POJOKSATU.id - Bagaimana jadinya jika sekolah di masa depan sudah mengandalkan kecerdasan buatan untuk membantu proses belajar?

Film Akal Imitasi mencoba menjawab pertanyaan tersebut lewat cerita tentang persahabatan, kesenjangan pendidikan, dan batas kemampuan teknologi.

Kisahnya mengambil latar tahun 2029.

Saat perkembangan artificial intelligence (AI) semakin pesat, SD Cendekia Bangsa menerapkan sistem pembelajaran berbasis AI bernama PIKO.

Baca Juga: Ratusan Santri Diduga Keracunan MBG, Wamenag Tetap Dorong Program Masuk Semua Pesantren

Teknologi tersebut awalnya dihadirkan untuk membantu siswa belajar.

Namun, penggunaan PIKO justru memunculkan persoalan baru ketika akses terhadap teknologi tidak dimiliki semua siswa secara setara.

Ika Harus Berhadapan dengan Kesenjangan
Salah satu siswa yang merasakan kondisi tersebut adalah Ika yang diperankan Zaskia Alya Kyla.

Ika merupakan siswi cerdas yang berasal dari keluarga sederhana.

Baca Juga: CFD Buah Batu Dihentikan Sementara, Farhan: Kesalahan Ada di Dishub

Di sisi lain, ada Neo yang diperankan Arziqy Herdi Pratama, seorang siswa dengan akses PIKO Premium sehingga selalu mampu berada di posisi unggul.

Perbedaan akses tersebut membuat kemampuan siswa seolah ikut ditentukan oleh fasilitas teknologi yang mereka miliki.

Bagi Ika, kondisi itu perlahan membuat rasa putus asa muncul.

Sampai akhirnya, ia menemukan sebuah tempat misterius bernama BLOX HUB.

Baca Juga: Pasar Murah Kota Bandung Digelar di 30 Kecamatan, Beras hingga Telur Jadi Buruan Warga

Di tempat inilah perjalanan Ika mulai berubah.

Pertemuan dengan Rafi Mengubah Cara Pandang Ika
Di BLOX HUB, Ika bertemu dengan Rafi yang diperankan Rance Allen Wright.

Pertemuan tersebut bukan sekadar menghadirkan teman baru.

Rafi menjadi sosok yang membuat Ika melihat proses belajar dan makna kecerdasan dari sudut pandang berbeda.

Namun, kedekatan mereka ternyata membawa persoalan yang jauh lebih besar.

Baca Juga: Belajar dari RDF Rorotan, DPRD Jabar Soroti Sampah Basah hingga Kepastian Offtaker

Sebuah perusahaan teknologi mulai memburu Rafi karena ada rahasia besar yang ingin ditutupi.

Rahasia tersebut bahkan berpotensi memengaruhi masa depan dunia pendidikan.

Ika bersama teman-temannya kemudian harus menghadapi petualangan yang tidak mudah.

Mereka bukan hanya berusaha melindungi Rafi, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak bisa begitu saja dimasukkan ke dalam sebuah program komputer.

Baca Juga: Keracunan MBG tak Cukup Diobati, Natalius Pigai Desak BGN Siapkan Unit Pemulihan Korban

Teknologi Bisa Membantu, tetapi Bukan Segalanya
Film Akal Imitasi membawa isu yang cukup dekat dengan perkembangan teknologi saat ini.

Kecerdasan buatan memang dapat membantu manusia mendapatkan informasi dan mempermudah proses belajar.

Namun, film ini memberikan pertanyaan yang lebih dalam: apakah teknologi benar-benar bisa menggantikan manusia dalam pendidikan?

Baca Juga: Keracunan MBG tak Cukup Diobati, Natalius Pigai Desak BGN Siapkan Unit Pemulihan Korban

Melalui perjalanan Ika dan teman-temannya, PIKO menekankan bahwa ada hal-hal yang tidak dapat diprogram oleh teknologi.

Hati, karakter, persahabatan, serta peran seorang guru menjadi bagian penting dalam proses pendidikan yang tidak dapat digantikan begitu saja oleh kecerdasan buatan.

Daftar Pemain dan Kru Film PIKO
Film ini diproduksi oleh DL Entertainment.

Liani Kawati dan Suherman Suhari bertindak sebagai produser, sementara posisi sutradara dipercayakan kepada Zhaddam A. Nurdin.

Skenario film ditulis oleh Chairul Rijal Juanda.

Baca Juga: Pasar Baru Bandung Bidik Wisatawan Malaysia, HP2B Temui Dubes di Jakarta

Selain Zaskia Alya Kyla sebagai Ika, film PIKO juga menghadirkan Tika Bravani, Teuku Rifnu Wikana, Rance Allen Wright sebagai Rafi, Arziqy Herdi Pratama sebagai Neo, Kaysha Varisa Wahab, Ahmad Hafidz Makkarennu, Moh. Rannan Tristan, Diva Pancarani, dan Mellong.

Dengan menggabungkan tema kecerdasan buatan, pendidikan, persahabatan, dan petualangan, PIKO tidak hanya menawarkan cerita tentang teknologi masa depan.

Film ini juga mengajak penonton melihat kembali pentingnya belajar yang bukan hanya tentang seberapa banyak informasi yang bisa diperoleh, tetapi juga tentang bagaimana manusia tumbuh menjadi pribadi yang memiliki hati dan karakter.***