POJOKSATU.id, JEMBER – Sebagai salah satu garda terdepan pelayanan medis di kawasan perkotaan yang padat penduduk jelas bukan urusan sepele bagi jajaran Puskesmas Patrang.
Kepala Puskesmas Patrang, dr. Gurid Anggridiaksha, membeberkan bahwa fasilitas kesehatannya harus memikul tanggung jawab besar untuk melayani sekitar 72 ribu jiwa.
Puluhan ribu warga yang kesehatannya dipantau ketat tersebut tersebar di tiga wilayah strategis yakni Kelurahan Jember Lor, Patrang, dan Gebang.
Baca Juga: Festival Adu Layangan Bupati Cup Purwakarta Diserbu Peserta dari Jatim, DKI Jakarta hingga Banten
Dengan kepadatan populasi sebesar itu, dr. Gurid mengakui ragam keluhan penyakit yang datang sangat bervariasi setiap harinya.
Penyakit seperti diare dan batuk pilek mendominasi pasien kalangan balita, sementara pasien lansia banyak yang berobat karena diabetes, darah tinggi, hingga katarak.
Untuk menyiasati membludaknya antrean pasien berobat jalan, pihahnya kini memaksimalkan fungsi Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) di tiap lingkungan warga.
Baca Juga: Temuan LHP BPK di DPUTR Purwakarta Capai Milyaran, Ada Potensi Korupsi APH Harus Bergerak Cepat
Lewat Posyandu gaya baru ini, pelayanan skrining kesehatan tak lagi cuma buat ibu hamil dan balita, tapi sudah mencakup seluruh kelompok usia hingga lansia.
Tak hanya itu, fasilitas di Puskesmas Patrang sendiri kini sudah disulap makin komplet dengan kehadiran IGD dan ruang persalinan yang siaga 24 jam penuh.
"Selain pelayanan yang rawat jalan, kita juga ada pelayanan yang gawat darurat juga ada IGD 24 jam, kita juga melayani persalinan 24 jam," ungkap dr. Gurid, Senin, (13/7/2026).
Baca Juga: Profil Universitas YPIB Majalengka, Kampus Swasta dengan Tiga Fakultas dan Fasilitas Modern
Bahkan, bagi pasien gawat yang kondisinya butuh observasi medis lanjutan, pihak puskesmas telah menyediakan fasilitas rawat inap dengan kapasitas enam tempat tidur.
Hebatnya lagi, pelayanan dari puskesmas ini tidak hanya sebatas pasif menunggu pasien datang di klinik, melainkan aktif turun gunung melakukan sistem jemput bola.
Tim medis rutin mendatangi rumah-rumah kelompok masyarakat rentan yang kondisinya kesulitan untuk berangkat menjangkau fasilitas kesehatan secara mandiri.
"Pertama untuk disabilitas ada 250, lansianya yang khusus ada 167, lalu tokoh agama ada sekitar 24 orang," ungkap dr. Gurid merinci data warga pantauannya.
Saat melakukan kunjungan tersebut, petugas akan langsung memberikan surat rujukan ke rumah sakit jika menemukan pasien yang butuh penanganan serius.
Baca Juga: Evaluasi Kinerja Triwulan I, Komisi III DPRD Jabar Dorong Bank BJB Perkuat Kontribusi Ekonomi Daerah
Semua kerja keras dan inovasi pelayanan ini rupanya berbuah sangat manis, terutama dalam menekan Angka Kematian Ibu (AKI) di wilayah Patrang.
Berkat pemeriksaan kehamilan yang intens serta pantauan masa nifas hingga 42 hari pasca-melahirkan, rekor kematian ibu di Patrang sukses bertahan di angka nol.
"Alhamdulillah kematian ibu kita nol, 2025 nol, 2026 sampai update bulan Juli ini masih nol," pungkas dr. Gurid. ***



