POJOKSATU.ID- Pada tahun 1970-an fenomena premanisme di Indonesia mulai merebak. Tak sedikit korban berjatuhan.

Untuk memberantas premanisnme, Pemerintah Soeharto melakukan operasi penembakan misterius atau dikenal Petrus.

Pada awal 1980-an, akibat operasi tersebut, banyak ditemukan warga diduga preman atau hanya orang gondrong bertatto tewas, bahkan jumlahnya terus meningkat.

Panglima ABRI LB Moerdani menyalahkan kasus itu kepada para preman.

Baca Juga: Rekomendasi Makanan Hangat Saat Musim Hujan

Begitu korban berjatuhan dan berita petrus tersebar, beberapa penjahat memilih menyerahkan diri, ada juga yang kabur dan berhenti.

Namun Operasi ini dikritik karena dianggap melanggar HAM karena telah menghabisi orang-orang tanpa diadili melalui jalur hukum.

Setelah menuai kontra dan mendapat tekanan internasional, operasi Petrus berakhir pada tahun 1985.

Baca Juga: 90% Orang Melakukan Kesalahan Ini Saat Menggunakan Vitamin C! Cek Demi Kebaikan kulitmu

 

Dampak yang signifikan dalam sejarah sosial dan politik Indonesia

Di sisi sosial, operasi ini berhasil menurunkan tingkat kejahatan secara signifikan, khususnya pada tahun 1983.

Misalnya, kejahatan kekerasan di Yogyakarta menurun dari 57 menjadi 20 dan di Semarang menurun dari 78 menjadi 50. Hal ini memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Namun, di sisi lain, fenomena Petrus juga menimbulkan kontroversi.

Pro dan kontra, baik dari kalangan hukum, politisi, hingga pemegang kekuasaan.

Baca Juga: Begini Perbandingan Gaji PPPK 2023 dengan PPPK 2024 setelah Kenaikan 8 Persen, Lengkap Ragam Tunjangannya

Organisasi internasional seperti Amnesti Internasional pun turut mengirimkan surat untuk menanyakan kebijakan pemerintah Indonesia terkait fenomena ini.

Selain itu, banyak korban Petrus yang dibiarkan tergeletak di tengah jalan atau di bawah jembatan sebagai peringatan bagi masyarakat, sementara beberapa lainnya disembunyikan dan hingga kini tidak diketahui nasibnya. ***