POJOKSATU.ID - Aktivitas ratusan kapal nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Kejawanan nyaris lumpuh akibat kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. 

Kondisi ini telah berlangsung hampir satu bulan dan membuat ribuan nelayan kehilangan penghasilan.

Sedikitnya lebih dari 100 kapal berukuran besar terpaksa bersandar dan tidak melaut karena sulitnya mendapatkan solar bersubsidi. 

Dampaknya, sekitar 1.300 nelayan yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan kini hanya bisa menunggu tanpa kepastian.

Suasana pelabuhan pun berubah drastis. Aktivitas bongkar muat ikan yang biasanya ramai kini terhenti. Area pengisian BBM terlihat lengang, dengan peralatan yang tidak lagi beroperasi.

Baca Juga: Pemotor Viral Intimidasi Sopir Ambulans Ditetapkan Tersangka oleh Polresta Depok

Kelangkaan ini dipicu oleh terbatasnya distribusi solar bersubsidi, khususnya bagi kapal nelayan berkapasitas di bawah 30 gross ton (GT). 

Kuota yang diterima dinilai jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan melaut.

Salah satu pengurus kapal, Tessi, mengungkapkan bahwa pasokan BBM yang diterima saat ini tidak sebanding dengan kebutuhan operasional kapal.

“Kuota dari pemerintah hanya sekitar 15 kiloliter, padahal untuk sekali berangkat bisa membutuhkan hingga 24 kiloliter,” ujarnya.

Biasanya, nelayan menyiasati kekurangan dengan membeli BBM non-subsidi dari pihak swasta. Namun dalam beberapa pekan terakhir, pasokan BBM non-subsidi juga ikut menghilang dari pasaran.

Baca Juga: Pemotor Viral Halangi Ambulans di Depok Berujung Ditangkap Polisi, Tendang Mobil Sampai Penyok

“BBM non-subsidi juga langka, sudah hampir satu bulan tidak tersedia. Kemungkinan ini juga dipengaruhi kondisi global,” tambahnya.

Sementara, anggota DPR RI Komisi VI, Herman Khaeron, menyinggung dampak konflik Timur Tengah hingga penutupan Selat Hormuz yang disebut memengaruhi distribusi dan suplai BBM dunia.

"Ya sebetulnya memang situasi saat ini terkendala dengan suplai. Ada beberapa yang tentu disuplai dari kawasan Hormuz, ada 20 persennya dari sana," ujarnya

Menurut pria yang akrab disapa Kang Hero itu, penutupan Selat Hormuz membuat distribusi BBM global tidak bisa langsung digantikan oleh pasokan dari wilayah lain.

"Ketika kemudian terjadi penutupan Selat Hormuz, ya tidak serta-merta kita mendapatkan pengganti karena harus ada proses-proses meskipun ada komitmen dari Amerika dan Rusia," ucapnya.

Baca Juga: Beasiswa MOFA Taiwan Fellowship 2027 Dibuka, Tunjangan hingga Rp30 Juta per Bulan dan Riset di Taiwan

Meski demikian, ia memastikan pemerintah masih berupaya menjaga ketersediaan BBM nasional agar tetap aman.

"Yakinlah, pemerintah sedang berusaha untuk tetap bisa menjaga kebutuhan 1,5 sampai 1,6 juta barel per day untuk semua jenis BBM ini bisa terpenuhi," jelasnya

Pihaknya juga menegaskan harga BBM subsidi hingga akhir tahun dipastikan tidak mengalami kenaikan.

"Untuk subsidi, sampai akhir tahun ini sudah ditetapkan aman untuk tidak ada terjadi kenaikan harga atas BBM bersubsidi," ujarnya.

Namun, ia mengakui sejumlah jenis BBM non subsidi seperti Pertamina Dex, Turbo, hingga BBM industri mengalami kenaikan akibat skema floating price yang mengikuti harga internasional.

"Nah, tinggal kita bisa mencermati karena itu juga termasuk dalam floating price ya, harga yang naik-turun akibat dari harga internasional," ujarnya.

Ia pun meminta masyarakat tidak melakukan panic buying ataupun penimbunan BBM yang justru dapat memperparah situasi.

"Yakinlah ya, yang penting tidak terjadi panic buying, tidak terjadi bahkan tidak terjadi penimbunan misalkan," ujarnya.

Pihak Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Cirebon telah mengajukan permohonan penambahan kuota BBM subsidi kepada pemerintah pusat dan daerah, termasuk ke Kementerian ESDM serta Pertamina.

Para nelayan berharap ada langkah cepat dari pemerintah agar distribusi BBM kembali normal. Pasalnya, kondisi ini tidak hanya menghentikan aktivitas melaut, tetapi juga mengancam keberlangsungan ekonomi ribuan keluarga nelayan di Cirebon.***