POJOKSATU.ID - Ketika Kerajaan Sunda masih berjaya, daerah Karawang yang kini ditumbuhi beton-beton, dulunya ternyata didominasi hutan belantara yang dikelilingi rawa.

Kabarnya, nama Karawang berdasarkan kondisi saat itu yang dikelilingi rawa dan diambil dalam bahasa Sunda Ka-Rawa-an yang artinya daerah berawa-rawa.

Bukti lain yang menunjukkan daerah Karawang didominasi oleh rawa adalah terdapat banyak daerah yang penamaannya diawali kata rawa, seperti Rawamerta, Rawasari, Rawasikut, Rawabagus, Rawagede, Rawagempol, dan masih banyak lagi.

Baca Juga: Usai Bobol Rekening Dormant BNI Rp 204 Miliar, Ternyata Pelaku Belum Sempat Menikmati Hasilnya, Karena Alasan Ini

Meski didominasi oleh hutan belantara dan dikelilingi rawa-rawa, Karawang merupakan jalur strategis saat zaman Kerajaan Sunda.

Karawang jadi jalur penghubung antara Kerajaan Pajajaran di Bogor dan Kerajaan Galuh Pakuan di Ciamis.

Mengutip laman resmi Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Karawang, ada juga yang menyebut Karawang berasal dari kata Caravan, yang artinya pelabuhan penting di Sungai Citarum milik Kerajaan Pajajaran di era Portugis.

Baca Juga: Lagi-lagi Siswa Keracunan MBG, 30 Siswa SDN Taruna Bakti Cianjur Tumbang, Puskesmas Langsung Turun Tangan

Namun, ketika zaman kolonialisme sekitar tahun 1870, Belanda membuat Undang-Undang Agraria yang menyatakan selain tanah adat, lahan tersebut dikuasai negara.

Sehingga Pemerintah Kolonial Belanda punya kekuasaan untuk menyewakan tanah kepada pihak swasta dan mereka mulai menggarap sawah.

Hampir semua masyarakat Karawang, dulunya bekerja sebagai petani di lahan yang disewakan kepada pihak swasta.

Baca Juga: Harga Tiket Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Bikin Kaget, Mulai Rp30 Ribuan

Hingga akhirnya, para petani yang bekerja di area sawah tersebut mendapat kepemilikan lahan setelah Indonesia merdeka.

Di era Soekarno, Karawang sudah direncanakan akan dijadikan sebagai lumbung padi nasional.

Bukan sekadar sawahnya yang luas, sumber air dari Citarum yang melimpah membuat daerah Karawang jadi lokasi strategis untuk menanam padi.

Baca Juga: Polisi Bongkar Jaringan Sindikat Pembobol Bank dengan Target Kacab Ilham Pradipta, Uang Senilai Rp 204 Miliar Digelar

Sampai di masa Orde Baru, Soeharto melakukan investasi besar-besaran di sektor pertanian.

Dalam program Revolusi Hijau, Karawang jadi salah satu daerah yang ditunjuk untuk meningkatkan produksi pertanian di Indonesia.

Program tersebut ternyata berhasil dilakukan di Karawang, bahkan puncak produksinya pernah mencapai 25,8 juta ton.

Baca Juga: 3 iPad Terbaik di Bawah Rp7 Juta untuk Mahasiswa DKV Tahun 2025

Saking banyaknya produksi beras dari Karawang, bukan hanya kebutuhan dalam negeri yang tercukupi, tapi juga berhasil ekspor ke negara tetangga hingga sampai Pakistan.

Baru saja berjaya menjadi lumbung padi nasional, kawasan agraris Karawang harus terhenti di akhir tahun 80-an.

Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden yang meminta dilakukan pembebasan lahan ratusan hektare untuk dikembangkan menjadi kawasan industri.

Baca Juga: ICW Desak Program MBG Dihentikan Sementara, Cak Imin Tegaskan Tetap Jalan

Sejak saat itu hingga pasca Reformasi, wajah Karawang telah banyak berubah, hamparan padi yang hijau dalam sekejap berubah menjadi beton-beton yang menancap ke dasar bumi.

Perlahan tapi pasti, sawah di Karawang sudah mulai berkurang dan kawasan industri semakin banyak, hingga 2025 ini ada belasan kawasan industri dibangun dengan jumlah pabrik lebih dari 1.500.

Kini, Karawang bukan sekadar kota industri, tapi surga bagi perantau mengadu nasib dan membangun kehidupan di tempat baru.***