POJOKSATU.id - Suasana duka menyelimuti prosesi pemakaman selebgram Lula Lahfah di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Rawa Terate, Cakung, Jakarta Timur, Sabtu, 24 Januari 2026.

Di tengah kesedihan keluarga dan kerabat, sang ayah, Muhammad Feros, berusaha tegar menerima kepergian putri tercintanya untuk selama-lamanya.

Muhammad Feros menyadari bahwa segala yang terjadi merupakan kehendak Tuhan. Meski demikian, rasa kehilangan tetap begitu dalam.

Ia mengatakan, “Ya, ini memang sudah takdir Allah, mau bagaimana lagi? Kita percaya sama Dia, tapi Allah lebih sayang sama dia.”

Baca Juga: Vokalis Element Lucky Widja Meninggal Dunia di Usia 49 Tahun, Ferdy Tahier Ungkap Penyebabnya

Di mata keluarga, Lula Lahfah dikenal sebagai sosok yang hangat, penurut, dan sangat peduli terhadap orang-orang di sekitarnya.

Muhammad Feros mengenang putrinya sebagai anak yang selalu memprioritaskan kebahagiaan keluarga.

“Dia anaknya baik, anak yang peduli sama keluarga, peduli sama orangtua. Kita juga lihat dia sama teman-temannya juga baik. Teman-temannya dekat, baik,” kenangnya.

Banyaknya pelayat yang hadir untuk memberikan penghormatan terakhir menjadi bukti bahwa Lula semasa hidup menebar kebaikan.

Hal itu membuat sang ayah bersyukur sekaligus terharu.

Baca Juga: Temuan 4 Korban Baru Hari Ini di Longsor Cisarua, Total 29 Kantong Jenazah Diserahkan ke Tim DVI

“Kelihatan di sini. Alhamdulillah ternyata Lula, terutama sama keluarga, baik. Lula peduli. Lula sayang sama kita,” tutur Muhammad Feros.

Di balik ketegaran tersebut, terselip penyesalan mendalam terkait kondisi kesehatan putrinya.

Ia mengungkap Lula memiliki riwayat penyakit asam lambung atau GERD yang kerap kambuh, serta sempat mengalami pembengkakan usus.

“Kalau firasat sih enggak, cuma kita tahu waktu tahun baru dia sempat masuk rumah sakit beberapa hari. Jadi dia punya GERD, itu sudah yang sering kambuh. Terus dia juga ada pembengkakan di usus,” jelasnya.

Baca Juga: Kapolri Tegaskan Polri di Bawah Presiden Sudah Ideal, Singgung Amanat Reformasi dan Tantangan Indonesia ke Depan

Muhammad Feros baru mengetahui bahwa Lula sering mengeluhkan sakit luar biasa di bagian perut kiri kepada teman-teman dekat, bukan kepada keluarga.

Hal inilah yang membuat orangtua tidak sempat mengambil langkah medis lebih jauh.

“Itu yang sering dikeluhkan. Tapi dia enggak mengeluh sama keluarga. Dia mengeluhnya sama teman-teman terdekat. Dia bilang sakit banget di perut bagian kiri. Tapi kita enggak tahu. Kalau kita tahu mungkin kita suruh dia berobat, mungkin ke luar negeri supaya bisa diobati,” ungkapnya.

Ia menduga almarhumah memilih menahan rasa sakit sendirian agar tidak merepotkan orangtua.

“Mungkin dia akhirnya dia tahan, dia tahan, dia tahan, akhirnya tadi malam itu enggak kuat. Mungkin komplikasi dari situ,” tambahnya.

Baca Juga: Ucapan Sigit Bikin Geger: Mending Jadi Petani daripada Jadi Menteri!

Informasi soal keluhan sakit Lula justru diperoleh keluarga dari cerita teman-teman dekat.

Sang ayah mengaku putrinya tak pernah curhat mengenai kondisinya.

“Enggak pernah, enggak pernah curhat. Kita tahunya dari teman-teman terdekat dia saja. Ya itu saja yang kita sesali,” pungkas Muhammad Feros.

Kepergian Lula Lahfah meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya.

Di balik senyum dan keceriaan yang kerap ditampilkan Lulu Lahfah, tersimpan perjuangan sunyi yang tak banyak diketahui.

Ini menjadi pengingat bahwa kepedulian dan kepekaan terhadap orang terkasih adalah hal yang tak ternilai. ***