POJOKSATU.id,-- Angin segar seolah kembali muncul dari konflik Timur Tengah antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Keduanya akan lanjut ke meja perundingan pada putaran kedua di Islamabad.
Seorang sumber yang terlibat dalam pembicaraan itu mengungkap, sebuah proposal telah dikirim ke AS dan Iran agar delegasi dari kedua pihak kembali ke Islamabad untuk memulai kembali perundingan.
Baca Juga: Tiga Kapal Tanker Minyak Lewati Selat Hormuz Usai Diblokade Trump, Salah Satunya Kapal China
”Putaran perundingan berikutnya bisa dalam akhir pekan ini atau awal pekan depan. Namun, belum ada yang final sampai sekarang,” kata seorang pejabat Kedutaan Besar Iran di Islamabad dengan syarat anonim, Selasa (14/4).
Seorang pejabat senior Pakistan mengatakan, Islamabad telah mengontak Iran dan mendapat respons positif bahwa mereka terbuka untuk perundingagn putaran kedua.
Pejabat tersebut, serta sumber lain di Pakistan, mengungkapkan, mereka berkomunikasi dengan AS dan Iran tentang waktu pelaksanaan putaran kedua.
Tim negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan akan kembali melanjutkan pembicaraan di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan ini.
Baca Juga: Jemaah Haji Berangkat Perdana 22 April 2026, Kenaikan Ongkos Haji Ditanggung Pemerintah
Rencana pertemuan tersebut muncul hanya beberapa hari setelah dialog tingkat tinggi kedua negara berakhir tanpa mencapai terobosan.
Meski demikian, jadwal pasti pertemuan belum ditetapkan. Namun, kedua pihak disebut memiliki opsi untuk kembali bertemu paling cepat pada 17–19 April 2026.
“Delegasi masih mempertimbangkan tanggal 17 April hingga 19 April,” ujar seorang pejabat senior Iran, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (14/4/2026).
Sumber yang terlibat menyebutkan bahwa Pakistan telah menyampaikan undangan kepada kedua pihak untuk melanjutkan pembicaraan.
Islamabad juga disebut terus berkomunikasi dengan Washington dan Teheran terkait penentuan waktu putaran selanjutnya.
“Kami telah menghubungi Iran dan mendapat respons positif bahwa mereka terbuka untuk putaran pembicaraan kedua,” kata seorang pejabat senior pemerintah Pakistan, dikutip dari The Straits Times.
Hingga kini, Kementerian Luar Negeri Pakistan, militer, dan kantor perdana menteri belum memberikan tanggapan resmi. Gedung Putih juga belum mengeluarkan pernyataan.***

