POJOKSATU.id, Indramayu — Tim peneliti IPB University yang dipimpin Prof. Dr. Ir. Dedi Jusadi, M.Sc. mengembangkan growth promotor berbasis ekstrak rumput laut Gracilaria dan by-product perikanan untuk meningkatkan produktivitas tambak polikultur rumput laut–bandeng di Indramayu, Jawa Barat.
Kegiatan ini berjalan melalui Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (BESTARI SAINTEK), bersama PT IJO Inovasi Indonesia dan Koperasi Produsen Wana Pantai Tiris sebagai mitra lapang.
Inovasi tersebut diuji dalam bentuk demonstrasi plot (demplot) di lahan tambak milik anggota koperasi.
Baca Juga: Baca Juga: Setjen DPR RI Buka Magang untuk Siswa SMA/SMK hingga Mahasiswa, Ini Posisi dan Cara Daftarnya
Program memperkaya pakan yang selama ini digunakan pembudidaya setempat dengan formulasi growth promotor yang seluruh bahan bakunya berasal dari kawasan tambak itu sendiri: ekstrak Gracilaria hasil budidaya petambak, serta hidrolisat by-product perikanan berupa ikan-ikan kecil yang hidup di tambak lokasi budidaya.
Pendekatan ini menutup rantai material di dalam satu kawasan.
Bahan yang selama ini bernilai rendah atau terbuang dikembalikan ke sistem produksi sebagai input bernilai tambah, sehingga menekan volume limbah perikanan pesisir sekaligus mengurangi ketergantungan petambak pada input pakan dari luar kawasan.
Baca Juga: Bikin Heboh Medsos, Benarkah Kantor Telkom di Gatot Subroto Mau Diambil Alih Badan Gizi Nasional?
Pilihan pada sistem polikultur bukan tanpa alasan. Rumput laut dan ikan bandeng dibudidayakan dalam satu badan air yang sama, sehingga perubahan kualitas perairan berdampak langsung pada kedua komoditas.
Sistem ini menjadikan perbaikan daya dukung ekosistem dapat diamati secara bersamaan, dan sekaligus memperkecil risiko kegagalan tunggal bagi petambak.
“Yang kami uji bukan sekadar suplemen pakan, tetapi apakah bahan yang tersedia di dalam tambak itu sendiri bisa dikembalikan menjadi input produksi yang terukur. Polikultur Gracilaria–bandeng kami pilih karena di sistem inilah rumput laut dan ikan berbagi satu badan air — sehingga perbaikan daya dukung ekosistem bisa terbaca pada dua komoditas sekaligus, bukan hanya pada satu.”
— Prof. Dr. Ir. Dedi Jusadi, M.Sc., Ketua Tim Peneliti, IPB University
Sasaran teknis program mencakup peningkatan daya dukung ekosistem tambak, produktivitas, serta kualitas hasil polikultur rumput laut–bandeng.
Seluruh parameter tersebut diukur pada kondisi lapang, bukan pada skala laboratorium, agar hasilnya merepresentasikan variabilitas nyata yang dihadapi pembudidaya.
Rumput laut merah dari genus Gracilaria selama ini dikenal terutama sebagai bahan baku agar dan umumnya diperdagangkan dalam bentuk mentah.
Program ini memposisikannya sebagai sumber senyawa bioaktif yang nilai tambahnya dapat dipertahankan di dalam kawasan produksi, bukan berpindah ke rantai pengolahan di luar wilayah.
Baca Juga: Formasi Magang Nasional 2026 Batch 2 di Kemdiktisaintek, Ada 167 Posisi
“Gracilaria di Indonesia selama ini diperlakukan sebatas bahan baku agar, padahal fraksi bioaktifnya punya nilai yang jauh lebih besar bila diekstraksi dengan proses yang tepat. Yang menarik dari program ini adalah ekstraknya tidak diambil untuk dibawa keluar kawasan, melainkan dikembalikan ke tambak asalnya — nilai tambahnya tinggal di tangan petambak, bukan berpindah ke hilir.”
— Prof. Joko Santoso, Pakar Rumput Laut, IPB University
Pada saat yang sama, ikan-ikan berukuran kecil yang hidup di tambak selama ini belum termanfaatkan secara ekonomi.
Baca Juga: Di Depan Putin, Prabowo Tegaskan Pembangunan Tak Boleh Cuma Dinikmati Segelintir Orang
Melalui proses hidrolisis, biomassa tersebut diolah menjadi komponen formulasi yang dikembalikan ke sistem budidaya. Prinsip ekonomi sirkular ini menjadi salah satu karakter utama program.
PT IJO Inovasi Indonesia berperan sebagai mitra industri yang menerjemahkan hasil riset menjadi formulasi yang dapat diproduksi secara konsisten dan didampingi penerapannya di lapangan.
Peran mitra industri menjadi penting agar hasil riset tidak berhenti pada tahap pembuktian ilmiah, melainkan berlanjut menjadi produk yang dapat diakses pembudidaya.
Baca Juga: KAI Group Buka Lowongan Kerja 2026 untuk Lulusan SLTA, D3, dan D4-S1
“Riset yang berhenti di laporan tidak mengubah apa pun di tambak. Peran kami adalah memastikan formulasi ini bisa diproduksi secara konsisten, dengan harga yang masuk akal bagi petambak, dan dengan pendampingan teknis di lapangan — karena adopsi hanya terjadi kalau petambak melihat hasilnya di petak mereka sendiri.”
— Ryan Dewangga, Founder & CEO, PT IJO Inovasi Indonesia
Bagi petambak, perubahan yang paling langsung terasa adalah pada struktur biaya. Pakan merupakan komponen pengeluaran terbesar dalam budidaya bandeng, sementara bahan baku formulasi ini tersedia di dalam tambak mereka sendiri.
Baca Juga: Kemenimipas Bantu Korban Gempa Flores, Dirjenpas Tinjau Kondisi Rutan Ruteng
“Selama ini ikan-ikan kecil di tambak kami dianggap tidak bernilai, dan rumput laut hanya dijual mentah. Kalau demplot ini terbukti, dua-duanya jadi punya nilai — dan biaya pakan yang paling memberatkan kami bisa ditekan.”
— Carikam, Ketua Koperasi Produsen Wana Pantai Tiris
Kawasan pantura Jawa Barat merupakan salah satu sentra tambak terbesar di Pulau Jawa, dengan Indramayu sebagai salah satu kabupaten produsen utamanya.
Baca Juga: Pendaftaran AICIS+ 2026 Diperpanjang, Ini Manfaatnya bagi Akademisi dan Mahasiswa
Tekanan pada wilayah ini datang dari beberapa arah sekaligus: biaya pakan, kualitas perairan pesisir, dan fluktuasi harga komoditas.
Program diarahkan untuk menjawab ketiganya melalui satu intervensi yang bersumber dari dalam kawasan.
Pada cakupan yang lebih luas, program diarahkan untuk memperkuat daya saing dan ketahanan ekonomi petambak Indramayu dan kawasan pantura, serta berkontribusi pada agenda ketahanan pangan nasional berbasis blue food dan hilirisasi bioindustri maritim.
Baca Juga: Cara Pakai DEX Screener untuk Cari Crypto Potensial
Hasil demplot akan dievaluasi pada akhir siklus budidaya berjalan dan menjadi dasar pertimbangan bagi replikasi di sentra tambak lain di kawasan pantura.***




