POJOKSATU.id - Masuknya Islam ke Indonesia telah diidentifikasi sejak abad ke-6 hingga ke-7 Masehi, ditandai oleh kontak perdagangan antara pedagang Arab, Persia, dan Cina.
Meski demikian, perkembangan masjid secara massif baru terlihat pada masa-masa berikutnya, dibuktikan lewat berbagai situs masjid kuno yang masih berdiri hingga kini.
Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PR APS) BRIN, Libra Hari Inagurasi, mencermati eksistensi masjid kuno sebagai bagian penting dari sejarah peradaban Islam di Nusantara.
Salah satu karakteristik umumnya adalah penggunaan atap tumpang atau limasan bertingkat tiga atau lebih sebagai ciri arsitektur tradisional Nusantara.
Dikutip dari BRIN “Salah satunya atap tumpang/limasan bertingkat tiga atau lebih, sebagai ciri tradisional Nusantara.”
Khusus di Pulau Jawa, penyebaran Islam secara massif tak lepas dari peran Walisongo yang berdakwah melalui pendekatan budaya lokal.
Karena itu, arsitektur masjid kuno di Jawa memperlihatkan akulturasi Arab, Jawa, Hindu-Buddha, bahkan Tionghoa, yang berpadu harmonis dalam satu bangunan ibadah.
Masjid Saka Tunggal Banyumas menjadi salah satu contoh menarik.
Berlokasi di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, masjid ini diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Jawa Tengah, dengan perkiraan berdiri pada abad ke-13, sekitar tahun 1288 M.
Baca Juga: Otw Ramadan 2026: Intip Jadwal Awal Puasa Versi Pemerintah dan Muhammadiyah yang Perlu Kamu Tahu
Merujuk Jurnal Pengaruh Budaya Terhadap Tipologi Masjid Saka Tunggal Cikakak Banyumas oleh Amin Safa’at, masjid ini merepresentasikan perpaduan Islam dan budaya lokal Banyumas melalui penggunaan material ijuk, bambu, dan bata.
Ciri paling khas Masjid Saka Tunggal adalah bangunan utamanya yang hanya ditopang satu tiang kayu jati utuh berukuran besar.
Saka tunggal ini melambangkan tauhid atau keesaan Tuhan sekaligus kesederhanaan hidup.
Atap limas bertingkat tanpa kubah, dinding bata merah, serambi terbuka, serta minim ornamen menjadi penanda kuat gaya arsitektur Jawa tradisional yang menyatu dengan nilai Islam.
Masjid Agung Demak di Jawa Tengah menjadi ikon penting perkembangan Islam di Jawa. Masjid ini dibangun pada akhir abad ke-15 dan dikenal sebagai tempat berkumpulnya Walisongo.
Baca Juga: 5 Film Baru Tayang Akhir Pekan Ini di Bioskop, dari Human Resource hingga Return to Silent Hill
Arsitekturnya menunjukkan akulturasi budaya Jawa, Hindu-Buddha, dan Islam, dengan atap tumpang menyerupai punden berundak yang mencerminkan pengaruh budaya prasejarah Nusantara.
Atap tumpang ganjil Masjid Agung Demak, yang bersusun tiga, melambangkan Iman, Islam, dan Ihsan.
Tiang utama atau saka guru konon dibuat oleh para Walisongo, sementara lima pintu masjid melambangkan Rukun Islam dan enam jendela melambangkan Rukun Iman.
Setiap elemen bangunan tak hanya fungsional, tetapi juga sarat makna spiritual.
Masjid Menara Kudus atau Masjid Al-Aqsa Menara Kudus juga menampilkan akulturasi yang kuat.
Didirikan oleh Sunan Kudus pada sekitar 1549 M, masjid ini memiliki menara bata merah menyerupai candi Hindu-Jawa setinggi sekitar 17 meter.
Baca Juga: Sempat Dianggap Hangus, TPG Triwulan 3 & 4 Akhirnya Cair Rapel! Segera Cek Mutasi Anda Sekarang!
Menara tersebut dihiasi piring keramik Tiongkok dan digunakan sebagai tempat bedug penanda waktu salat.
Bangunan utama masjid menggunakan atap tajug bertumpang tiga dan tiang kayu jati besar.
Di kompleksnya terdapat gapura paduraksa dan delapan pancuran wudhu yang melambangkan Asta Sanghika Marga dalam ajaran Buddha.
Seluruh elemen ini menunjukkan pendekatan dakwah Sunan Kudus yang toleran dan akulturatif.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Cirebon, Jawa Barat, berdiri sekitar tahun 1480 M di kompleks Keraton Kasepuhan.
Masjid ini diprakarsai oleh Sunan Gunung Jati dan menjadi simbol penyatuan Islam dengan budaya lokal Cirebon.
Baca Juga: TPG Guru Diperkirakan Cair 23–27 Februari 2026, Maret Jadi Bulan Paling Dinanti
Atap tajug bertumpang tiga tanpa kubah mencerminkan gaya arsitektur Jawa kuno yang sederhana namun sarat makna.
Masjid ini memiliki sembilan pintu yang melambangkan Walisongo, lantai dengan tiga ubin khusus yang menyimbolkan Iman, Islam, dan Ihsan, serta mihrab dengan ukiran bunga teratai karya Sunan Kalijaga.
Keberadaan sumur Banyu Cis Sang Cipta Rasa di beranda masjid juga menambah nilai spiritual dan historis bangunan ini.
Masjid Sunan Ampel di Surabaya, Jawa Timur, dibangun pada tahun 1421 oleh Sunan Ampel.
Masjid ini memadukan arsitektur Jawa kuno, Arab, dan pengaruh Majapahit.
Bangunan utamanya ditopang 16 tiang kayu jati utuh setinggi sekitar 17 meter, yang melambangkan jumlah rakaat salat wajib dalam sehari.
Baca Juga: TPG Guru Non ASN Mulai Cair Februari 2026, SKTP Jadi Kunci Utama
Kompleks masjid ini juga memiliki lima gapura paduraksa yang melambangkan Rukun Islam, mulai dari Gapura Panyeksen hingga Gapura Munggah.
Ornamen-ornamen khas Jawa dan Majapahit pra-Islam, termasuk simbol Surya Majapahit, menunjukkan bagaimana Islam berkembang dengan menghormati warisan budaya sebelumnya.
Masjid-masjid kuno di Jawa bukan sekadar bangunan ibadah, tetapi saksi hidup perjalanan panjang Islam Nusantara.
Dari saka tunggal hingga menara bata merah, setiap detail arsitektur menyimpan pesan tentang toleransi, kearifan lokal, dan cara Islam tumbuh dengan merangkul budaya, bukan meniadakannya. ***

