POJOKSATU.id — Umar bin Abdul Aziz rahimahullah adalah sosok pemimpin yang begitu istimewa dalam sejarah Islam.
Keutamaan dan keadilannya telah diprediksi jauh sebelum ia lahir.
Imam Tirmidzi meriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a pernah berkata, “Dari anakku akan lahir seorang lelaki yang menyerupaiku dari segi keberaniannya dan akan memenuhi dunia dengan keadilan.”
Imam Atha’ rahimahullah juga pernah mengisahkan bahwa setiap malam Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan para fuqaha’ untuk saling mengingatkan tentang kematian dan hari kiamat, hingga mereka semua menangis karena takut akan azab Allah.
Sementara itu, Hassan al-Qishab berkata, “Aku melihat serigala diternak bersama dengan sekumpulan kambing di zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz.”
Sejarah mencatat bahwa Allah SWT menyiapkan Umar bin Abdul Aziz untuk mengembalikan tatanan kehidupan yang selaras dengan nilai-nilai Islam.
Ia dikenal sebagai "Umar kedua," seorang khalifah dari Bani Umayyah yang membawa keadilan dan kesejahteraan.
Kepemimpinannya menjadi contoh nyata dari seorang pemimpin sejati yang meneladani Rasulullah dan para Khulafaur Rasyidin.
Pada hari pelantikannya sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz pertama-tama menziarahi makam Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, pendahulunya.
Berdasarkan wasiat almarhum, ia menerima amanah sebagai pemimpin umat Islam. Saat hendak meninggalkan makam, ia mendengar suara riuh dari kerumunan orang.
“Ada apa?” tanya Umar.
“Kami telah menyediakan kendaraan dinas untuk Anda, wahai Amirul Mukminin,” jawab seseorang seraya menunjuk sebuah kereta kuda yang mewah dan megah.
Namun, Umar menolak dengan tegas, “Aku tidak menghendaki kendaraan mewah ini. Kembalikan ia ke tempatnya dan jauhkan dari sisiku. Semoga Allah memberkahi kalian.”
Ia memilih tetap menunggangi keledai yang selama ini setia menemaninya.
Tak lama setelah itu, sekelompok pasukan pengawal datang berbaris dengan tombak di tangan, siap menjaga sang khalifah dari segala ancaman.
Melihat hal ini, Umar kembali menunjukkan kerendahan hatinya.
“Aku tidak membutuhkan kalian. Aku hanyalah orang biasa dari kalangan kaum Muslimin. Aku berjalan di pagi dan sore hari seperti rakyat lainnya,” ujarnya.
Setelah itu, Umar bin Abdul Aziz melangkah ke masjid. Orang-orang dari berbagai penjuru berkumpul untuk menyaksikan pemimpin baru mereka.
Setelah memuji Allah dan bershalawat kepada Rasulullah, Umar menyampaikan pidatonya dengan ketulusan.
“Wahai manusia, sesungguhnya aku mendapat cobaan dengan urusan ini (khilafah) tanpa dimintai persetujuan terlebih dahulu, tanpa aku memintanya atau bermusyawarah dengan kalian sebelumnya.
Karena itu, aku lepaskan baiat yang ada di pundak kalian untukku. Pilihlah seorang khalifah yang kalian ridhai dari kalangan kalian sendiri,” ucapnya.
Namun, seketika itu juga, suara lantang memenuhi masjid.
“Kami telah memilihmu, wahai Amirul Mukminin. Kami ridha terhadapmu. Aturlah urusan kami dengan karunia dan berkah Allah.”
Dukungan kaum Muslimin pun mengalir deras.
Pekikan takbir menggema di antara dinding-dinding masjid.
Pada hari itu, cahaya kemuliaan bersinar terang. Cahaya yang menerangi dua tahun kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz — dua tahun yang penuh dengan keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran yang telah lama dirindukan oleh umat Islam.

