POJOKSATU.id, JEMBER – Perusahaan Daerah Perkebunan (PP) Kahyangan terus memperkuat bisnisnya di sektor komoditas kopi robusta.
Langkah strategis ini menjadi salah satu penopang utama pendapatan perusahaan selain dari sektor karet.
PP Kahyangan kini tidak lagi hanya bertumpu pada penjualan biji kopi mentah atau "green bean".
Baca Juga: Mendikdasmen Tegaskan Belum Ada Keputusan Kantin Sekolah Kelola Program MBG
Strategi pengembangan kini sengaja diarahkan pada produk olahan bernilai tambah untuk memperluas jangkauan pasar.
Direktur Produksi, Pemasaran, dan Pengembangan PDP Kahyangan, Nyoman Aribowo menyebut kopi robusta kini diproyeksikan sebagai identitas baru dari produk unggulan perusahaan.
"Memang perusahaan kita ini selain mengandalkan karet sebagai komoditi utama, kita juga ditopang dengan adanya hasil tanaman kopi," ujar Nyoman, Senin, 6 Juli 2026.
Baca Juga: Farhan Sedih 90 Calon Siswa Didiskualifikasi SPMB, Modusnya KK hingga Sertifikat Palsu
Nyoman menekankan bahwa jaminan kualitas kopi bercita rasa khas tidak dibangun secara instan.
Kualitas terbaik tersebut wajib dirancang dengan matang sejak tahap awal budidaya hingga pengolahan pascaproduksi.
Manajemen memberikan perhatian penuh terhadap tata kelola kebun demi menghasilkan buah kopi yang unggul.
Ke depannya, PDP Kahyangan akan meluncurkan berbagai varian rasa kopi mulai dari kelas reguler hingga produk premium.
Hingga saat ini, PP Kahyangan tercatat aktif mengelola lima lokasi perkebunan besar di Jember.
Kelima wilayah tersebut tersebar di Sumber Pandan, Sumber Tenggulun, Gunung Pasang, Sumber Wadung, dan Kali Mrawan.
Dari total lima kebun tersebut, basis produksi kopi terbesar berada di wilayah Sumber Pandan dan Gunung Pasang.
Sementara untuk lahan kebun sisanya masih didominasi oleh tanaman komoditas karet.
Baca Juga: Apa Saja Keseruan Nonton Kecak Uluwatu? Pesan Tiketnya Praktis di SatuSatu!
Rangkaian panen raya kopi di lahan milik PP Kahyangan berlangsung secara musiman. Periode panen ini rutin berjalan mulai dari bulan Mei hingga September setiap tahunnya.
Pada masa panen tersebut, kapasitas produksi harian kebun mampu menyentuh angka satu hingga 1,5 ton buah kopi.
Dengan total luas lahan mencapai 300 hektare lebih, total akumulasi panen diproyeksikan mampu menembus lebih dari 100 ton kopi.
Baca Juga: Keren! Siswa SMAN 1 Karawang Raih Juara O2SN Jabar dan Cheerleader Tingkat Nasional
Demi menjaga mutu, manajemen menerapkan standar panen ketat dengan sistem petik merah.
Langkah disiplin ini diambil karena buah hasil petik merah memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi di pasaran.
Harga jual biji kopi hasil petik merah murni diketahui mampu mencapai kisaran Rp70 ribu per kilogram.
Baca Juga: Menko Infrastruktur AHY Dilaporkan ke KPK, Alami Lonjakan Harta Signifikan
Nilai tersebut terpaut jauh dibanding kopi hasil panen campuran acak yang hanya dihargai Rp55 ribu per kilogram.
Guna mendongkrak produktivitas secara berkala, PDP Kahyangan juga merombak total pola budidaya tanaman kopi mereka.
Skema tumpang sari bersama pohon karet kini mulai ditinggalkan dan diganti dengan sistem monokultur.
Pilihan metode monokultur pada lahan khusus ini diambil karena faktor biologis tanaman perkebunan.
Pohon karet yang sudah dewasa dinilai kerap menghalangi masuknya sinar matahari sehingga menurunkan tingkat kesuburan pohon kopi.
Nyoman menyebut, kuncinya sekarang adalah intensifikasi budidaya.
Baca Juga: Mendikdasmen Tegaskan Belum Ada Keputusan Kantin Sekolah Kelola Program MBG
"Dulu kami menggunakan sistem tumpang sari, tetapi ketika tanaman karet sudah besar, tajuknya menutup cahaya matahari," kata dia.
"Karena itu sekarang kami fokus menggunakan sistem monokultur agar produktivitas kopi di lahan khusus bisa lebih optimal," imbuhnya
Nyoman menambahkan bahwa serapan pasar terhadap produk kopi robusta olahan PP Kahyangan sejauh ini sudah sangat positif.
Baca Juga: Aktivitas Vulkanik Gunung Anak Krakatau Belum Stabil, Statusnya Masih Berada di Level III
Karena itu, tantangan terbesar bagi perusahaan saat ini adalah pemenuhan kuota suplai barang.
Fokus utama korporasi kini dialihkan sepenuhnya untuk menggenjot kapasitas produksi secara massal.
Strategi ini dijalankan demi menjawab tingginya permintaan pasar global yang terus bertumbuh tanpa sedikit pun menurunkan kualitas rasa.***



