POJOKSATU.id — Kepunahan dinosaurus menjadi salah satu misteri terbesar dalam sejarah kehidupan di Bumi.
Hewan raksasa yang pernah mendominasi planet ini tiba-tiba lenyap sekitar 66 juta tahun lalu.
Para ilmuwan meyakini penyebab utama kepunahan tersebut adalah tumbukan asteroid raksasa yang menghantam wilayah yang kini dikenal sebagai Kawah Chicxulub.
Baca Juga: Kenapa Hasil Foto di Indonesia Berbeda dengan di Luar Negeri? Ini Penjelasan yang Sering Bikin Kaget
Benturan tersebut memicu rangkaian bencana dahsyat, mulai dari gempa bumi besar, tsunami, hingga kebakaran global yang melanda berbagai wilayah di Bumi.
Debu dan partikel yang terlempar ke atmosfer membuat sinar Matahari terhalang dalam waktu lama.
Akibatnya, proses fotosintesis pada tumbuhan terganggu dan banyak ekosistem runtuh.
Ketika tumbuhan mati, hewan herbivora kehilangan sumber makanan.
Baca Juga: Apa Itu Jalur KIPK Afirmasi? Ini Pengertian, Sasaran, dan Manfaat yang Diterima
Dampaknya merambat ke predator, sehingga rantai makanan terganggu total dan menyebabkan kepunahan massal.
Selain teori asteroid, aktivitas vulkanik besar di wilayah Dataran Tinggi Dekkan juga diduga ikut memperparah perubahan iklim global pada masa itu.
Namun, bukti ilmiah paling kuat tetap mengarah pada tumbukan asteroid sebagai pemicu utama.
Baca Juga: Jakarta Fair 2026: Tukar 2 LPG 3 Kg Jadi Bright Gas Gratis di Booth Pertamina
Menariknya, tidak semua dinosaurus benar-benar hilang dari Bumi.
Para ilmuwan menyebut bahwa burung modern merupakan keturunan langsung dari kelompok dinosaurus kecil yang berhasil bertahan hidup.
Dengan kata lain, meski dinosaurus raksasa seperti Tyrannosaurus dan Triceratops telah punah, jejak mereka masih “hidup” dalam bentuk burung yang kita lihat saat ini.***




