POJOKSATU.id, JAKARTA-- Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya siap berperang dengan Amerika Serikat (AS).

Abbas menyebut kesiapan militer Iran kini jauh lebih kuat dibandingkan saat konflik 12 hari tahun 2025 lalu.

Dia memperingatkan Amerika Serikat bahwa Iran siap menghadapi perang jika Washington mencoba menguji kekuatan militernya.

Berbicara dalam sebuah wawancara pada Senin, 12 Januari 2026, Araghchi menegaskan bahwa meski jalur komunikasi dengan AS masih terbuka, Iran telah menyiapkan semua opsi.

Baca Juga: Berkas Belum Rampung, Jadwal Pengangkatan PPPK Paruh Waktu di SBD Masih Abu-abu

“Jika Washington ingin menguji opsi militer yang pernah mereka uji sebelumnya, kami siap untuk itu,” kata Araghchi, sambil menambahkan bahwa Iran tetap berharap AS memilih opsi bijak berupa dialog, dikutip dari Al-Jazeera, Selasa 13 Januari 2026.

Ancaman ini datang di tengah meningkatnya ketegangan di Iran akibat protes yang dipicu krisis ekonomi dan berkembang menjadi tuntutan perubahan sistemik.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan Washington sedang mempertimbangkan opsi-opsi kuat, termasuk kemungkinan aksi militer, sebagai respons atas penanganan keras pemerintah Iran terhadap demonstrasi.

Baca Juga: Apakah Nilai 300 Cukup Lolos SKD CPNS? Ini Penjelasan Resminya

Meski demikian, Trump juga menyebut ada rencana pertemuan dengan Teheran untuk membahas program nuklir Iran, namun memperingatkan bahwa AS bisa bertindak sebelum pertemuan itu berlangsung.

Araghchi menegaskan Iran bersedia kembali ke meja perundingan nuklir, tetapi hanya jika dilakukan tanpa ancaman atau tekanan.

“Kami siap duduk di meja perundingan nuklir, asalkan tanpa ancaman atau perintah,” ujarnya.

Terkait situasi di dalam negeri, pemerintah Iran mengklaim bahwa kekerasan dalam protes dipicu oleh unsur-unsur teroris yang menyusup ke kerumunan, serta menuduh AS dan Israel berada di balik upaya memprovokasi kerusuhan.

Media pemerintah melaporkan lebih dari 100 personel keamanan tewas, sementara kelompok oposisi menyebut korban jauh lebih banyak, termasuk ratusan demonstran, angka yang belum dapat diverifikasi secara independen.

Arus informasi dari Iran juga terganggu akibat pemadaman internet selama hampir empat hari.

Pemerintah menyatakan layanan internet akan dipulihkan secara bertahap dengan koordinasi aparat keamanan.

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa pasukan AS dan Israel akan menjadi target sah jika Washington benar-benar ikut campur.***