POJOKSATU.id - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan pernyataan keras usai dikabarkan tersingkir dari pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Netanyahu menegaskan Israel tetap bebas melakukan serangan terhadap negara-negara yang dianggap menjadi ancaman, termasuk Iran dan Lebanon.
Pernyataan itu disampaikan Netanyahu dalam percakapan telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu, 24 Mei 2026.
Pembicaraan keduanya berlangsung di tengah proses negosiasi antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.
Sumber politik Israel menyebut Netanyahu menekankan bahwa negaranya tidak akan kehilangan kebebasan bertindak demi menjaga keamanan nasional.
“Dalam percakapan tadi malam dengan Presiden Trump, Perdana Menteri menekankan bahwa Israel akan mempertahankan kebebasan bertindak terhadap ancaman di semua arena, termasuk Lebanon,” demikian pernyataan sumber politik Israel yang dikutip Reuters.
Baca Juga: Biaya Kuliah Jalur Mandiri Unpad 2026 Resmi Dirilis, Kedokteran Tembus Rp195 Juta
Trump disebut mendukung prinsip tersebut dan kembali menegaskan komitmen Amerika Serikat terhadap keamanan Israel.
Di sisi lain, Trump juga dikabarkan memberikan pembaruan terkait negosiasi AS dengan Iran.
Pemerintah AS disebut tetap menuntut pembongkaran program nuklir Iran serta pemindahan seluruh uranium yang diperkaya dari wilayah negara tersebut.
“Dan bahwa dia tidak akan menandatangani perjanjian akhir tanpa terpenuhinya syarat-syarat ini,” kata sumber tersebut.
Baca Juga: Gaji ke-13 Pensiunan ASN Cair Mulai 2 Juni 2026, Taspen Pastikan Langsung Masuk Tanpa Pengajuan
Namun situasi ini justru memunculkan spekulasi baru mengenai hubungan Trump dan Netanyahu. Sebelumnya, sejumlah pejabat pertahanan Israel mengungkap bahwa Netanyahu mulai disingkirkan dari proses negosiasi damai dengan Iran.
Menurut para pejabat itu, posisi Netanyahu di mata Trump berubah drastis setelah operasi gabungan AS-Israel gagal menghancurkan Iran secara total.
Jika sebelumnya Netanyahu dianggap mitra strategis utama, kini ia disebut hanya menjadi “penumpang” dalam arah kebijakan Washington.
Baca Juga: Pendaftaran Beasiswa BCA Finance 2026 Dibuka hingga 21 Juni, Cek Syarat dan Cara Daftarnya
Kondisi tersebut membuat Israel disebut harus mencari informasi sendiri terkait komunikasi antara AS dan Iran.
Mereka mengandalkan jaringan diplomat Timur Tengah hingga pengawasan internal terhadap Iran.
Israel juga khawatir Amerika Serikat akan melunak terhadap Teheran.
Salah satu kekhawatiran terbesar Tel Aviv adalah kemungkinan pencabutan sanksi ekonomi Iran sebagai bagian dari kesepakatan damai.
Baca Juga: Universitas Stikubank Semarang Perkuat Reputasi sebagai Kampus Digital Berjiwa Entrepreneur
Jika itu terjadi, Israel menilai Iran berpotensi kembali memperkuat persenjataan militernya dan menjadi ancaman lebih besar di kawasan.
Kekhawatiran lainnya muncul karena pembicaraan damai terbaru disebut tidak terlalu menyoroti program rudal balistik Iran.
Padahal isu tersebut selama ini menjadi salah satu kritik utama Netanyahu terhadap kesepakatan nuklir Iran tahun 2015.
Baca Juga: Mantan Bupati Purwakarta Penuhi Panggilan Kejari soal Dugaan Gratifikasi Mobil Mewah
Sementara itu, Trump dalam kesempatan terpisah menyebut Amerika Serikat dan Iran kini “sebagian besar” sudah menegosiasikan nota kesepahaman terkait perdamaian dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Ketegangan sendiri terus meningkat sejak serangan besar-besaran AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
Teheran langsung membalas pada hari yang sama dengan menyerang aset militer AS di negara Teluk serta wilayah Israel.
Baca Juga: Wagub Jabar Berharap Persib Bandung Bisa Ukir Prestasi di Kancah Internasional
Situasi panas ini membuat dunia kembali menyoroti potensi perang besar di Timur Tengah yang bisa meluas sewaktu-waktu.
Apalagi hubungan AS, Israel, dan Iran kini terlihat semakin rumit dengan kepentingan masing-masing yang terus berbenturan.
Di tengah ancaman perang dan negosiasi yang penuh tarik ulur, rakyat sipil lagi-lagi menjadi pihak yang paling dihantui ketidakpastian.
Dunia kini hanya bisa berharap konflik besar tidak kembali pecah dan menyeret lebih banyak korban di kawasan Timur Tengah yang sejak lama tak benar-benar tenang.***

