POJOKSATU.id, KARAWANG – Ketegangan aksi demonstrasi di depan Gedung Paripurna DPRD Karawang, Kamis malam, berubah menjadi dialog terbuka antara mahasiswa dan anggota dewan.
Suasana yang sebelumnya memanas perlahan mencair saat anggota DPRD Karawang dari Fraksi Gerindra, Iqbal Jamalullail atau akrab disapa Gus Iqbal, memilih turun langsung menemui massa aksi.
Momen itu terjadi sekitar pukul 19.00 WIB. Di tengah sisa kepulan asap ban terbakar dan penjagaan aparat, Gus Iqbal hadir bersama dua anggota dewan lainnya, Dede Anwar dan Asep Junaedi.
Tak ada sekat meja rapat, tak ada kursi formal, tak ada jarak antara mahasiswa dan legislator. Ketiganya memilih duduk lesehan di atas paving blok pelataran gedung DPRD Karawang untuk mendengar langsung aspirasi massa.
Langkah itu sontak mengubah suasana. Ketegangan yang semula terasa pekat perlahan berganti menjadi ruang diskusi terbuka.
Mahasiswa yang sebelumnya berdiri dalam barisan aksi, mulai merapat membentuk lingkaran. Di titik itulah dialog antara wakil rakyat dan mahasiswa berlangsung tanpa protokoler.
Gus Iqbal lalu mengambil pengeras suara. Dengan nada tegas, ia tidak menyampaikan pembelaan normatif khas birokrasi. Sebaliknya, ia justru menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa yang turun menyuarakan keresahan masyarakat.
Baca Juga: SMAN 5 Karawang Resmi Jadi Sekolah Maung, SPMB 2026 Hanya Buka Jalur Prestasi
“Saya ucapkan terima kasih banyak kepada mahasiswa sebagai agen perubahan, sebagai pilar utama pembangunan Indonesia,” ujar Gus Iqbal di hadapan massa aksi.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa dengan membawa sederet tuntutan bukanlah bentuk gangguan terhadap lembaga, melainkan pengingat bagi para pemegang kebijakan agar tetap berpihak pada kepentingan rakyat.
Ia menegaskan, seluruh poin aspirasi yang dibawa mahasiswa telah dibaca dan menjadi perhatian Fraksi Gerindra DPRD Karawang.
“Sudah kami baca dan pelajari. Tidak satu pun yang tidak kami bahas, dan tidak ada yang tidak kami tekankan kepada Pemkab Karawang. Kami akan menjadi partai yang paling depan untuk terus memperjuangkan masyarakat Karawang,” tegasnya.
Baca Juga: Lift Festive Walk Karawang Macet, Satu Keluarga Terjebak 30 Menit dan Trauma
Dalam forum terbuka itu, Gus Iqbal bersama Dede Anwar dan Asep Junaedi menerima langsung dokumen berisi “7 Tuntutan Tegas” dari mahasiswa.
Dokumen tersebut berisi tuntutan yang dirumuskan dari keresahan masyarakat Karawang terhadap kondisi pendidikan, ketenagakerjaan, hingga perlindungan hak sipil.
Adapun tujuh tuntutan yang disampaikan mahasiswa meliputi:
Pertama, pendidikan bukan komoditas. Mahasiswa mendesak pemerintah memprioritaskan anggaran pendidikan dan menolak penghapusan program studi non-industri.
Baca Juga: Program Dapur Kampus MBG Masih Harus Dikaji Serius, UI dan UNJ Belum Tergesa
Kedua, hapus perbudakan modern. Mahasiswa meminta pencabutan regulasi outsourcing dan skema magang murah yang dinilai merugikan kepastian kerja.
Ketiga, kedaulatan lokal. Mahasiswa menuntut sanksi tegas bagi perusahaan yang melanggar kuota 60 persen tenaga kerja lokal di Karawang.
Baca Juga: Potret Kartini Masa Kini di Karawang, Siti Kamilah Berjuang Sendiri Rawat Keluarga Lumpuh
Keempat, nasib buruh tani. Mahasiswa meminta pemerintah menjaga stabilitas harga gabah serta menjamin ketersediaan pupuk di tengah laju industrialisasi.
Kelima, solusi putus sekolah. Mahasiswa mendesak pemerintah daerah transparan dan menghadirkan solusi nyata atas tingginya angka putus sekolah.
Keenam, demiliterisasi sipil. Mahasiswa menolak segala bentuk keterlibatan militer dalam ruang pendidikan maupun urusan sipil.
Ketujuh, stop kriminalisasi. Mahasiswa mendesak penghentian kriminalisasi terhadap aktivis dan pembebasan warga yang ditahan saat menyuarakan aspirasi.
Baca Juga: Kasus Keracunan MBG di Karawang, Pakar: Penyedia Makanan Bisa Dipidana
Tiga anggota DPRD Karawang yang hadir malam itu menyatakan menerima seluruh aspirasi mahasiswa untuk ditindaklanjuti dan dibawa ke pembahasan tingkat eksekutif.
Bagi mahasiswa, penerimaan aspirasi secara terbuka di pelataran gedung DPRD menjadi simbol bahwa suara rakyat tak lagi bisa dibatasi sekat formalitas ruang rapat.
Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis Jadi Berkah UMKM Karawang, Produksi Tahu-Tempe Naik 6 Kali Lipat
Dialog malam itu memang berakhir dengan jabat tangan. Namun bagi mahasiswa, pengawalan terhadap tujuh tuntutan tersebut baru saja dimulai.
Mereka memastikan, gerakan tidak berhenti di pelataran gedung dewan. Mahasiswa menegaskan akan terus mengawal kebijakan hingga perubahan benar-benar dirasakan masyarakat Karawang. ***




