POJOKSATU.id, KARAWANG — Senin 2 Juni 2025 mata Andri Yanto tampak berkaca-kaca saat namanya dipanggil di tengah prosesi pelantikan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Plaza Pemda Karawang. Di antara ratusan wajah penuh harapan yang hadir pagi itu, langkah Andri terasa begitu ringan, namun sarat makna. Bagi pria sederhana ini, hari itu bukan sekadar seremoni pelantikan — melainkan wujud nyata dari doa panjang dan kerja keras yang tak pernah putus.
Lahir dari keluarga sederhana di pelosok Karawang, Andri mengenal pendidikan sebagai jalan untuk mengubah nasib. Ayahnya seorang buruh tani, sementara ibunya mengurus rumah tangga dengan penuh cinta. Dalam segala keterbatasan, orangtuanya selalu berpesan: “Jadilah orang yang bermanfaat untuk sesama.” Pesan itu tertanam kuat dalam hati Andri, menjadikannya kompas dalam meniti jalan hidup sebagai pendidik.
Kini, impian masa kecil itu menjelma nyata. Ia dilantik sebagai guru PPPK dan akan mengabdi di salah satu sekolah dasar di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Karawang.
“Pelantikan ini saya persembahkan untuk kedua orangtua saya. Mereka yang selalu ada dalam setiap langkah, yang mendidik saya dengan cinta dan doa,” ujar Andri, suaranya bergetar menahan haru.
Di balik seragam yang rapi dan senyum ramahnya, Andri menyimpan segudang cerita tentang perjuangan. Ia pernah mengajar di daerah terpencil dengan fasilitas minim. Pernah pula menempuh jarak puluhan kilometer hanya demi bisa menyapa siswanya di ruang kelas. Tapi tak pernah sekalipun ia mengeluh.
“Mengajar bukan hanya soal kurikulum. Ini soal membentuk masa depan. Setiap anak yang saya ajar, adalah harapan baru bagi bangsa ini,” ujarnya tulus.
Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh, SE yang memimpin langsung pelantikan, turut memberikan pesan inspiratif kepada para PPPK yang baru saja diangkat.
“Saya bangga atas dedikasi kalian semua. Jadilah ASN yang bekerja dengan hati, melayani dengan semangat, dan membawa perubahan nyata untuk masyarakat,” ucap Bupati dalam pidatonya.
Pelantikan PPPK formasi 2024 ini bukan hanya soal pengisian posisi kosong di birokrasi. Ini adalah langkah strategis untuk memperkuat kualitas layanan publik — termasuk pendidikan. Tapi di balik angka dan data, ada kisah-kisah seperti milik Andri Yanto. Kisah tentang mimpi yang terus hidup, tentang pengabdian yang tulus, dan tentang bagaimana seorang anak desa menjawab panggilan zaman dengan menjadi guru. ***




