POJOKSATU.id — Pemerintah Kanada dan Uni Eropa tengah membahas kemungkinan perluasan kerja sama dalam program pertukaran pelajar Erasmus+.

Pembicaraan antara Ottawa dan Brussels diarahkan pada upaya agar Kanada dapat memperoleh status partisipasi yang lebih tinggi dalam program pendidikan unggulan tersebut.

Apabila pembahasan berujung pada kesepakatan, perguruan tinggi di Kanada berpeluang masuk lebih jauh dalam ekosistem Erasmus+.

Kondisi ini dapat menambah pilihan bagi mahasiswa yang ingin mengikuti mobilitas akademik sekaligus memperoleh bantuan pembiayaan pendidikan.

Baca Juga: Pakai Abaya Saat Cuaca Panas Tak Lagi Gerah, Ini 10 Tips Mix and Match yang Bisa Dicoba

Kanada sendiri sebenarnya sudah memiliki hubungan dengan Erasmus+ sebagai negara mitra.

Namun, posisi tersebut berbeda dengan status negara yang berafiliasi atau berpartisipasi penuh dalam program.

Sebagai negara mitra, perguruan tinggi Kanada dapat mengikuti sejumlah aktivitas Erasmus+ selama memenuhi aturan dan persyaratan yang ditetapkan oleh program.

Perubahan status menjadi peserta penuh nantinya dapat memperluas kesempatan mahasiswa Kanada untuk belajar di Eropa.

Sebaliknya, mahasiswa dari negara-negara Eropa juga berpotensi memperoleh akses pertukaran ke institusi pendidikan tinggi di Kanada.

Baca Juga: Siap Pecahkan Masalah Macet, Flyover Mangli Jember Ditargetkan Rampung Akhir 2028

Jika terealisasi, Kanada akan mencatat posisi khusus sebagai negara di luar Eropa pertama yang bergabung dengan status penuh dalam program pertukaran pelajar tersebut.

Erasmus+ sendiri menjadi salah satu program Uni Eropa yang memberikan dukungan kepada individu maupun organisasi untuk menjalani kegiatan belajar, pelatihan, dan pengembangan kapasitas di negara-negara Eropa.

Anggota Parlemen Eropa Javier Moreno Sánchez dari Spanyol mengatakan terdapat keinginan dari masyarakat Kanada untuk terlibat dalam Erasmus+, meskipun keikutsertaan tersebut membutuhkan biaya.

“Warga Kanada ingin berpartisipasi dalam Erasmus+. Ini akan mahal bagi mereka, tetapi mereka siap melakukannya,” ujar Javier Moreno Sánchez, seperti dikutip Euronews.

Erasmus+ tidak hanya diikuti oleh negara-negara anggota Uni Eropa.

Sejumlah negara non-UE juga telah menjadi bagian dari program tersebut dengan status sebagai negara peserta.

Saat ini terdapat enam negara non-UE yang tercatat ikut serta, yaitu Makedonia Utara, Serbia, Islandia, Liechtenstein, Norwegia, dan Turki.

Baca Juga: Lewat GAZZ Karawang, Polisi Ajak Warga Bersama Rawat Kedamaian

Sementara itu, pembicaraan mengenai kemungkinan Kanada masuk dengan status yang lebih luas masih berada dalam tahap awal.

Informasi yang diperoleh Euronews menyebutkan bahwa terdapat dorongan dari kedua pihak untuk melanjutkan proses tersebut dan mempererat keterlibatan Kanada dengan program pendidikan Uni Eropa.

Javier Moreno Sánchez, yang juga memimpin delegasi Parlemen Eropa untuk Kanada, menyebut kerja sama tersebut dapat menjadi sarana untuk memperkuat hubungan antara kedua pihak.

Menurutnya, keterlibatan dalam program seperti Erasmus+ dapat menghasilkan manfaat yang lebih konkret bagi masyarakat.

Selain membicarakan Erasmus+, Kanada juga memiliki peluang untuk meningkatkan partisipasinya dalam Horizon Europe, yakni program pendanaan penelitian dan inovasi milik Uni Eropa.

Baca Juga: 90 Persen Cerutu Jember Diekspor ke Luar Negeri dan Tembus 45 Negara, Gus Fawait: Bukti Hilirisasi Berhasil

Namun, hingga kini Kanada belum berstatus sebagai peserta penuh Horizon Europe.

Keterlibatannya masih terbatas pada salah satu pilar program, yaitu Global Challenges and Industrial Competitiveness.

Erasmus+ adalah program Uni Eropa yang menyediakan pendanaan untuk berbagai kegiatan di bidang pendidikan, pelatihan, kepemudaan, serta olahraga.

Program tersebut dijalankan untuk periode 2021-2027 dengan total anggaran sekitar €26,2 miliar atau setara kurang lebih Rp533,2 triliun.

Selain mendukung mobilitas pendidikan, Erasmus+ memiliki sejumlah fokus lain, termasuk mendorong inklusi sosial serta mendukung proses transisi menuju sistem yang lebih hijau dan digital.

Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam kehidupan demokrasi.

Salah satu skema Erasmus+ yang banyak dikenal calon mahasiswa internasional adalah Erasmus Mundus.

Skema tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa dari berbagai negara di luar Uni Eropa untuk mengikuti program magister tertentu yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi di Eropa.

Baca Juga: Tempo Dua Bulan, Video Mesum Gay Bogor Telah Diproduksi 20 Unit, Dijual Rp 150 Ribu

Penerima beasiswa Erasmus Mundus dapat memperoleh dukungan pembiayaan untuk berbagai kebutuhan selama menjalani studi.

Bantuan yang diberikan antara lain dapat mencakup biaya perjalanan, kebutuhan visa, serta tunjangan hidup bulanan yang disebut mencapai €1.400.

Masa studi pada program magister Erasmus Mundus umumnya berlangsung selama dua tahun.

Untuk mengikuti program tersebut, pelamar harus sudah menyelesaikan pendidikan sarjana atau sedang menempuh tahun terakhir jenjang sarjana.

Baca Juga: Erwan Setiawan Dorong SMK Pastikan Lulusan Langsung Kerja: Jangan Ada yang Menganggur

Khusus bagi mahasiswa tingkat akhir, mereka harus memastikan telah memperoleh gelar sarjana sebelum program magister resmi dimulai.

Perkembangan pembicaraan antara Kanada dan Uni Eropa mengenai Erasmus+ menjadi hal yang dapat diperhatikan oleh mahasiswa maupun calon penerima beasiswa.

Jika kesepakatan tercapai, kerja sama tersebut dapat memperluas jalur mobilitas pendidikan antara Kanada dan kawasan Eropa, termasuk melalui peluang pertukaran mahasiswa serta dukungan pendanaan pendidikan.***