POJOKSATU.id - Ada kisah unik di balik lagu-lagu perjuangan Indonesia.
Dua lagu yang hingga kini masih akrab dinyanyikan ternyata diciptakan oleh dua orang dengan nama belakang yang sama: Simanjuntak.
Yang pertama, Bangun Pemudi Pemuda, karya Alfred Simanjuntak. Yang kedua, Maju Tak Gentar, karya Cornel Simanjuntak.
Kesamaan nama itu membuat keduanya kerap dianggap memiliki hubungan keluarga.
Baca Juga: W.R. Soepratman Tak Hanya Menciptakan Indonesia Raya, Ada Lagu Perjuangan Lain yang Jarang Diketahui
Namun, sumber biografi yang tersedia tidak menunjukkan keduanya sebagai saudara dekat.
Mereka justru memiliki perjalanan masing-masing, tetapi dipertemukan oleh satu zaman: masa ketika Indonesia sedang membangun kesadaran kebangsaan dan mempertahankan kemerdekaan.
Menariknya, keduanya berbicara kepada bangsa dengan cara berbeda.
Alfred menyeru pemuda untuk membangun masa depan. Cornel membakar keberanian untuk mempertahankan kemerdekaan.
Baca Juga: Pejabat Jember Rela Berjemur Saat Upacara HUT RI ke-81, Tenda Utama Diberikan untuk Veteran
Alfred Simanjuntak dan seruan untuk pemuda
Alfred Simanjuntak lahir di Parlombuan, Tapanuli Utara, pada 8 September 1920.
Ia kemudian dikenal sebagai guru sekaligus komponis yang sebagian besar hidupnya dekat dengan dunia pendidikan.
Pada 1943, ketika berusia sekitar 23 tahun, Alfred mengajar di Sekolah Rakyat Sempurna Indonesia di Semarang. Indonesia saat itu masih berada di bawah pendudukan Jepang.
Dari lingkungan pendidikan itulah lahir Bangun Pemudi Pemuda. Lagu tersebut bukan sekadar ajakan untuk bangun dari tidur, tetapi seruan agar generasi muda mengambil tanggung jawab terhadap masa depan Indonesia.
Pesannya terasa jelas dalam syair tentang menyingsingkan tangan untuk negara dan bekerja keras.
Dalam kajian mengenai lagu tersebut, maknanya berkaitan dengan semangat, kerja keras, kejujuran, keteguhan hati dan tanggung jawab pemuda terhadap bangsa.
Lagu itu bahkan membuat Alfred sempat diburu polisi militer Jepang karena dianggap memiliki semangat patriotik.
Baca Juga: Pengamat Nilai Putusan Pengerukan Tanjung Perak Sisakan Ruang Diskursus
Guru yang menjadikan lagu sebagai pendidikan
Alfred kemudian melanjutkan pengabdiannya sebagai pendidik. Ia pernah menempuh pendidikan keguruan di Solo dan kemudian melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Ia mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk dunia pendidikan dan memperoleh gelar doktor honoris causa atas pengabdiannya.
Bangun Pemudi Pemuda akhirnya menjadi warisan yang jauh lebih panjang daripada masa penciptaannya.
Lagu itu terus dinyanyikan setiap kali bangsa berbicara tentang pemuda, kemerdekaan dan masa depan.
Baca Juga: Gempa Susulan Ende NTT Senin Pagi Berdampak ke Penerbangan, Operasional Bandara Dihentikan
Cornel Simanjuntak, komponis yang turun ke medan perjuangan
Jika Alfred dikenal sebagai guru, Cornel Simanjuntak justru menjalani hidup yang sangat dekat dengan revolusi.
Cornel lahir pada 1921 dan sejak muda dikenal memiliki kemampuan musik. Ia pernah menjadi guru dan aktif dalam dunia musik sebelum akhirnya terjun ke dalam perjuangan kemerdekaan.
Cornel menciptakan sejumlah lagu, tetapi salah satu yang paling terkenal adalah Maju Tak Gentar. Kisah lagu ini ternyata lebih rumit daripada yang selama ini dikenal.
Dari lagu propaganda menjadi lagu perjuangan
Pada 1944, Cornel menciptakan Maju Putera-Puteri Indonesia dalam lingkungan Keimin Bunka Shidosho pada masa pendudukan Jepang.
Baca Juga: Di Timur Matahari, Ketika W.R. Soepratman Menyalakan Cahaya Semangat Pemuda Indonesia
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Cornel mengubah judul dan syairnya. Lagu tersebut kemudian dikenal sebagai Maju Tak Gentar dan memperoleh fungsi baru sebagai lagu perjuangan revolusi.
Perubahan itu menggambarkan bagaimana sebuah karya dapat berpindah makna mengikuti perubahan zaman.
Lagu yang sebelumnya berada dalam lingkungan propaganda pendudukan kemudian berubah menjadi suara perjuangan bangsa Indonesia.
Maju Tak Gentar lahir dari pengalaman perang
Cornel tidak hanya menulis tentang perjuangan. Ia ikut berjuang.
Ia menjadi pimpinan Angkatan Pemuda Indonesia (API) cabang Tanah Tinggi dan bersama para pemuda melakukan penerangan mengenai arti kemerdekaan kepada masyarakat.
Baca Juga: Di Timur Matahari, Ketika W.R. Soepratman Menyalakan Cahaya Semangat Pemuda Indonesia
Dalam perjalanan itu, lagu-lagu perjuangan seperti Maju Tak Gentar dinyanyikan sambil mengibarkan Merah Putih.
Kajian sejarawan Wisnu Mintargo menyebut Maju Tak Gentar berfungsi memotivasi pemuda Indonesia untuk membela tanah air.
Lagu itu menggambarkan kenyataan revolusi ketika rakyat Indonesia menghadapi lawan dengan persenjataan jauh lebih modern.
Karena itu, kata "maju" dalam lagu tersebut bukan sekadar bergerak ke depan. Ia adalah keberanian untuk menghadapi ancaman.
Sedangkan "tak gentar" menjadi gambaran keteguhan rakyat yang tidak mau kembali kehilangan kemerdekaannya.
Baca Juga: Jolla Phone Resmi Diperkenalkan, HP Linux dengan Tombol Privasi dan Baterai 5.500 mAh
Dua Simanjuntak, dua suara perjuangan
Di sinilah kisah keduanya terasa menarik. Alfred Simanjuntak berbicara kepada generasi muda agar bekerja, teguh dan bertanggung jawab membangun masa depan.
Cornel Simanjuntak berbicara kepada rakyat yang sedang menghadapi perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Yang satu menatap masa depan. Yang satu menghadapi medan perang.
Namun, keduanya memiliki satu pesan yang sama: bangsa Indonesia tidak boleh menyerah pada keadaan.
Cornel meninggal pada 15 September 1946 di Yogyakarta, dalam usia yang masih sangat muda.
Kondisi kesehatannya memburuk setelah ia terluka dalam perjuangan dan menderita penyakit paru-paru.
Alfred hidup jauh lebih panjang dan terus mengabdikan dirinya pada pendidikan hingga wafat pada 2014.
Dua kehidupan yang berbeda itu akhirnya dipertemukan oleh sejarah melalui lagu. ***

