POJOKSATU.id— Tahun 1998 bukan sekadar angka di buku sejarah.

Ia adalah puncak dari sebuah ledakan—ledakan ketidakpuasan, ketidakadilan, dan rasa marah yang terpendam selama puluhan tahun.

Di tengah krisis ekonomi yang mencekik, mahasiswa turun ke jalan. Rakyat bersuara. Rezim yang selama ini tak tergoyahkan, akhirnya tumbang.

Inilah kisah kelahiran Reformasi. Bukan peristiwa politik biasa, tapi momen ketika suara rakyat akhirnya lebih nyaring dari derap sepatu tentara.

Di bawah kekuasaan Orde Baru, Presiden Soeharto memimpin Indonesia selama lebih dari 30 tahun.

Tapi kekuasaan panjang itu tidak dibarengi pemerintahan yang adil. Negara dikuasai oleh elit politik, militer, dan keluarga inti. Korupsi merajalela. Suara rakyat dibungkam. Kritik dianggap musuh.

Semua itu akhirnya runtuh ketika badai krisis ekonomi Asia menghantam pada 1997. Rupiah ambruk.

Baca Juga: MENOLAK Soeharto Jadi PAHLAWAN NASIONAL, Akademisi, Aktivis, dan Komnas HAM Soroti Rekam Jejak PELANGGARAN HAM, Kemensos Nyatakan PENUHI SYARAT

Harga sembako melonjak. PHK massal terjadi. Di tengah kekacauan itu, rakyat mulai bertanya: untuk apa kita hidup dalam sistem yang tak berpihak pada kita?

Gerakan mahasiswa dari berbagai universitas mulai menggelar aksi unjuk rasa. Mereka membawa tuntutan yang jelas: turunkan Soeharto, hentikan KKN, dan bentuk pemerintahan yang demokratis.

Namun, pada 12 Mei 1998, tragedi Trisakti mengguncang: empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas ditembak aparat saat berdemo secara damai.

Foto-foto jasad mereka menyebar cepat. Tangis dan amarah bercampur. Rakyat tak lagi bisa diam.

Gelombang protes meluas. Kerusuhan pecah. Jakarta membara.

Soeharto menyadari kekuasaannya tak lagi punya landasan. Setelah puluhan tahun memegang tampuk kekuasaan, ia menyatakan mundur. Sebuah era baru dimulai. Era Reformasi.

Baca Juga: Kisah Cinta Soekarno pada Mien Hessels, Nekad Datangi Rumah Si Noni Belanda, Bersyukur Tak Jadi Nikah

Reformasi bukan hanya soal mengganti presiden. Ini adalah perubahan total cara kita mengelola negara. Ada beberapa ciri penting dari masa ini:

  1. Kebebasan Pers
    Media tak lagi dibungkam. Rakyat bisa menyuarakan kritik.

  2. Multi-partai
    Sistem politik menjadi lebih terbuka. Tak ada lagi dominasi Golkar seperti dulu.

  3. Otonomi Daerah
    Pemerintah daerah mendapat lebih banyak kuasa. Tidak semua keputusan datang dari Jakarta.

  4. Pemilu yang Lebih Adil
    Pemilu 1999 menjadi pemilu pertama yang benar-benar kompetitif setelah puluhan tahun.

Baca Juga: Riwayat Jembatan Otista Bogor yang Diresmikan Jokowi, Thomas Karsten Habiskan 80.000 Gulden Demi Pengembangan Kawasan

Mahasiswa dan rakyat menuntut enam agenda utama, yang hingga kini masih jadi tolok ukur demokrasi Indonesia:

  1. Turunkan Soeharto

  2. Hapuskan dwi fungsi ABRI

  3. Tegakkan supremasi hukum

  4. Berantas KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme)

  5. Tegakkan HAM dan demokrasi

  6. Bentuk pemerintahan transisi rakyat

Beberapa dari tuntutan ini berhasil dicapai. Tapi sebagian masih jadi pekerjaan rumah besar bangsa ini.

Baca Juga: Pesan Terakhir Kapten Muslihat, Menitipkan Uang ke Marzoeki Mahdi Sebelum Gugur dan Memberi Nama Anaknya: Tubagus Merdeka

Reformasi mengajarkan kita bahwa kekuasaan tidak absolut. Bahwa jika rakyat bersatu, perubahan bisa terjadi.

Tapi juga bahwa reformasi bukan satu titik—ia adalah proses panjang.

Kita sudah membuka pintunya, tapi apakah kita sudah benar-benar masuk ke rumah demokrasi yang kita impikan?***

Silakan akses artikel lainnya melalui apps kami: