POJOKSATU.id, JEMBER – Gelaran Jember Job Fair 2026 yang baru saja usai pada Kamis (27/8/2026), mendapatkan sambutan yang sangat antusias dari masyarakat.

Tercatat sekitar 4.800 pencari kerja memadati lokasi acara yang diselenggarakan di Gedung Balai Serba Guna, Kaliwates, Kabupaten Jember.

Bursa kerja berskala daerah ini sukses memfasilitasi kehadiran 59 perusahaan ternama dari berbagai sektor industri untuk menjaring talenta-talenta lokal yang berkualitas.

Baca Juga: Pameran Rumah Impian Vol. IV Dibuka di Garut, Ada Kabar Baik soal BPHTB Rumah Subsidi

Ribuan lowongan yang disediakan dalam acara ini diharapkan dapat menjadi jembatan pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) perusahaan sekaligus menekan angka pengangguran di Jember dan sekitarnya.

Menanggapi animo pencari kerja yang begitu besar, Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Jember, Hadi Mulyono, turut angkat bicara mengenai kondisi ketenagakerjaan di wilayahnya.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Jember menunjukkan tren positif di angka 3,06 persen.

Baca Juga: Indramayu Reang Bergerak Cepat, Mulai Lumbung Pangan Nasional Hingga Kawasan Industri

“Tingkat pengangguran terbuka alhamdulillah dirilis BPS kemarin Jember 3,06 (persen). Dan itu angka yang turun dibanding tahun sebelumnya, dan lebih rendah dari tingkat provinsi Jawa Timur maupun tingkat nasional,” ungkap Hadi saat dikonfirmasi, Jumat, (28/8/2026).

Meski TPT mengalami penurunan, Hadi mengakui bahwa tantangan menekan angka pengangguran masih besar lantaran jumlah usia kerja di Jember yang mencapai hampir 2,7 juta jiwa, dengan jumlah angkatan kerja sebesar 1,5 juta jiwa.

Tingginya populasi ini menciptakan kesenjangan (gap) antara ketersediaan lapangan pekerjaan dengan jumlah lulusan sekolah maupun perguruan tinggi.

Baca Juga: Korban Demo 27 Agustus 2026, Massa Tak Jelas Bakar 2 Motor 1 Pos Polisi, 7 Mobil Dirusak

"Yang perlu kita evaluasi sekarang ada gap ataupun kesenjangan. Artinya jumlah tenaga kerja dengan kesempatan peluang kerja, itu ada gap yang ada kesenjangan lah. Banyak pekerja yang nggak sesuai dengan kompetensinya," bebernya lebih lanjut.

Hadi menjelaskan bahwa ketiadaan akses informasi yang transparan seringkali memaksa para angkatan kerja, termasuk sekitar 14.000 lulusan SMK setiap tahunnya di Jember, bekerja di luar bidang keahliannya.

Oleh karena itu, ia menepis anggapan yang kerap beredar di media sosial bahwa ajang bursa kerja ini hanya sebagai formalitas.

“Jangan diartikan bahwa job fair ini formalitas. Satu, semangatnya memang membuka ruang lowongan kerja. Yang kedua, yang nggak kalah pentingnya, para pencari pekerja mendapatkan informasi lowongan kerja macam-macam dari perusahaan,” tegas Hadi dengan gamblang.

Selain memfasilitasi pertemuan tatap muka, para pencari kerja juga diberikan kemudahan berupa akses formulir digital dari perusahaan yang terintegrasi secara daring.

Baca Juga: Uji Coba LRT Rute Kelapa Gading-Manggarai, Tarifnya Hanya Rp 8 Saja, Murah Banget

Lebih dari itu, guna semakin membuka ruang kompetensi secara lebih luas, Disnaker juga terus mensosialisasikan beberapa program pendukung dari pemerintah pusat kepada para lulusan baru.

Yang pertama ada Program Magang Nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) agar peserta mendapatkan informasi dan pengalaman.

Kemudian yang kedua ada Program SMK Go Global yang dikelola melalui Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) yang juga sudah mulai digulirkan. ***