POJOKSATU.id,-- Suasana di Timur Tengah makin tegang usai Iran mengancam akan memblokade Teluk Persia, Laut Merah dan Laut Oman, sebagai balasan atas blokade AS di Selat Hormuz.

Kepala pusat komando militer Iran Ali Abdollahi dilansir AFP, Rabu (15/4/2026) mengatakan, Angkatan Bersenjata Iran tidak akan mengizinkan ekspor atau impor apa pun untuk berlanjut di Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah, jika blokade Selat Hormuz berlanjut.

Dia menegaskan, jika AS melanjutkan blokade dan menciptakan ketidakamanan bagi kapal dagang dan tanker minyak Iran, itu akan menjadi gerbang melanggar gencatan senjata.

Baca Juga: Trump Klaim Iran dalam Posisi Tertekan dan Cenderung Ingin Capai Kesepakatan dengan AS

Teheran sendiri menginginkan terjadinya dialog perdamaian yang imbang, dengan tidak memberikan tuntutan syarat yang tidak masuk akal.

Dikutip dari Al Jazeera, Rabu (15/4/2026), Presiden Iran Pezeshkian mengatakan negaranya tidak mencari perang melainkan dialog.

Dan seperti apa pun upaya AS untuk memaksakan kehendaknya atau memaksa Iran untuk menyerah akan gagal.

“Apa pembenaran yang ada dengan menargetkan warga sipil, elit, anak-anak, dan menghancurkan pusat-pusat vital, termasuk sekolah dan rumah sakit, dalam kerangka hukum internasional dan prinsip-prinsip kemanusiaan?” tambah Pezeshkian.

Baca Juga: SBY Wanti-Wanti Dampak Perang AS-Iran, Sebut Ekonomi Dunia Bisa Berantakan Jika Konflik Tak Segera Berhenti

Diketahui, Presiden AS Donald Trump memerintahkan militernya untuk memblokade selat Hormuz mulai Senin (13/4/2026).

Hal itu dilakukan untuk memberikan tekanan ekonomi tambahan pada Iran dengan memutus salah satu sumber pendapatan yang tersisa.

Blokade tersebut berlaku untuk kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman.***