POJOKSATU.id - Bank sentral Jepang atau Bank of Japan (BoJ) kembali membuat langkah besar dalam kebijakan moneternya.
Pada Selasa,16 Juni 2026, BoJ memutuskan menaikkan suku bunga acuan menjadi 1 persen dari sebelumnya 0,75 persen.
Kebijakan ini membawa biaya pinjaman di Jepang ke level tertinggi dalam 31 tahun terakhir atau sejak 1995.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya BoJ menormalisasi kebijakan moneter sekaligus mengendalikan tekanan inflasi yang dipicu lonjakan harga energi akibat konflik Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: Honor X80 Pro Max Meluncur 22 Juni, Bawa Baterai Raksasa 11.000 mAh dan Fast Charging 90W
Kenaikan ini menjadi yang pertama sepanjang 2026 setelah terakhir kali BoJ menaikkan suku bunga pada Desember 2025.
Kebijakan tersebut juga menandai keselarasan Jepang dengan sejumlah bank sentral dunia yang masih mempertahankan sikap ketat terhadap inflasi.
Dalam pernyataan resminya, BoJ mengakui bahwa konflik di Timur Tengah sempat meningkatkan risiko terhadap perekonomian Jepang yang selama ini sangat bergantung pada impor energi.
Meski demikian, dampak tersebut dinilai mulai berkurang berkat berbagai langkah pemerintah Jepang dalam membantu rumah tangga menghadapi kenaikan harga bahan bakar serta upaya diversifikasi sumber energi.
BoJ menilai risiko inflasi masih perlu diwaspadai karena perusahaan-perusahaan mulai meneruskan kenaikan biaya energi ke harga barang dan jasa dengan kecepatan yang cukup tinggi.
"Mempertimbangkan bahwa ekspektasi inflasi jangka menengah dan panjang juga terus meningkat, ada risiko inflasi yang mendasarinya menyimpang di atas target harga kami," demikian pernyataan BoJ.
Diputuskan dengan Suara Mayoritas
Keputusan menaikkan suku bunga disetujui dengan hasil voting 7 banding 1.
Baca Juga: Namanya Dicatut, Tiga BEM di Jakarta Bantah Terlibat Konferensi Pers Aliansi Mahasiswa BEM Bersatu
Menariknya, Gubernur BoJ Kazuo Ueda tidak ikut memberikan suara karena sedang menjalani perawatan di rumah sakit akibat infeksi kista hati.
Satu-satunya suara berbeda datang dari Toichiro Asada yang baru bergabung dengan dewan BoJ pada April lalu.
Ia menilai risiko inflasi lebih besar dibandingkan risiko perlambatan ekonomi akibat konflik Timur Tengah.
Pasar Langsung Bereaksi Positif
Keputusan BoJ langsung mendapat respons dari pasar keuangan Jepang.
Baca Juga: Beasiswa Pra-Doktoral 2026 Ditutup 30 Juni, Dosen Bisa Daftar di Link Resmi Ini
Indeks Nikkei 225 melonjak sekitar 1 persen dan mencetak rekor tertinggi baru.
Sementara itu, nilai tukar yen menguat terhadap dolar Amerika Serikat dan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik menjadi 2,61 persen.
Penguatan pasar tersebut menunjukkan investor menilai langkah BoJ masih dilakukan secara terukur dan tidak terlalu agresif.
Kepala Strategi FX SMBC, Hirofumi Suzuki, mengatakan pasar sebelumnya sempat berspekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga hingga 50 basis poin.
Baca Juga: Pendaftaran KIP Kuliah 2026 Jalur Mandiri Dibuka, Ini Syarat, Jadwal, dan Cara Daftarnya
Namun karena BoJ hanya menaikkan sebesar 25 basis poin, pasar melihat peluang kenaikan tajam dalam waktu dekat relatif kecil.
"BOJ kemungkinan akan terus menaikkan suku bunga secara bertahap sekitar setiap enam bulan sekali hingga satu tahun," ujar Suzuki.
BoJ Hentikan Pengurangan Obligasi Mulai 2027
Selain menaikkan suku bunga, BoJ juga mengumumkan perubahan kebijakan terkait pembelian obligasi pemerintah Jepang.
Bank sentral memutuskan menghentikan program pengurangan kepemilikan obligasi mulai April 2027 dan tetap membeli sekitar 2 triliun yen obligasi pemerintah Jepang setiap bulan.
Kebijakan ini menunjukkan BoJ masih berhati-hati dalam menarik stimulus moneter agar tidak mengganggu stabilitas pasar keuangan.
Sorotan Tertuju pada Wakil Gubernur BoJ
Setelah absennya Kazuo Ueda, perhatian pelaku pasar kini tertuju kepada Wakil Gubernur BoJ Shinichi Uchida yang akan memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter Jepang ke depan.
Para ekonom memperkirakan BoJ akan tetap mempertahankan pendekatan bertahap dalam menaikkan suku bunga.
Ekonom Senior Sompo Institute Plus, Masato Koike, menilai BoJ kemungkinan akan menyampaikan nada yang cenderung hawkish, namun tetap menghindari komitmen yang terlalu tegas mengenai jadwal kenaikan berikutnya.
Inflasi Masih Jadi Tantangan
Meski kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran telah membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga energi global, BoJ tetap melihat ancaman inflasi sebagai tantangan utama.
Analis memperkirakan inflasi inti Jepang berpotensi kembali melampaui target 2 persen pada akhir tahun ini setelah sebelumnya tertahan oleh program subsidi pemerintah untuk menekan biaya utilitas.
Karena itu, banyak ekonom memperkirakan BoJ masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga pada kuartal IV 2026 menjadi sekitar 1,25 persen apabila tekanan harga terus meningkat.
Baca Juga: Bupati Aep dan Dandim Karawang Kepincut Lezatnya Sambel Bledagz Telagasari
Langkah Bank of Japan menunjukkan bahwa menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga bukan perkara mudah.
Di tengah ketidakpastian global, setiap keputusan bank sentral menjadi penentu arah ekonomi ke depan.
Bagi Jepang, kenaikan suku bunga ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal bahwa era kebijakan ultra-longgar perlahan mulai ditinggalkan demi menjaga ketahanan ekonomi dalam jangka panjang.***

