POJOKSATU.id — Dunia perfilman terus mengalami perubahan seiring bergantinya tren dan selera penonton.

Genre yang dulu selalu menjadi andalan studio besar belum tentu masih mampu menarik perhatian seperti beberapa dekade lalu.

Kehadiran platform streaming, perkembangan teknologi, hingga perubahan kebiasaan menonton membuat sejumlah genre mulai kehilangan pamornya.

Baca Juga: Ada Unjuk Rasa Simpatisan Pendukung MBG Hari Ini, Polisi: Pengalihan Arus Bakal Dilakukan Secara Situasional

Meski bukan berarti benar-benar menghilang, beberapa genre kini lebih jarang diproduksi atau hanya menyasar pasar tertentu.

Berikut beberapa genre film yang mulai ditinggalkan penonton beserta penyebabnya.

1. Film Western

Film bertema koboi pernah menjadi salah satu genre paling populer, terutama pada era 1950 hingga 1970-an.

Baca Juga: Praktik Judol di Kalangan ASN Bikin Resah, Wagub Jabar Akui Prihatin Usai PPATK Temukan Fakta Ini

Kisah duel di padang pasir, kehidupan para sheriff, dan petualangan di wilayah perbatasan sempat mendominasi layar lebar.

Namun, popularitasnya terus menurun karena dianggap memiliki formula yang berulang.

Saat ini, film western lebih sering dikombinasikan dengan unsur aksi, thriller, atau drama agar terasa lebih segar.

Genre ini masih memiliki penggemar setia, tetapi jumlah produksinya jauh lebih sedikit dibanding masa kejayaannya.

Baca Juga: Insentif Guru dan Tendik Non-ASN 2026 Segera Cair, Ini Tahapan Pencairan yang Wajib Diselesaikan

2. Komedi Romantis Klasik

Komedi romantis atau rom-com sempat menjadi pilihan utama penonton pada era 1990-an hingga awal 2000-an.

Cerita tentang pertemuan yang tak terduga, konflik sederhana, dan akhir bahagia menjadi ciri khas genre ini.

Kini, rom-com lebih banyak hadir di layanan streaming daripada bioskop.

Penonton modern cenderung mencari cerita yang lebih realistis atau menggabungkan unsur komedi romantis dengan genre lain agar tidak terasa klise.

Baca Juga: CEO on Field OVOC Internasional Singgah di Sekolah Kopi Lampung Barat, Peserta Belajar Langsung dari Sentra Kopi Unggulan

3. Film Parodi

Film parodi yang mengolok-olok film populer atau budaya pop pernah meraih kesuksesan besar.

Namun, perkembangan media sosial membuat humor semacam ini lebih cepat hadir dalam bentuk meme, video pendek, atau konten kreatif di internet.

Akibatnya, film parodi kehilangan daya tarik karena referensi yang digunakan sering kali cepat usang sebelum film tersebut dirilis.

Baca Juga: Resmi Dirilis, Inilah Alur Lengkap 6 Tahapan Seleksi Program Presiden Pemimpin Masa Depan P3MD 2026

4. Film Musikal

Film musikal tetap memiliki penggemarnya, tetapi jumlah produksinya tidak sebanyak dulu.

Studio film kini lebih berhati-hati karena genre ini dianggap memiliki pasar yang relatif terbatas.

Meski demikian, beberapa film musikal masih mampu meraih kesuksesan besar jika menawarkan cerita yang kuat, lagu yang menarik, serta kualitas produksi yang tinggi.

Baca Juga: Peserta CEO on Field OVOC International 2026 Selami Rantai Hulu Agribisnis Pepaya Calina Bersama Petani Ciamis

5. Drama Dewasa

Film drama dengan anggaran menengah dulunya menjadi bagian penting industri perfilman.

Cerita yang berfokus pada konflik keluarga, kehidupan sosial, atau perjalanan emosional karakter cukup sering menghiasi bioskop.

Saat ini, banyak film dengan konsep serupa lebih memilih dirilis melalui platform streaming.

Selain biaya distribusi yang lebih efisien, penonton juga cenderung menikmati drama dengan tempo lambat dari rumah.

Baca Juga: Program P3MD, Seleksi Calon Pemimpin Masa Depan Mulai Digulirkan Setelah KDKMP dan KNMP

6. Film Bencana

Film bertema bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, atau letusan gunung berapi pernah menjadi tren karena didukung efek visual yang spektakuler.

Namun, penonton kini tidak lagi hanya mencari tontonan penuh ledakan dan kehancuran.

Cerita yang kuat dan karakter yang menarik menjadi faktor penting sehingga genre ini tidak lagi diproduksi sesering sebelumnya.

Baca Juga: Lupakan KDKMP dan KNMP, BP BUMN dan Danantara Indonesia Luncurkan Program P3MD Arahan Presiden

7. Horor Found Footage

Genre horor dengan gaya rekaman kamera amatir sempat mencuri perhatian karena memberikan kesan realistis.

Teknik pengambilan gambar yang sederhana mampu menciptakan suasana mencekam dengan biaya produksi yang relatif rendah.

Sayangnya, semakin banyak film yang menggunakan formula serupa membuat penonton mulai merasa jenuh.

Kini, genre ini hanya sesekali muncul dengan konsep yang benar-benar baru.

Baca Juga: Peserta CEO on Field OVOC International 2026 Pelajari Hilirisasi Pepaya Calina Jadi Produk Bernilai Tinggi di Ciamis

Mengapa Genre Film Bisa Kehilangan Popularitas?

Perubahan tren merupakan hal yang wajar dalam industri hiburan.

Selera penonton terus berkembang mengikuti perubahan gaya hidup, kemajuan teknologi, hingga hadirnya platform streaming yang menawarkan lebih banyak pilihan tontonan.

Selain itu, studio film juga semakin berhati-hati dalam menentukan proyek yang akan diproduksi.

Baca Juga: Tampil di Pameran Industri Terbesar Dunia, Indonesia Resmi Menjadi Partner Country di INNOPROM 2026

Mereka cenderung memilih genre yang memiliki peluang lebih besar untuk sukses secara komersial.

Meski demikian, bukan berarti genre-genre tersebut akan benar-benar hilang.

Sejarah perfilman menunjukkan bahwa banyak genre yang sempat redup justru kembali populer setelah mendapatkan pendekatan baru yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.

Karena itu, bukan tidak mungkin film western, musikal, atau komedi romantis akan kembali menjadi tren di masa mendatang dengan konsep yang lebih segar.***