POJOKSATU.id — Aksi demonstrasi kembali terjadi di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, sejak Kamis (28/8/2025).

Elemen buruh hingga mahasiswa berbondong-bondong datang, menyuarakan tuntutan mereka tentang RUU Ketenagakerjaan Baru, juga menyindir soal gaji dan tunjangan fantastis para wakil rakyat.

Disanalah gedung rakyat itu berdiri. Diam. Bukan tak mendengar teriakan massa, bukan pula tak peduli pada spanduk penuh kritik.

Gedung itu menyelami riwayat perjalanan bangsa. Tak pernah kemana-mana. Tak pernah terbang, meski sejatinya gedung itu berbentuk kepakan sayap burung.

Sejak dulu, publik kerap berseloroh.

Baca Juga: Rakyat Banyak yang Lupa, Bahkan Tidak Tahu, 29 Agustus Itu Hari Lahir DPR RI, Begini Sejatinya Lembaga Ini Terbentuk

Ada yang menyebut bentuk kubah gedung DPR menyerupai bra perempuan, ada yang bilang mirip pantat manusia, bahkan ada yang menyamakannya dengan punggung kura-kura.

Tetapi sejatinya, makna yang sebenarnya jauh lebih simbolis.

Bentuk kubah hijau besar itu melambangkan kepakan sayap burung yang hendak lepas landas.

Ia adalah simbol semangat kebangkitan bangsa, tanda bahwa Indonesia ingin terbang tinggi, menuju masa depan baru yang penuh harapan.

Baca Juga: KH Idham Chalid, Ketua DPR yang Berani Miskin, Kekuasaan Tak Pernah Membuatnya Silau, Lobi Raja Abdul Aziz Hingga Biaya Masuk Jemaah Haji Bisa Gratis

Conefo dan Bung Karno

Gedung ini lahir dari gagasan besar Presiden Soekarno.

Pada 8 Maret 1965, melalui Keputusan Presiden Nomor 48/1965, Bung Karno menugaskan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga untuk membangun political venues—proyek monumental yang akan menjadi wadah konferensi politik internasional.

Ketika itu, Soekarno sedang menggagas Conefo (Conference of the New Emerging Forces), konferensi negara-negara baru dan progresif sebagai tandingan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Negara-negara sosialis, komunis, dan kekuatan progresif kapitalis hendak bersatu di Jakarta, menandai munculnya tatanan dunia baru.

Lokasi dipilih bersebelahan dengan sport venues Gelora Bung Karno, Senayan.

Bung Karno menghendaki agar bangunan ini punya “kepribadian Indonesia”, modern sekaligus monumental, dan rampung sebelum 17 Agustus 1966.

Sayembara dan Sang Arsitek

Untuk mewujudkan gedung itu, diadakanlah sayembara rancangan.

Baca Juga: Rakyat Berduka, Ribuan Driver Ojol Antarkan Jenazah Affan Kurniawan ke Pemakaman Karet Bivak

Pemenangnya adalah Soejoedi Wirjoatmodjo, arsitek muda cerdas lulusan Jerman Barat. Soejoedi merancang kompleks dengan gaya modern, namun sarat makna filosofis.

Pada 19 April 1965, tiang pertama pembangunan dipancangkan.

Menjelang ulang tahun ke-20 kemerdekaan Indonesia, struktur utama hampir rampung. Sayangnya, sejarah berbelok.

Tragedi G30S 1965 mengguncang negeri, pembangunan tersendat, dan arah proyek berubah.

Seiring lengsernya Soekarno dan naiknya Soeharto, fungsi gedung pun dialihkan.

Berdasarkan SK Presidium Kabinet Ampera Nomor 79/U/Kep/11/1966, proyek Conefo resmi diubah menjadi Gedung MPR/DPR RI.

Baca Juga: Kritik Pedas DPR, Said Iqbal Singgung Tunjangan Rumah Rp50 juta, Buruh Masih Perjuangkan Upah

Kini, ia menjadi pusat persidangan para wakil rakyat, simbol kedaulatan rakyat dalam bingkai demokrasi Indonesia.

Pembangunan berlanjut hingga akhirnya tuntas pada 1983. Gedung yang dulunya untuk panggung internasional kini benar-benar jadi rumah politik dalam negeri.

Dari Nama Inggris ke Bahasa Indonesia

Awalnya, gedung-gedung di kompleks ini diberi nama dalam bahasa Inggris: Main Conference Building, Delegates Building, dan sebagainya.

Kemudian diubah ke bahasa Sanskerta—Grahatama, Pustaloka, Lokawirasabha.

Baru pada 14 Desember 1998, pascareformasi, semua nama resmi diganti menggunakan bahasa Indonesia.

Muncullah nama Gedung Nusantara untuk kubah utama, disusul Nusantara I, Nusantara II, Nusantara III, Nusantara IV, Nusantara V, serta Gedung Sekretariat Jenderal, Gedung Mekanik, Gedung Balai Kesehatan, hingga Masjid Baiturrahman.

Di halaman depan, berdiri Patung Elemen Estetik karya seniman ITB, Drs. But Mochtar.

Tiga bulatan saling menyatu, melambangkan kesinambungan bangsa. Patung berbahan tembaga itu rampung pada 1977, menambah keanggunan kawasan Senayan.

Baca Juga: Awal Menjabat DPR Punya Harta Rp2 Miliar, Kini Kekayaan Ahmad Sahroni Bertambah Drastis Ratusan Miliar

Profil Sang Arsitek

Soejoedi Wirjoatmodjo, lahir sebagai mahasiswa cemerlang di Bandung.

Soejoedi mendapat beasiswa ke Eropa. Dari Prancis, ia pindah ke Belanda, lalu ke Jerman Barat, tempat ia meraih gelar Dipl. Ing. dengan predikat cum laude.

Soejoedi dikenal sebagai pionir arsitektur modern Indonesia.

Ia merancang banyak gedung penting: Sekretariat ASEAN, Kedutaan Besar Prancis di Jakarta, hingga Kedutaan RI di Kuala Lumpur, Seoul, dan Beograd.

Sayangnya, ambisinya mengorbankan kesehatan.

Baca Juga: Aksi Demo Ricuh di Depan Gedung DPR, Massa Dipukul Mundur ke Arah Pejompongan

Terlalu keras bekerja, ia jatuh sakit berulang kali. Pada usia 53 tahun, 17 Juni 1981, ia meninggal dunia.

Meski begitu, mahakaryanya—Gedung DPR/MPR—tetap abadi, menjadi saksi bisu perjalanan bangsa.

Kini, kubah hijau Gedung Nusantara masih berdiri megah, menjadi latar setiap peristiwa politik di negeri ini.

Di balik hiruk pikuk sidang, rapat, dan demonstrasi di halamannya, gedung ini menyimpan kisah panjang. Ia adalah monumen sejarah, sekaligus panggung masa depan.

Baca Juga: Bukan Cuma Bebas dari Pajak, Anggota DPR Terima Uang Pensiun Seumur Hidup Meski Kerja 5 Tahun

Semoga informasi ini bermanfaat, ya.

Bantu tulis tanggapan di kolom komentar dan share info ini ya.

Silahkan akses artikel lainnya melalui apps kami: