah bahkan sudah menjalin komunikasi lanjutan dengan salah satu perusahaan ritel nasional.

“Untuk dua siswa laki-laki, insyaallah minggu depan mau di-follow up karena sudah ada komunikasi dengan pihak Alfamart. Namun untuk enam siswa perempuan, kami jujur masih bingung karena sampai saat ini belum ada peluang atau channel lagi ke dunia kerja,” ujarnya penuh harap.

Baca Juga: HUT ke-80 Kodam III/Siliwangi, Dandim Karawang Pimpin Ziarah Khidmat di TMP Pancawati

Menurutnya, para siswa berkebutuhan khusus memiliki semangat dan cita-cita yang sama seperti remaja lainnya. Mereka ingin mandiri, bekerja, dan membantu ekonomi keluarga.

Karena itu, pihak sekolah berharap ada dukungan lebih luas dari pemerintah, perusahaan, hingga masyarakat agar anak-anak disabilitas memiliki akses kerja yang lebih terbuka.

“Harapan kami mereka semua bisa bekerja karena mereka juga membutuhkan penghasilan untuk menghidupi diri dan membantu keluarga mereka. Kami sangat memohon adanya fasilitas dan dukungan dari berbagai pihak agar anak-anak kami bisa mendapatkan kesempatan kerja yang layak,” katanya.

Bukan tanpa bekal, para lulusan SLB Tunas Harapan Karawang sebenarnya telah dipersiapkan dengan berbagai keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan di dunia kerja maupun usaha mandiri.

Beberapa keterampilan yang diajarkan di antaranya tata boga memasak steam, merangkai bunga, hingga seni melukis. Keterampilan tersebut diberikan sebagai upaya agar siswa memiliki kemampuan produktif setelah lulus sekolah.

Baca Juga: PSM Vs Persib Digelar Malam Ini, Kapolres Karawang Minta Suporter Tetap Kondusif

Selama ini, SLB Tunas Harapan juga sudah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan besar seperti Alfamart dan McDonald’s untuk membuka peluang kerja bagi para alumninya.

Hasilnya, tidak sedikit alumni SLB Tunas Harapan yang berhasil menunjukkan kemampuan kerja mereka hingga akhirnya diangkat menjadi karyawan tetap.

Ismiati mengatakan, perusahaan umumnya memberikan apresiasi kepada siswa disabilitas yang memiliki kinerja baik dan mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja.

Meski demikian, ia mengakui masih ada sejumlah tantangan yang dihadapi para alumni saat memasuki dunia kerja, terutama soal kedisiplinan dan adaptasi ritme kerja.

“Kalau yang jadi karyawan tetap sudah banyak dari alumni kita. Jika kinerja mereka baik, perusahaan mengapresiasinya. Memang ada anak yang habis kontrak dan tidak diperpanjang, tapi itu bukan karena berbuat yang macam-macam, melainkan hanya faktor kedisiplinan kehadiran di tempat kerja yang masih perlu adaptasi,” jelasnya.

Untuk memperluas peluang kerja, pihak sekolah kini mulai melirik sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Langkah tersebut dinilai penting karena sektor UMKM memiliki potensi besar menyerap tenaga kerja disabilitas sesuai kemampuan dan keterampilan mereka.

Baca Juga: Universitas Panca Sakti Bekasi, Kampus Hasil Merger Tiga Perguruan Tinggi yang Fokus Cetak Lulusan Technopreneur

Namun hingga kini, kerja sama formal dengan pelaku UMKM di Karawang masih belum terjalin.

Padahal, menurut pihak sekolah, dukungan UMKM lokal dapat menjadi solusi nyata bagi para lulusan perempuan yang hingga kini masih kesulitan mendapatkan akses pekerjaan.

Selain fokus memperjuangkan masa depan alumni, SLB Tunas Harapan Karawang juga tengah berupaya meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan.

Saat ini, sekolah sedang mengajukan bantuan pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) demi menunjang kegiatan belajar mengajar yang lebih optimal bagi para siswa berkebutuhan khusus.

“Kita sangat ingin dan membutuhkan RKB untuk menunjang proses belajar anak-anak. Saat ini kami sedang mengusahakan hal tersebut dan sudah mengajukannya secara resmi melalui proposal kepada pihak terkait,” pungkas Ismiati.

Baca Juga: Dua Dekade Mengabdi untuk NKRI, Kisah Serka Imang dari Medan Konflik Aceh ke Teritorial Karawang

Perjuangan SLB Tunas Harapan Karawang menjadi potret nyata bahwa pendidikan anak disabilitas tidak berhenti saat kelulusan diumumkan. Tantangan sesungguhnya justru dimulai ketika mereka harus diterima dan diberi ruang di dunia kerja.

Di tengah keterbatasan yang ada, semangat para guru dan pihak sekolah untuk memperjuangkan masa depan anak-anak disabilitas menjadi harapan besar agar mereka bisa hidup mandiri, dihargai, dan memiliki kesempatan yang setara di tengah masyarakat. ***