POJOKSATU.ID - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah muncul klaim kontroversial dari Presiden AS Donald Trump.
Ia menyebut bahwa Iran telah meminta gencatan senjata di tengah konflik yang terus berkecamuk. Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah tegas oleh pihak Teheran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, memastikan bahwa klaim Trump tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Baca Juga: WFH Bukan Nongkrong! ASN Jakarta yang Kerja dari Kafe Terancam Sanksi, ini Kata Pramono Anung
Ia menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada permintaan resmi dari Iran untuk menghentikan konflik.
“Pernyataan Trump tentang permintaan gencatan senjata dari Iran adalah salah dan tidak berdasar,” tegas Baqaei, Kamis (2/4/2026).
Iran juga memastikan tidak ada proses negosiasi yang sedang berlangsung dengan pihak mana pun terkait penghentian perang.
Baca Juga: Tak Semua Bisa WFH! Mendagri Rilis Daftar ASN Kabupaten dan Kota yang Tetap Ngantor
Pernyataan ini sekaligus membantah klaim Trump yang sebelumnya disampaikan melalui akun Truth Social miliknya.
Dalam unggahan tersebut, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat hanya akan mempertimbangkan gencatan senjata jika Selat Hormuz kembali aman dan terbuka.
Ia bahkan melontarkan ancaman keras terhadap Iran dengan retorika yang memicu perhatian global.
Situasi di lapangan justru menunjukkan eskalasi konflik yang terus meningkat. Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal dan drone yang menyasar sejumlah wilayah di Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Target serangan disebut mencakup kota-kota penting seperti Tel Aviv dan Eilat, serta fasilitas militer di Bahrain dan Kuwait.
Ledakan juga dilaporkan terjadi di Teheran, menambah ketegangan yang sudah tinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya menyatakan bahwa negaranya terbuka terhadap kemungkinan gencatan senjata.
Namun, hal itu hanya bisa terjadi jika pihak lawan menjamin tidak ada lagi agresi lanjutan.
Di sisi lain, suasana duka dan perlawanan terlihat di Teheran, di mana ribuan warga menghadiri pemakaman pejabat militer yang tewas akibat serangan udara.
Mereka menyerukan perlawanan hingga akhir, menandakan konflik ini masih jauh dari kata selesai.***

