POJOKSATU.id - Simbol bulan sabit yang sering disertai bintang kerap terlihat pada berbagai hal yang berkaitan dengan umat Islam.

Lambang ini dapat ditemukan pada bendera negara, ornamen masjid, hingga berbagai simbol yang digunakan dalam kegiatan keagamaan.

Bagi sebagian orang, simbol tersebut bahkan dianggap sebagai lambang resmi Islam.

Baca Juga: Ketegangan Memuncak, Iran Siap Izinkan Kapal Lewat Selat Hormuz dengan Syarat Usir Dubes AS-Israel

Namun jika ditelusuri lebih dalam, sejarah kemunculan bulan sabit dan bintang ternyata tidak berasal dari masa awal perkembangan Islam.

Tidak Digunakan pada Masa Nabi
Dalam berbagai catatan sejarah Islam, tidak ditemukan riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW menggunakan simbol bulan sabit dan bintang sebagai lambang umat Islam.

Tidak ada pula hadis maupun riwayat dari para sahabat dan tabi’in yang menyebutkan penggunaan simbol tersebut pada masa awal Islam.

Baca Juga: Jejak Panjang Bedug, Diyakini Sejak Zaman Prasejarah, Bagaimana Jadi Bagian Penting Tradisi Masjid di Indonesia?

Memang terdapat riwayat mengenai penggunaan bendera atau panji-panji oleh kaum Muslimin pada masa peperangan.

Namun panji tersebut tidak memiliki bentuk atau simbol tertentu yang ditetapkan secara khusus.

Beberapa riwayat menyebutkan bahwa panji kaum Muslimin ada yang berwarna hitam, putih, atau hijau.

Ada pula yang menyebutkan panji tersebut bertuliskan kalimat tauhid, yaitu “Laa ilaaha illaallaah, Muhammadur rasuulullaah”.

Baca Juga: Kasus Suap Proyek Pemkab Rejang Lebong Terungkap, KPK Tetapkan Bupati Fikri Thobari sebagai Tersangka

Meski demikian, tidak ada catatan yang menunjukkan adanya gambar bulan sabit atau bintang pada panji tersebut.

Muncul pada Masa Kekhalifahan Utsmaniyah
Menurut catatan sejarah, simbol bulan sabit mulai dikenal luas dalam dunia Islam pada masa Kekhalifahan Turki Utsmaniyah.

Simbol ini mulai digunakan setelah pasukan Utsmaniyah berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453.

Kota yang kini dikenal sebagai Istanbul itu sebelumnya telah memiliki lambang bulan sabit sebagai simbol kotanya.

Baca Juga: VIRAL Video Menu MBG Lele Mentah di Pamekasan, BGN Bongkar Fakta Sebenarnya

Setelah kota tersebut berada di bawah kekuasaan Utsmaniyah, lambang bulan sabit kemudian diadopsi sebagai bagian dari simbol kerajaan.

Dalam sebuah legenda yang berkembang, Sultan Utsman dikisahkan pernah bermimpi melihat bulan sabit yang membentang dari satu ujung bumi hingga ujung lainnya.

Mimpi tersebut kemudian ditafsirkan sebagai pertanda kejayaan dan kekuasaan yang luas.

Baca Juga: OTT Kepala Daerah Terus Terulang, Puan Maharani Minta Evaluasi Besar-besaran dan Singgung Biaya Politik Mahal

Karena itu, lambang bulan sabit yang sebelumnya menjadi simbol kota Konstantinopel akhirnya diadopsi sebagai lambang Dinasti Utsmaniyah.

Pada awalnya, simbol tersebut hanya berupa bulan sabit berwarna emas. Dalam perkembangan selanjutnya, bintang mulai ditambahkan dalam beberapa desain bendera kerajaan.

Ketika Kekhalifahan Utsmaniyah runtuh pada awal abad ke-20, simbol yang tersisa dalam bendera terakhir mereka adalah bulan sabit dan bintang berwarna putih.

Baca Juga: Aksi Nekat Napi Nusakambangan Kabur Lewat Laut Naik Perahu Nelayan, Pelarian Singkat Berujung Diamankan Warga

Identik dengan Dunia Islam
Selama berabad-abad, Kekhalifahan Turki Utsmaniyah menjadi salah satu kekuatan besar dalam dunia Islam dan sering berhadapan dengan kerajaan-kerajaan Eropa.

Karena itulah, lambang bulan sabit dan bintang kemudian dikenal luas oleh masyarakat dunia sebagai simbol yang mewakili umat Islam.

Seiring waktu, simbol ini semakin identik dengan Islam, apalagi jika dikaitkan dengan sistem kalender Hijriah yang menggunakan peredaran bulan.

Dalam tradisi Islam sendiri, penentuan awal bulan dilakukan dengan melihat kemunculan hilal atau bulan sabit muda yang menandai masuknya bulan baru.

Baca Juga: Viral Info Pembagian THR Ojol di Cibubur, Ternyata Hoaks, Aparat Buru Penyebar Pesan

Hal inilah yang membuat simbol bulan sabit terasa dekat dengan kehidupan umat Islam.

Bolehkah Menggunakan Simbol Ini?
Dalam pandangan sebagian ulama, penggunaan simbol bulan sabit dan bintang tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sehingga tidak perlu dijadikan lambang khusus bagi umat Islam.

Namun sebagian lainnya berpendapat bahwa penggunaan simbol tersebut tidak menjadi masalah selama tidak disakralkan atau dianggap memiliki nilai keagamaan khusus.

Baca Juga: Propaganda Barat tentang Iran Dipertanyakan, Aslinya Disebut Hanya Membuat Citra Jelek

Yang paling penting dalam ajaran Islam adalah tidak mengagungkan simbol atau benda tertentu secara berlebihan.

Islam menekankan bahwa tauhid hanya ditujukan kepada Allah SWT. Karena itu, segala bentuk pengkultusan terhadap simbol, benda, atau lambang tertentu harus dihindari. ***