POJOKSATU.id - Nama sebuah tempat wisata ternyata tidak hanya berfungsi sebagai penanda lokasi.
Di baliknya bisa terdapat cerita geografis, budaya, bahkan proses bahasa yang membuat sebuah destinasi lebih mudah dikenal masyarakat.
Hal inilah yang menjadi perhatian Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad) Prof. Dr. Eva Tuckyta Sari Sujatna, M.Hum., bersama tim dalam kelompok riset Academic Leadership Grant (ALG) Unpad.
Penelitian tersebut mengkaji peran linguistik dan budaya lokal dalam promosi pariwisata, khususnya proses morfologis yang terdapat di kawasan wisata Geopark Ciletuh-Palabuhanratu.
Baca Juga: Di Tengah Karhutla, Polisi Temukan Singkong Matang karena Bara Api, Komentar Netizen Bikin Salfok
Menurut Prof. Eva, kawasan tersebut sebenarnya sudah memiliki modal besar untuk berkembang menjadi destinasi wisata unggulan.
Tantangannya tinggal bagaimana potensi itu dikelola sekaligus dipromosikan dengan cara yang tepat.
"Proses promosi dilakukan hingga bisa melekat dan mudah dikenal di benak audience. Disinilah peran linguistik untuk membuat proses itu menjadi efektif,” terangnya.
Ada Cerita di Balik Nama Tempat
Bahasa lokal ternyata dapat memberikan petunjuk mengenai karakter suatu wilayah.
Baca Juga: Benarkah Ribuan ASN Dikabarkan Banyak Mundur, BKN Akhirnya Buka Suara Soal Fakta Sebenarnya!
Prof. Eva mencontohkan sejumlah nama daerah dan destinasi di Jawa Barat yang menggunakan awalan "ci", seperti Ciletuh, Citarum, dan Cimahi.
Dalam bahasa Sunda, "cai" berarti air. Penggunaan unsur tersebut pada sejumlah nama wilayah menunjukkan adanya keterkaitan dengan kondisi geografis, terutama keberadaan sumber air di kawasan tersebut.
Artinya, sebuah nama bisa menyimpan informasi mengenai lingkungan tempatnya berada.
Ketika nama itu terus digunakan dan dikenal masyarakat, identitas geografis tersebut secara tidak langsung ikut melekat.
Dari Kampung Naga hingga Geopark Ciletuh
Ketertarikan Prof. Eva terhadap kajian linguistik untuk pariwisata juga berawal dari penelitian mengenai proses bahasa di Kampung Naga, Tasikmalaya.
Nama "Naga" disebut merupakan akronim dari "dina gawir" dalam bahasa Sunda yang berarti di lereng.
Penamaan tersebut menggambarkan posisi geografis Kampung Naga yang berada di kawasan sekitar lereng.
Dari kajian semacam itu, terlihat bahwa bahasa lokal tidak berdiri sendiri.
Ada hubungan antara kata, budaya, sejarah, dan kondisi geografis yang kemudian membentuk identitas sebuah daerah.
Konsep inilah yang kemudian dikembangkan dalam riset mengenai kawasan Ciletuh-Palabuhanratu.
Baca Juga: Warga Jakarta Wajib Tahu, Intip Pesona Hidden Gem Taman Hijau yang Bikin Lupa Bisingnya Kota!
Kuliner Juga Bisa Jadi Branding Daerah
Pengaruh bahasa terhadap pariwisata rupanya tidak hanya ditemukan pada nama tempat.
Dunia kuliner Jawa Barat juga memiliki banyak contoh penamaan makanan yang berasal dari bahasa lokal.
Misalnya, misro yang merupakan singkatan dari "amis dijero" dan cireng yang berasal dari "aci digoreng".
Nama-nama tersebut kini bukan hanya dikenal sebagai makanan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas kuliner Jawa Barat.
Ketika nama makanan menggunakan istilah khas daerah, masyarakat yang mengenalnya secara tidak langsung juga mendapatkan gambaran mengenai asal-usul budaya makanan tersebut.
Baca Juga: Bikin Heboh Medsos, Benarkah Kantor Telkom di Gatot Subroto Mau Diambil Alih Badan Gizi Nasional?
"Ketika sebuah produk diperkenalkan dalam bahasa daerahnya, maka secara tidak langsung daerahnya pun akan ikut dikenal," jelas Prof. Eva.
Promosi Wisata Bisa Mengangkat Bahasa Lokal
Menurut Prof. Eva, penggunaan bahasa lokal dalam publikasi pariwisata layak menjadi salah satu hal yang dipertimbangkan.
"Itulah yang mungkin bisa kita pertimbangkan bersama, bahwa informasi itu ada baiknya dimuat dengan bahasa lokal," jelasnya.
Bahasa daerah dengan demikian tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi branding.
Baca Juga: KAI Group Buka Lowongan Kerja 2026 untuk Lulusan SLTA, D3, dan D4-S1
Nama yang khas dan memiliki cerita akan lebih mudah menjadi identitas yang membedakan sebuah daerah dari destinasi lainnya.
Apalagi, sektor pariwisata tidak hanya menjual pemandangan.
Budaya, sejarah, makanan, kebiasaan masyarakat, sampai cerita di balik sebuah nama juga bisa menjadi daya tarik tersendiri.
Riset Dilakukan dengan Turun Langsung ke Lapangan
Penelitian mengenai Geopark Ciletuh-Palabuhanratu menggunakan metode deskriptif kualitatif.
Tim peneliti terlebih dahulu melihat berbagai data mengenai kawasan tersebut berdasarkan referensi yang tersedia.
Data tersebut kemudian diuji melalui pengamatan dan penelusuran langsung ke lapangan.
Baca Juga: Pendaftaran AICIS+ 2026 Diperpanjang, Ini Manfaatnya bagi Akademisi dan Mahasiswa
Geopark Ciletuh sendiri merupakan bagian dari UNESCO Global Geopark dan telah menjalani proses revalidasi secara berkala.
Dalam pengelolaannya, pemerintah daerah juga berkolaborasi dengan akademisi dari berbagai bidang, termasuk geologi, bahasa, dan budaya.
"Harapannya kita bisa turut membantu dari sisi publikasi culture-nya," ujar Prof. Eva.
Bahasa Bisa Membantu Pariwisata Naik Kelas
Ke depan, Prof. Eva berharap semakin banyak peneliti bahasa yang mengkaji hubungan linguistik dengan pariwisata.
Kajian tersebut diharapkan tidak hanya berhenti pada wisata alam, tetapi dapat dilakukan pada berbagai level untuk membantu pengembangan sektor pariwisata di daerah masing-masing.
Sebab, semakin sebuah daerah mampu mengenalkan identitas lokalnya dengan cara yang menarik, semakin besar pula peluang budaya tersebut dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.***




