POJOKSATU.id — Pagi itu, seperti biasa, Abu Hanifah melangkah ke pasar dengan semangat.
Sebagai seorang pedagang kain dan pakaian, ia telah menekuni usaha ini sejak usia muda dan telah meraih kesuksesan yang luar biasa.
Namun, sebuah pertemuan di hari itu mengubah arah hidupnya selamanya.
Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Asy-Sya’bi, seorang ulama besar pada masanya. Sang ulama menghentikannya dan bertanya, “Ke mana engkau hendak pergi?”
“Aku pergi ke pasar,” jawab Abu Hanifah.
“Aku tidak bertanya tentang itu, melainkan kepada siapa engkau biasa berguru dan menimba ilmu?”
Abu Hanifah menggeleng. “Aku tidak pergi ke ulama. Aku berdagang.”
Mendengar itu, Asy-Sya’bi pun menasihatinya, “Jangan seperti itu. Engkau harus menuntut ilmu dan berguru kepada para ulama. Aku melihat dalam dirimu ada jiwa yang hidup dan berpotensi besar.”
Kata-kata itu begitu menggugah hati Abu Hanifah.
Ia pun memutuskan untuk mengubah arah hidupnya.
Sejak saat itu, ia bertekad untuk mendalami ilmu dan mulai berguru kepada Hamad bin Sulaiman, seorang ulama besar di bidang fiqih.
Abu Hanifah mengikuti pelajaran gurunya dengan penuh kesungguhan, hingga akhirnya ia bermulazamah selama delapan belas tahun.
Hamad segera melihat bahwa muridnya ini bukan orang biasa.
Abu Hanifah memiliki kecerdasan luar biasa, daya ingat yang tajam, serta pemahaman yang mendalam.
Maka, sang guru memberikan kehormatan dengan berkata, “Tidak boleh ada yang duduk di barisan paling depan kecuali Abu Hanifah.”
Namun, di tahun kesepuluhnya belajar, sempat terbersit dalam hati Abu Hanifah untuk berpisah dari gurunya dan mendirikan majelis sendiri.
Suatu malam, ia melangkahkan kaki menuju masjid dengan niat meninggalkan gurunya. Tetapi, setibanya di sana, hatinya ragu. Ia pun memilih tetap duduk bersama gurunya.
Malam itu, sebuah kabar duka datang. Seorang kerabat Hamad di Basrah wafat, meninggalkan warisan yang tak terurus.
Sang guru pun harus pergi ke Basrah dan menunjuk Abu Hanifah untuk menggantikannya di majelis.
Duduk di tempat gurunya, Abu Hanifah menghadapi berbagai pertanyaan dan memberikan fatwa. Usianya kala itu baru tiga puluh tahun.
Selama dua bulan gurunya pergi, ia mencatat permasalahan baru yang muncul beserta jawaban yang ia yakini.
Ketika Hamad kembali, ia menunjukkan enam puluh masalah yang ia jawab. Sang guru sepakat dengan empat puluh di antaranya, sementara dua puluh lainnya memiliki pandangan berbeda.
Sejak saat itu, Abu Hanifah tak pernah lagi meninggalkan majelis gurunya hingga Hamad wafat delapan tahun kemudian.
Baca Juga: Kisah Sahabat Rasulullah MENAHAN LAPAR Demi Menghormati Tamu, Membuat Allah Takjub Kepadanya
Setelah kepergian gurunya, Abu Hanifah tetap mengenangnya dengan penuh rasa hormat.
Setiap kali ia berdoa untuk kedua orang tuanya, ia selalu menyertakan doa yang sama untuk Hamad.
Begitu pula saat ia menyebut kebaikan orang tuanya, ia tak pernah lupa menyebut kebaikan sang guru.
Tak heran jika dalam kitab Tarikh Baghdad, Al-Khatib Al-Baghdadi menggambarkan Abu Hanifah sebagai seorang faqih yang sangat menguasai ilmu fiqih, berhati-hati dalam memberi fatwa, dan dermawan kepada siapa pun yang membutuhkan.
Ia sabar dalam mengajarkan ilmu, banyak diam, sedikit bicara, serta menjauhi harta penguasa. Seluruh kebaikan yang kita kenang dari Abu Hanifah adalah buah dari perjalanan hidupnya yang dijalani dengan penuh kesungguhan. ***

