POJOKSATU.id, KARAWANG – Di balik seragam loreng yang dikenakan dengan penuh kebanggaan, tersimpan kisah panjang tentang pengabdian, loyalitas, dan pengorbanan untuk negeri. Sosok itu adalah Serka Imang, prajurit TNI Angkatan Darat yang telah mengabdikan lebih dari dua dekade hidupnya demi menjaga tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bagi Serka Imang, menjadi prajurit bukan sekadar profesi. Seragam yang dikenakannya adalah simbol sumpah setia kepada bangsa dan negara. Sejak resmi dilantik menjadi prajurit TNI pada 23 April 2001, hidupnya sepenuhnya dipersembahkan untuk tanah air.

Karier militernya dimulai di satuan elite Yonif Para Raider 305/Tengkorak, salah satu pasukan tempur legendaris di bawah naungan Kostrad. Di satuan inilah mental, fisik, dan jiwa keprajuritan Serka Imang ditempa menjadi sosok yang tangguh dan disiplin.

Tidak lama setelah menjalani pendidikan dan penugasan awal, negara langsung memberikan amanah besar kepadanya. Pada tahun 2002 hingga 2003, Serka Imang diterjunkan ke Aceh dalam operasi militer saat wilayah tersebut masih berada dalam situasi konflik.

Baca Juga: Aksi Cepat Babinsa Telagasari, Serka Imang Raih Penghargaan Polres Karawang Usai Bongkar Kasus Pembunuhan

Pengalaman bertugas di Aceh menjadi salah satu fase paling berkesan dalam perjalanan hidupnya. Di tengah kondisi yang penuh tekanan dan risiko tinggi, ia belajar tentang arti keberanian, pengorbanan, serta pentingnya menjaga rasa kemanusiaan di tengah konflik.

“Di sana saya belajar bahwa menjadi prajurit bukan hanya soal bertempur, tetapi juga bagaimana menjaga rakyat dan memberikan rasa aman,” ungkapnya.

Pengabdian Serka Imang di pasukan tempur terus berlangsung hingga tahun 2012. Selama bertugas bersama Pasukan Tengkorak, ia menjalani berbagai operasi dan penugasan strategis, termasuk misi pengamanan wilayah perbatasan Kalimantan pada tahun 2011.

Bertugas di wilayah perbatasan memberikan pengalaman berbeda baginya. Selain menjaga kedaulatan negara, ia juga menyaksikan langsung kehidupan masyarakat di daerah terpencil yang membutuhkan perhatian dan kepedulian.

Baca Juga: Hendra Wijaya Terharu Lihat KDM dan Bupati Aep Naik Kuda di Kirab Binokasih: Karawang Tak Kehilangan Jati Diri

Setelah lebih dari satu dekade berada di garis depan, perjalanan karier Serka Imang memasuki babak baru. Pada tahun 2012 hingga 2015, ia dipercaya berdinas di Puskodal Makostrad. Penugasan ini memperluas wawasan strategis dan kemampuan koordinasinya dalam lingkungan militer.

Namun, panggilan untuk kembali dekat dengan masyarakat membawanya bergabung ke jajaran Kodam III/Siliwangi. Sejak tahun 2015, Serka Imang mulai menjalani tugas teritorial di Kodim 0616/Indramayu sebelum akhirnya bertugas di Kodim 0604/Karawang sejak tahun 2018 hingga sekarang.

Di Karawang, sosok Serka Imang dikenal sebagai prajurit yang aktif berinteraksi dengan masyarakat. Perannya sebagai aparat teritorial membuatnya menjadi penghubung antara TNI dan rakyat.

Ia terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, pembinaan wilayah, hingga membantu masyarakat dalam berbagai situasi. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya menjaga kemanunggalan TNI dan rakyat tetap kuat di tengah kehidupan masyarakat Karawang.

Baca Juga: Solar Langka, Ratusan Kapal Nelayan di Kejawanan Cirebon Tak Bisa Melaut

Bagi Serka Imang, tugas teritorial memiliki tantangan tersendiri. Jika saat di satuan tempur ia menghadapi ancaman di medan operasi, maka di wilayah teritorial ia harus mampu memahami kebutuhan masyarakat dan hadir sebagai solusi.

“Prajurit harus bisa menjadi pelindung sekaligus sahabat rakyat. Karena kekuatan TNI sejatinya lahir dari kedekatan dengan masyarakat,” katanya.

Di balik ketegasan seorang Sersan Kepala, Serka Imang juga adalah sosok kepala keluarga yang hangat. Ia menyadari bahwa keberhasilannya menjalani berbagai tugas berat tidak lepas dari dukungan keluarga tercinta.

Sang istri, Wulan Sri Ningrum, menjadi sosok yang selalu setia mendampingi dalam setiap fase pengabdiannya. Dukungan dan doa keluarga menjadi kekuatan utama saat dirinya menjalani tugas di berbagai daerah.

Baca Juga: Polres Karawang Pastikan Kasus Kematian Balita di Cibuaya Diusut Tuntas

Sementara ketiga buah hatinya, Najwa Pasya Fadhilah, Akmal Mochamed Al-Qawiy, dan Syakilah Minhatul Wafirah, menjadi sumber semangat yang selalu mengingatkannya untuk pulang dengan selamat.

Bagi Serka Imang, menjaga keluarga adalah bagian penting dari pengabdian hidupnya. Meski tugas negara sering menuntut waktu dan pengorbanan, ia tetap berusaha hadir sebagai ayah dan suami yang bertanggung jawab.

Lebih dari 20 tahun mengabdi, Serka Imang telah melewati berbagai fase perjalanan sebagai prajurit. Dari medan konflik Aceh, penjagaan perbatasan Kalimantan, hingga pembinaan masyarakat di Karawang, semua menjadi saksi perjalanan panjang seorang prajurit yang setia pada sumpahnya.

Baca Juga: Ketua Komisi IV DPRD Karawang Pastikan 7 Tuntutan Mahasiswa Dikawal hingga ke Meja Bupati

Baginya, pengabdian kepada negara bukan tentang penghargaan atau pujian, melainkan tentang menjaga amanah dan kehormatan sebagai prajurit TNI.

“Setiap jengkal tanah yang saya pijak, dari hutan Aceh hingga jalanan Karawang, adalah saksi bahwa seragam ini bukan hanya kain, tapi janji kepada Ibu Pertiwi,” ujar Serka Imang. ***