POJOKSATU.id - Masjid Badshahi atau ‘Masjid Kaisar’ merupakan salah satu mahakarya arsitektur Islam peninggalan Kesultanan Mughal. 

Masjid ini dibangun oleh raja keenam Mughal, Raja Aurangzeb, pada tahun 1671 dan selesai pada 1673 di Lahore, Pakistan.

Sejak awal berdirinya, Masjid Badshahi bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai masjid kerajaan sekaligus landmark utama kota Lahore. 

Letaknya yang berhadapan langsung dengan Lahore Fort menegaskan statusnya sebagai simbol kekuasaan dan kejayaan.

Baca Juga: Kemenkes Buka Rekrutmen Pengelola Hibah US-CDC dan Analis Data Surveilans 2026, Pendaftaran Hanya Dua Hari, Ini Syarat Lengkapnya

Pernah Jadi Masjid Terbesar Dunia

Masjid Badshahi mampu menampung sekitar 5.000 jemaah di ruang salat utama dan hingga 95.000 jemaah di halaman tengah serta portiko. 

Total kapasitasnya membuat masjid ini menyandang predikat sebagai masjid terbesar di dunia selama 313 tahun, dari 1673 hingga 1986.

Rekor tersebut akhirnya terlampaui setelah berdirinya Masjid Faisal di Islamabad. 

Saat ini, masjid dengan kapasitas terbesar di dunia adalah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Baca Juga: Kenapa Tunjangan Guru Bisa Retur ke Negara? Ini Penyebab Umum Gagal Cair dan Cara Cek Validasi Rekening di Sistem Resmi

Bangunan raksasa ini memiliki empat menara utama di setiap sudut luar masjid dengan tinggi masing-masing 53,75 meter. 

Selain itu, terdapat empat menara tambahan di sudut bangunan utama. 

Luas halaman tengahnya mencapai 253.899,9 meter persegi, bahkan disebut setara dengan keseluruhan kompleks Taj Mahal. 

Tinggi menaranya pun sekitar 4,2 meter lebih tinggi dibandingkan menara Taj Mahal.

Pada tahun 1993, pemerintah Pakistan merekomendasikan Masjid Badshahi untuk masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO. 

Hingga kini, masjid tersebut telah tercantum dalam daftar sementara nominasi warisan dunia.

Baca Juga: Tiga Bang Jago Pelaku Pengeroyokan Polisi Diciduk Resmob Polresta Manado, Nasibnya Berujung Lebaran di Penjara

Dibangun dengan Visi Kekaisaran

Masjid Badshahi dibangun dengan visi kerajaan sebagai masjid utama Kekaisaran Islam Mughal. 

Landasannya dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah sekitar untuk menghindari banjir Sungai Ravi saat pasang.

Fondasi dan struktur utamanya menggunakan batu bata serta tanah lempung yang dipadatkan. 

Permukaannya dilapisi batu pasir merah dari Jaipur, Rajasthan (kini wilayah India), sementara kubahnya dilapisi pualam putih yang memancarkan kemegahan.

Saat selesai pada 1673, masjid ini tidak hanya menjadi yang terbesar di Kekaisaran Mughal, tetapi juga di dunia. 

Baca Juga: Gaji Guru ASN 2026 Resmi Dibahas, Ini Perbedaan Gaji Pokok, TPG, dan Tamsil yang Wajib Dipahami Agar Tidak Salah Hitung Hak Bulanan

Dalam cuaca cerah, bangunannya bahkan dapat terlihat dari jarak hingga 15 kilometer. 

Keberadaannya menegaskan pentingnya Lahore sebagai pusat politik, ekonomi, dan budaya pada masa kejayaan Mughal.

Masa Kekuasaan Sikh dan Inggris

Ketika milisi Sikh pimpinan Ranjit Singh menguasai Lahore pada 7 Juli 1799, Masjid Badshahi mengalami kerusakan berat. 

Halaman luasnya dijadikan kandang kuda, sementara 80 hujrah (ruang kelas) di sekeliling halaman dijadikan barak militer dan gudang senjata.

Hazuri Bagh di dekat masjid dijadikan ruang pengadilan kerajaan. 

Baca Juga: Telin Gandeng IPification, Hadirkan Autentikasi Tanpa OTP Berbasis Jaringan Seluler Global

Catatan William Moorcroft tahun 1820 menyebutkan masjid ini bahkan digunakan sebagai area latihan militer.

Pada masa perang sipil Sikh tahun 1841, Sher Singh menggunakan menara masjid untuk meletakkan zamburah atau senjata ringan guna membombardir pendukung Maharani Chand Kaur di Lahore Fort. 

Serangan itu menyebabkan kerusakan pada Fort Diwan-e-Aam.

Saat Inggris mengambil alih kekuasaan (1858–1947), masjid tetap difungsikan sebagai barak militer. 

Hujrah di sekeliling halaman dihancurkan untuk mencegah aktivitas anti-Inggris, lalu dibangun ulang dalam bentuk arkade terbuka.

Baca Juga: RI Sepakat Impor 1.000 Ton Beras dan 580 Ribu Ayam dari AS, Pemerintah Pastikan Tak Ganggu Petani Lokal

Kembali ke Kaum Muslimin dan Restorasi

Protes kaum Muslimin atas penggunaan masjid sebagai fasilitas militer mendorong Inggris membentuk Otoritas Masjid Badshahi pada 1852. Sejak itu, restorasi dilakukan secara bertahap.

Perbaikan besar-besaran dimulai pada 1939 berdasarkan cetak biru arsitek Nawab Zen Yar Jang Bahadur. Setelah Pakistan merdeka pada 14 Agustus 1947, restorasi dilanjutkan.

Pada 1960, masjid direstorasi total dan dikembalikan ke bentuk aslinya dengan biaya sekitar 4,8 juta Rupee. 

Pemerintah Pakistan juga membangun museum kecil di gerbang masuk untuk menyimpan benda-benda bersejarah yang dikaitkan dengan Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib, dan Fatimah Azzahra yang dibawa oleh Amir Taimur. 

Pengunjung tidak diperkenankan memotret benda-benda tersebut sebagai bentuk penghormatan.

Baca Juga: Dari Bangku Kuliah ke Dunia Profesional, Perjalanan Saya Bersama MagangHub di PT Pojok Satu Indonesia

Keindahan Arsitektur yang Mengagumkan

Secara arsitektural, Masjid Badshahi memiliki kemiripan dengan Masjid Jama di Delhi yang dibangun pada 1648 oleh Raja Shah Jahan, ayah Aurangzeb. 

Rancangannya memadukan seni Islami, Persia, Asia Tengah, dan sentuhan India.

Tangga menuju ruang salat utama serta lantainya menggunakan pualam warna-warni. 

Ruang utama terbagi menjadi tujuh bagian dengan deretan lengkung besar. 

Tiga bagian berada di bawah kubah ganda berlapis pualam putih, sementara empat lainnya berkubah rata dengan lukisan dinding dan lapisan pualam.

Baca Juga: Datang dengan Wajah Bingung, Viral Kakek Sepuh Jual 8 Butir Telur demi Bisa Buka Puasa

Eksteriornya dihiasi batu berukir, pualam, dan batu pasir merah dengan motif yang dipengaruhi gaya Indo-Greek, Asia Tengah, dan India. 

Skyline masjid dihias detail arsitektur yang megah, dari halaman luas, lorong, menara di empat penjuru, hingga pintu masuk utama.

Dinding utara masjid berada sangat dekat dengan Sungai Ravi sehingga tidak dibuat gerbang besar di sisi tersebut. 

Temboknya dibangun dari batu bata bakar dan semen putih, lalu dilapisi batu pasir merah.

Masjid Badshahi bukan sekadar bangunan tua dari abad ke-17. Ia adalah saksi perjalanan panjang peradaban, dari kejayaan, konflik, penjajahan, hingga kebangkitan kembali. 

Baca Juga: Di Tengah Polemik Mobil Dinas Rp 8,5 Miliar, Gubernur Kaltim Malah Minta Publik Tak Banyak Gibah Saat Ramadan

Di setiap ukiran dan lengkungnya, tersimpan kisah tentang iman, kekuasaan, dan ketahanan sejarah yang tak pernah benar-benar runtuh.***