POJOKSATU.id — Suku Betawi dikenal sebagai salah satu identitas budaya paling khas di Jakarta.

Namun, di balik popularitasnya sebagai “suku asli Jakarta”, sejarah Betawi ternyata terbentuk melalui proses panjang yang melibatkan berbagai percampuran budaya dari masa ke masa.

Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa wilayah Jakarta pada awalnya telah dihuni sejak masa kerajaan kuno seperti Tarumanegara.

Baca Juga: Tips Mengambil Gambar dengan Kamera Polaroid agar Hasilnya Lebih Estetik dan Tajam

Pada masa itu, masyarakat sudah mengenal kehidupan bercocok tanam, pengelolaan sungai, hingga tradisi sosial yang berkembang di sekitar aliran Ciliwung dan sekitarnya.

Memasuki masa sebelum kolonial, wilayah ini dikenal sebagai Sunda Kelapa, sebuah pelabuhan penting yang menjadi pusat perdagangan internasional.

Berbagai kelompok etnis dari Nusantara hingga luar negeri seperti Melayu, Jawa, Arab, Tionghoa, hingga Eropa datang dan menetap di kawasan tersebut, menciptakan interaksi budaya yang sangat beragam.

Baca Juga: Kulit Tetap Sehat di Bawah Terik Matahari, Ini Panduan Memilih Sunscreen yang Tepat

Perubahan besar terjadi ketika Belanda mendirikan Batavia pada tahun 1619.

Sejak saat itu, kota ini menjadi pusat pemerintahan kolonial sekaligus magnet bagi pendatang dari berbagai daerah.

Proses perkawinan antar etnis serta interaksi sosial yang intens melahirkan komunitas baru dengan budaya yang unik dan berbeda dari kelompok asalnya.

Menurut sejumlah penelitian, istilah “Betawi” mulai digunakan sebagai identitas etnis pada abad ke-18 hingga 19.

Baca Juga: Menguak Misteri Kepunahan Dinosaurus, Benarkah Karena Asteroid Raksasa?

Masyarakat yang tinggal di Batavia kemudian mulai menyadari adanya kesamaan budaya, bahasa, dan kebiasaan yang membedakan mereka dari pendatang lain.

Sejarawan seperti Lance Castles bahkan menyebut bahwa Suku Betawi merupakan hasil akulturasi berbagai etnis yang hidup berdampingan di Batavia.

Unsur budaya Sunda, Jawa, Melayu, Arab, Tionghoa, hingga Eropa turut membentuk identitas Betawi yang dikenal saat ini.

Pada masa kolonial Belanda tahun 1930, data sensus juga sudah mencatat keberadaan masyarakat Betawi sebagai kelompok etnis tersendiri di Batavia.

Baca Juga: SPMB-PT 2026 PKN STAN Dibuka, Khusus Alumni yang Belum Tempuh D4, Cek Syarat dan Jadwal Lengkapnya

Sejak saat itu, identitas Betawi semakin kuat dan diakui sebagai bagian dari keberagaman etnis di Indonesia.

Kini, di tengah perkembangan Jakarta sebagai ibu kota negara, budaya Betawi tetap bertahan meski mengalami tantangan modernisasi dan urbanisasi.

Berbagai kesenian seperti ondel-ondel, lenong, gambang kromong, hingga kuliner khas seperti soto Betawi menjadi warisan budaya yang terus dijaga dan diperkenalkan ke generasi muda.

Suku Betawi pun tidak hanya menjadi simbol sejarah Jakarta, tetapi juga representasi dari keberagaman dan akulturasi budaya yang membentuk wajah ibu kota Indonesia hari ini.***