POJOKSATU.id – Hamparan kebun Pepaya Calina di Dusun Wanasuka, Desa Cidolog, Kabupaten Ciamis menjadi ruang belajar lapangan bagi peserta CEO on Field – One Village One CEO (OVOC) International 2026 pada hari pertama kegiatan.
Bersama para petani yang tergabung dalam Koperasi Produsen Mekar Mulya Amanah, peserta tidak hanya diperkenalkan pada salah satu komoditas unggulan daerah, tetapi juga mempelajari secara langsung seluruh rantai hulu agribisnis Pepaya Calina, mulai dari pembibitan, budidaya, hingga penanganan pascapanen.
Pepaya Calina merupakan varietas hasil pemuliaan peneliti IPB yang dikenal memiliki ukuran buah relatif seragam, daging buah tebal berwarna jingga kemerahan, cita rasa manis, serta permintaan pasar yang terus meningkat, baik untuk pasar modern maupun ekspor.
Baca Juga: Bukan Sekadar MoU, Telkom Gandeng NUS Cetak Talenta Digital Indonesia Berkelas Global
Sejak 2024, Desa Cidolog menjadi salah satu wilayah pendampingan pengembangan komoditas Pepaya Calina oleh IPB University melalui penguatan ekosistem agribisnis bersama kelompok tani setempat.
Kegiatan diawali di mini greenhouse pembibitan milik koperasi.
Pada sesi ini, peserta mempelajari tahapan awal produksi tanaman yang menjadi fondasi keberhasilan budidaya.
Beberapa materi yang dipelajari peserta meliputi:
- Pemilihan benih berkualitas sebagai dasar menghasilkan tanaman yang produktif.
Baca Juga: Rekomendasi 4 Tablet RAM 8 GB Murah Terbaik 2026 Mulai Rp1 Jutaan, Cocok untuk Sekolah hingga Kuliah
- Teknik penyemaian benih agar memiliki tingkat pertumbuhan yang optimal.
- Penggunaan media tanam dengan drainase yang baik, kaya bahan organik, dan mampu menjaga kelembapan tanpa menimbulkan genangan air.
- Teknik pemeliharaan bibit, mulai dari pengaturan intensitas penyiraman, pemupukan awal, hingga proses seleksi bibit sehat sebelum dipindahkan ke lahan produksi.
Baca Juga: 13 Juli Ditetapkan Hari Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, Ini Kata Fadli Zon
Dari lokasi pembibitan, rombongan kemudian bergerak menuju lahan budidaya untuk mempraktikkan penanaman bibit Pepaya Calina secara langsung.
Dengan pendampingan petani, setiap peserta mencoba menanam bibit sesuai standar budidaya yang telah diterapkan di kawasan tersebut.
Dalam sesi praktik ini, peserta memahami bahwa keberhasilan budidaya tidak hanya bergantung pada kualitas bibit, tetapi juga dipengaruhi oleh teknik penanaman yang benar.
Petani menjelaskan beberapa faktor penting yang harus diperhatikan, di antaranya:
- Kedalaman lubang tanam agar perakaran berkembang optimal.
- Posisi akar saat penanaman sehingga tanaman mampu tumbuh kuat.
- Jarak tanam sekitar 2,5–3 meter untuk memberikan ruang tumbuh, pencahayaan, dan sirkulasi udara yang memadai.
- Pengendalian gulma secara rutin.
- Pemberian pupuk organik dan anorganik secara bertahap.
- Menjaga kelembapan tanah agar pertumbuhan tanaman tetap stabil.
Memasuki siang hari, pembelajaran berlanjut di kebun produksi yang telah memasuki fase panen.
Di lokasi ini, peserta menyaksikan secara langsung bagaimana petani menentukan tingkat kematangan buah berdasarkan perubahan warna kulit sebagai indikator utama waktu panen.
Petani menjelaskan bahwa teknik panen disesuaikan dengan tujuan pemasaran, yaitu:
- Untuk pasar dengan distribusi jarak jauh, buah dipanen pada fase color break awal, yaitu ketika mulai muncul satu garis atau semburat kuning pada kulit buah. Cara ini dilakukan agar buah tetap segar saat tiba di tujuan.
- Untuk pasar lokal, buah dipanen pada tingkat kematangan yang lebih tinggi, ditandai dengan warna kuning yang lebih dominan sehingga siap dikonsumsi dalam waktu yang lebih singkat.
Penentuan waktu panen tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas Pepaya Calina hingga sampai ke tangan konsumen.
Selain mempelajari teknik panen, peserta juga diajak mengenali kondisi kesehatan tanaman.
Para petani memperlihatkan ciri-ciri tanaman yang produktif sekaligus menjelaskan berbagai gangguan yang umum ditemukan pada budidaya Pepaya Calina.
Baca Juga: Said Iqbal Sebut Demo Buruh Kamis Nanti Sasar Kemenkeu, Minta Menkeu Purbaya Bersedia Dialog
Beberapa permasalahan yang dikenalkan kepada peserta meliputi:
- Serangan virus yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman.
- Gangguan hama yang menurunkan produktivitas buah.
- Serangan tungau yang memengaruhi kualitas hasil panen.
Melalui sesi tersebut, peserta memperoleh pemahaman bahwa keberhasilan produksi tidak hanya ditentukan saat panen, tetapi juga melalui pengelolaan kesehatan tanaman sejak awal masa pertumbuhan.
Rangkaian pembelajaran hari pertama ditutup dengan kunjungan ke fasilitas pascapanen.
Baca Juga: Roy Suryo Senang Polda Metro Divonis Hakim Tak Sah Menangkapnya, Ini Babak Baru Hukum Kita
Di lokasi ini, peserta mengamati bagaimana setiap buah menjalani proses sortasi dan grading sebelum dipasarkan.
Tahapan pascapanen yang dipelajari meliputi:
1. Mengamati keluarnya getah setelah tangkai buah dipotong sebagai indikator tingkat kematangan.
2. Menilai warna dan jumlah getah untuk memastikan buah telah mencapai tingkat kematangan yang sesuai.
3. Melakukan sortasi berdasarkan ukuran buah.
4. Menyeleksi bentuk dan kondisi kulit buah.
5. Memastikan buah bebas dari cacat mekanis sebelum dikemas.
6. Mengemas buah sesuai standar distribusi untuk memenuhi kebutuhan pasar modern maupun pengiriman ke berbagai daerah.
Menurut petani, proses sortasi dan grading merupakan tahapan yang sangat menentukan dalam menjaga konsistensi mutu Pepaya Calina sehingga mampu memenuhi standar pasar sekaligus meningkatkan nilai jual komoditas.
Baca Juga: Harumkan Nama Indonesia, Jirayut Bawa Klub Voli Binaannya 'JTeam' Juarai SIVI 2026 di Malaysia
Bagi para peserta, pengalaman belajar langsung bersama petani di Dusun Wanasuka memberikan perspektif baru bahwa keberhasilan sebuah komoditas pertanian tidak hanya diukur dari hasil panennya, tetapi dari setiap proses yang menyertainya.
Mulai dari pemilihan benih, teknik budidaya, pengelolaan kesehatan tanaman, hingga penanganan pascapanen, seluruh tahapan saling berkaitan dalam membentuk rantai nilai agribisnis yang kuat.
Interaksi bersama para petani Koperasi Produsen Mekar Mulya Amanah juga memperlihatkan bahwa perpaduan antara ilmu pengetahuan, pengalaman lapangan, dan kelembagaan yang solid mampu melahirkan ekosistem agribisnis yang berkelanjutan.
Dari kebun-kebun di Desa Cidolog, para peserta belajar bahwa komoditas unggulan tidak lahir begitu saja, melainkan tumbuh dari ketekunan, inovasi, dan kolaborasi yang terus dirawat dari hulu hingga hilir. ***




