POJOKSATU.id — Pondok Modern Darussalam Gontor menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki perjalanan panjang di Indonesia.

Pada 2026, Gontor memasuki momentum satu abad sejak berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor pada 20 September 1926.

Namun, sejarah Gontor sebenarnya tidak dimulai pada 1926.

Akar perjalanan pesantren ini telah terhubung dengan tradisi pendidikan Islam di Pondok Tegalsari, Ponorogo, yang telah berkembang jauh sebelumnya.

Dari pesantren sederhana, Gontor kemudian tumbuh menjadi lembaga pendidikan dengan sistem yang memadukan pendidikan agama, ilmu pengetahuan umum, pembinaan karakter, serta kehidupan kepesantrenan.

Baca Juga: Ada Peluang Baru Kuliah ke Kanada, Negara Ini Negosiasi Gabung Penuh Erasmus

Berikut perjalanan sejarah Gontor hingga memasuki usia 100 tahun.

Sejarah Gontor memiliki keterkaitan dengan Pondok Tegalsari yang didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Besari.

Salah satu tokoh yang pernah menimba ilmu di Tegalsari adalah Sulaiman Jamaluddin.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia kemudian mendapat amanah untuk membuka pesantren di kawasan Gontor.

Pada masa tersebut, wilayah Gontor masih berupa kawasan yang relatif terpencil.

Baca Juga: Pakai Abaya Saat Cuaca Panas Tak Lagi Gerah, Ini 10 Tips Mix and Match yang Bisa Dicoba

Pesantren yang didirikan Sulaiman Jamaluddin menjadi cikal bakal perkembangan Gontor pada generasi berikutnya.

Kepemimpinan pesantren kemudian diteruskan oleh keturunannya, termasuk Kyai Anom Besari dan Kyai Santoso Anom Besari.

Dari keluarga Kyai Santoso Anom Besari inilah kemudian lahir tiga tokoh yang menjadi pendiri Gontor modern.

Tiga putra Kyai Santoso Anom Besari yang kemudian dikenal sebagai Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor adalah KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi.

Ketiganya memiliki perhatian besar terhadap pendidikan Islam dan melihat perlunya pembaruan dalam sistem pendidikan pesantren.

Setelah menempuh pendidikan di sejumlah lembaga pendidikan dan pesantren, ketiganya kembali ke Gontor dengan gagasan untuk mengembangkan pesantren yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama.

Baca Juga: Tolak Sekadar Wacana, SEKTI Jember Desak Pemkab dan DPRD Kawal RUU Reforma Agraria

Mereka kemudian membangun sistem pendidikan yang menggabungkan tradisi pesantren dengan metode pendidikan modern.

Tonggak penting dalam sejarah Gontor terjadi pada 20 September 1926 atau bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1345 H.

Pada tanggal tersebut, Trimurti mendeklarasikan berdirinya lembaga pendidikan Gontor modern.

Lembaga pendidikan pertama yang dibuka adalah Tarbiyatul Athfal.

Pendidikan tersebut menjadi langkah awal dalam pembangunan sistem pendidikan Gontor yang kemudian terus berkembang.

Baca Juga: Lewat GAZZ Karawang, Polisi Ajak Warga Bersama Rawat Kedamaian

Gontor selanjutnya memperluas sistem pendidikannya dengan membuka jenjang yang lebih tinggi.

Pada 1932, Gontor mendirikan Sullamul Muta'allimin. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 19 Desember 1936, berdirilah Kulliyatu-l-Mu'allimin al-Islamiyah atau KMI.

KMI kemudian menjadi salah satu ciri utama sistem pendidikan Gontor.

Kulliyatu-l-Mu'allimin al-Islamiyah dirancang sebagai lembaga pendidikan yang mempersiapkan santri untuk menjadi pendidik.

Sistem pendidikannya memadukan pelajaran agama dengan pengetahuan umum.

Penggunaan bahasa Arab dan bahasa Inggris juga menjadi bagian dari kehidupan pendidikan di Gontor.

Konsep pendidikan tersebut membuat kehidupan santri tidak hanya berlangsung di ruang kelas.

Kegiatan sehari-hari di pondok menjadi bagian dari proses pendidikan, mulai dari pembelajaran, organisasi, kegiatan kepemimpinan, hingga aktivitas sosial.

Baca Juga: 90 Persen Cerutu Jember Diekspor ke Luar Negeri dan Tembus 45 Negara, Gus Fawait: Bukti Hilirisasi Berhasil

Gontor juga mengembangkan berbagai kegiatan yang bertujuan membentuk kemandirian dan kedisiplinan santri.

Perjalanan Gontor tidak terlepas dari situasi politik dan keamanan yang terjadi di Indonesia.

Pada masa Perang Dunia II, kegiatan pondok turut menghadapi berbagai keterbatasan.

Rencana peringatan 15 tahun Gontor yang semula akan dilaksanakan pada 1941 bahkan mengalami penundaan.

Situasi kembali menjadi sulit ketika terjadi pemberontakan PKI di Madiun pada 1948.

Gontor yang berada di wilayah Ponorogo juga berada dalam lingkungan yang terdampak pergolakan tersebut.

Sejumlah tokoh agama di kawasan Madiun dan sekitarnya menjadi korban.

Baca Juga: Tempo Dua Bulan, Video Mesum Gay Bogor Telah Diproduksi 20 Unit, Dijual Rp 150 Ribu

Dalam kondisi tersebut, para tokoh Gontor juga sempat menghadapi ancaman keselamatan sebelum akhirnya berhasil melewati masa pergolakan.

Setelah Indonesia memasuki masa kemerdekaan, perkembangan Gontor terus berlanjut.

Hubungan antara pondok dan para alumninya juga semakin diperkuat.

Salah satu tonggak penting terjadi pada 1949 melalui pembentukan Ikatan Keluarga Pondok Modern atau IKPM.

Organisasi tersebut menjadi wadah untuk menjaga hubungan antara alumni dengan almamaternya.

Para alumni Gontor kemudian tersebar di berbagai daerah dan menjalankan aktivitas di bidang pendidikan, dakwah, sosial, serta berbagai bidang lainnya.

Salah satu keputusan penting dalam sejarah Gontor terjadi pada 12 Oktober 1958.

Baca Juga: Erwan Setiawan Dorong SMK Pastikan Lulusan Langsung Kerja: Jangan Ada yang Menganggur

Pada tanggal tersebut, para pendiri Gontor menyerahkan pondok melalui piagam wakaf kepada umat Islam.

Wakaf tersebut menjadi landasan penting dalam perkembangan Gontor.

Pondok tidak lagi diposisikan sebagai milik pribadi keluarga pendiri, tetapi sebagai lembaga pendidikan yang diperuntukkan bagi umat.

Prinsip tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam pengelolaan dan keberlanjutan Gontor.

Perkembangan Gontor kemudian tidak berhenti pada pendidikan tingkat pesantren.

Pada 17 November 1963, didirikan Perguruan Tinggi Darussalam atau PTD.

Baca Juga: KDM Lepas Kepergian Danny Setiawan: Putra Terbaik Jabar yang Berjasa Bangun Tatar Sunda

Lembaga pendidikan tinggi tersebut kemudian mengalami sejumlah perkembangan dan perubahan nama hingga akhirnya menjadi Universitas Darussalam Gontor atau UNIDA Gontor.

Kehadiran pendidikan tinggi membuat ekosistem pendidikan Gontor semakin luas, dari pendidikan dasar dan menengah hingga perguruan tinggi.

Seiring bertambahnya usia, Gontor terus mengembangkan jaringan pendidikan.

Perkembangan tersebut ditandai dengan hadirnya berbagai pondok cabang dan lembaga pendidikan yang mengadopsi nilai serta sistem pendidikan Gontor.

Selain pendidikan formal, Gontor juga mengembangkan berbagai kegiatan pengasuhan, organisasi santri, kegiatan bahasa, olahraga, keterampilan, serta aktivitas sosial.

Sistem tersebut membuat pendidikan di Gontor berlangsung dalam lingkungan pondok selama 24 jam.

Baca Juga: Suahasil Buka Suara soal Mutasi Purbaya: 'Sudah Sah', Lalu Apa yang Disempurnakan?

Tahun 2026 menjadi momentum bersejarah karena Pondok Modern Darussalam Gontor genap 100 tahun sejak berdirinya Gontor modern pada 1926.

Namun, perhitungan satu abad Gontor memiliki dimensi kalender Masehi dan Hijriah.

Rangkaian peringatan 100 tahun menurut kalender Hijriah telah dimulai melalui kick-off pada 2023.

Peringatan satu abad tersebut tidak hanya dilakukan melalui seremoni.

Gontor menyiapkan berbagai program yang dikelompokkan dalam tema syiar, khidmat kepada masyarakat, dan legacy atau warisan untuk generasi berikutnya.

Berbagai pengembangan juga dipersiapkan sebagai bagian dari perjalanan Gontor setelah memasuki usia satu abad.

Baca Juga: Reshuffle Kabinet Prabowo Kembali Berembus, PKS Kasih Peringatan: Jangan Ada Lagi Menteri Tersandung Korupsi

Di antaranya pengembangan fasilitas pendidikan, rumah sakit, rencana Fakultas Kedokteran, Museum Gontor, Mushaf Gontor, serta pengembangan pondok cabang dan pondok alumni.

Perjalanan Gontor selama satu abad menunjukkan perubahan dari sebuah pesantren di kawasan Gontor menjadi jaringan pendidikan Islam yang berkembang di berbagai bidang.

Akar sejarahnya bermula dari tradisi pesantren Tegalsari dan pesantren Gontor generasi awal.

Perubahan besar kemudian terjadi ketika KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi membangun sistem pendidikan Gontor modern pada 1926.

Sejak saat itu, Gontor terus berkembang melalui pendidikan KMI, jaringan alumni, sistem wakaf, pendidikan tinggi, serta pengembangan berbagai lembaga pendidikan.

Memasuki 100 tahun, sejarah Gontor bukan hanya mencatat perjalanan sebuah lembaga pendidikan, tetapi juga rangkaian perubahan sistem pendidikan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.***