POJOKSATU.id — Rasulullah SAW memiliki banyak sahabat yang dikenal karena akhlaknya yang mulia.
Salah satu di antara mereka adalah Abu Dujanah, seorang sahabat yang memiliki keberanian luar biasa di medan perang serta keteguhan dalam menjaga keluarganya dari perkara haram.
Kisah Abu Dujanah Salah satu kisah menarik tentang Abu Dujanah diriwayatkan dalam Buku Fikih Madrasah Ibtidaiyah Kelas VI karya Yusak Burhanudin dan Muhammad Najib.
Kisah ini mengungkap keteguhan Abu Dujanah dalam menjaga kehalalan rezeki bagi keluarganya hingga membuat Rasulullah SAW meneteskan air mata.
Abu Dujanah memiliki kebiasaan langsung pulang setelah salat tanpa menunggu Rasulullah SAW selesai berdoa.
Kebiasaan ini menarik perhatian Rasulullah, sehingga suatu hari beliau bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau berperilaku demikian, wahai Abu Dujanah?”
Abu Dujanah pun memberikan penjelasan.
“Aku memiliki pohon kurma yang menjuntai di pekaranganku, tetapi pohon itu bukan milikku. Aku buru-buru pulang untuk membersihkannya dan menyerahkan kurma yang jatuh kepada pemiliknya, yaitu tetanggaku yang dikenal sebagai seorang munafik.
Aku melakukan ini tanpa mengharapkan imbalan, hanya agar anak-anakku tidak memakan kurma yang bukan hak kami.
Namun, suatu hari aku mendapati anakku telah lebih dahulu bangun dan memakan kurma tersebut. Aku segera memasukkan tanganku ke mulutnya untuk mengeluarkannya. Karena kencangnya, anakku menangis. Begitulah, ya Rasulullah,” jelas Abu Dujana.
Mendengar kisah ini, Rasulullah SAW menangis hingga menitikkan air mata.
Beliau lalu memanggil pemilik pohon kurma tersebut dan menawarkan untuk membelinya dengan harga yang sangat menggiurkan.
“Maukah engkau menjual pohon kurmamu? Aku akan menggantinya dengan sepuluh kali lipat dari harga aslinya.
Pohon itu di surga akan terbuat dari batu zamrud berwarna biru, disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih, dan setiap buahnya akan memberikan bidadari cantik jelita sesuai hitungan buahnya,” ujar Rasulullah.
Namun, orang munafik itu menolak dan berkata. “Aku tidak mau berdagang dengan sistem jatuh tempo. Aku hanya menerima pembayaran tunai.”
Saat itulah Sayidina Abu Bakar as-Shiddiq RA datang dan menimpali. “Aku beli dengan sepuluh kali lipat dari harga kurma terbaik di kota ini,” kata Abu Bakar as-Shiddiq.
Orang munafik itu setuju dan menjual pohon tersebut.
Setelah transaksi selesai, Abu Bakar RA menyerahkan pohon itu kepada Abu Dujanah.
Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Hai Abu Bakar, aku yang akan menggantinya untukmu.”
Mendengar ini, Abu Bakar RA dan Abu Dujanah merasa sangat bahagia.
Sementara itu, si munafik pulang dengan gembira dan menceritakan transaksi tersebut kepada istrinya.
“Aku mendapat untung besar! Aku mendapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus, sementara pohon yang kujual tetap berada di pekaranganku.
Aku masih bisa menikmatinya lebih dahulu, dan tetangga kita tidak akan mendapatkan apa pun darinya.”
Namun, keajaiban terjadi pada malam harinya. Saat si munafik terlelap, pohon kurma yang sebelumnya tumbuh di pekarangannya tiba-tiba berpindah ke tanah milik Abu Dujanah.
Pagi harinya, ia terkejut melihat pekarangannya kosong, seolah-olah pohon itu tidak pernah tumbuh di sana.
Kisah ini memberikan pelajaran berharga tentang kejujuran dan keteguhan menjaga kehalalan rezeki.
Seberat apa pun hidup, seorang Muslim tidak boleh membiarkan dirinya dan keluarganya memakan makanan yang haram. ***

