POJOKSATU.id,-- Dana Moneter Internasional atau IMF mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi resesi global akibat eskalasi perang di Iran.

Dalam laporan terbarunya, International Monetary Fund (IMF) menyebutkan bahwa dampak ekonomi dari konflik di Timur Tengah terus meningkat dan dapat menyeret pertumbuhan dunia ke titik kritis.

Lembaga yang berbasis di Washington tersebut memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2026.

Inggris diprediksi akan menjadi negara G7 yang mengalami dampak paling parah dengan penurunan proyeksi pertumbuhan yang tajam serta tingkat inflasi yang tinggi.

Baca Juga: Makin Tegang, Iran Balas Amerika, Ancam Blokade Teluk Persia Jika Blokade Selat Hormuz Berlanjut

Dalam pembaruan laporan ekonomi setengah tahunan (World Economic Outlook), IMF memaparkan tiga skenario utama terkait dampak perang tersebut:

-Skenario Referensi: Berdasarkan asumsi bahwa gangguan terhadap ekonomi dunia akibat perang mereda pada pertengahan 2026, pertumbuhan global diprediksi turun menjadi 3,1%.

-Skenario Buruk (Adverse Scenario): Harga minyak tetap bertahan di kisaran 100 dollar AS per barel sepanjang tahun ini sebelum turun menjadi 75 dollar AS pada 2027.

Baca Juga: Trump Klaim Iran dalam Posisi Tertekan dan Cenderung Ingin Capai Kesepakatan dengan AS

-Skenario Parah (Severe Scenario): Perang berlangsung intens dan berkepanjangan dengan harga minyak di atas 110 dollar AS hingga 2027, di mana pertumbuhan global diprediksi anjlok ke angka 2%.

Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas menyatakan kekhawatiran terhadap situasi pasar energi saat ini.

"Tentu saja setiap hari yang berlalu, dan setiap hari kita mengalami lebih banyak gangguan di pasar energi, kita semakin hanyut menuju skenario buruk," kata Pierre-Olivier Gourinchas, dikutip dari The Guardian, Rabu (15/4/2026).***