POJOKSATU.id - Adriano Jeconia Padama alias Dede, mahasiswa S-1 Hubungan Internasional Universitas Diponegoro (Undip), mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan melalui program beasiswa double degree ke Inggris.

Beasiswa tersebut diberikan setelah Dede berani menyuarakan persoalan tingginya harga beras di daerah asalnya, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Persoalan itu bahkan disampaikan langsung kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat Kuliah Umum Penerimaan Mahasiswa Baru Undip Tahun Akademik 2026/2027 pada Kamis, 6 Agustus 2026.

Baca Juga: 11 Perguruan Tinggi Indonesia Disiapkan Kerja Sama dengan Kampus Arab Saudi, Ada Riset Bersama hingga Exchange Student

Aspirasi tersebut mendapat perhatian langsung dari Amran. Menteri Pertanian itu kemudian mengajak Dede mengunjungi Alor selama empat hari untuk melihat kondisi pangan dan pertanian secara langsung.

Undip Beri Beasiswa Double Degree
Rektor Undip Prof Suharmono mengatakan pemberian beasiswa tersebut merupakan bentuk penghargaan terhadap keberanian Dede dalam menyuarakan persoalan masyarakat di daerah asalnya.

Menurut Suharmono, Dede baru memulai perjalanan sebagai mahasiswa. Namun, ia telah menunjukkan kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat Alor.

Baca Juga: Sapu Bersih Reklame Bodong, Pemkab Jember Terjunkan Tim Gabungan Tertibkan Baliho di Sumbersari

Dede juga berani menyampaikan persoalan tersebut kepada pengambil kebijakan hingga akhirnya mendapat perhatian dan tindak lanjut dari pemerintah.

Sikap tersebut dinilai mencerminkan nilai Undip Bermartabat sekaligus semangat Undip untuk memberikan manfaat bagi daerah.

“Sebagai bentuk penghargaan, maka Undip memberikan beasiswa kepada Adriano untuk bisa berkuliah double degree di Magister Administrasi Publik dan MA in Politic, Governance and Public Policy di Sheffield University Inggris selepas ia menyelesaikan program S-1 HI,” kata Suharmono, dikutip dari laman resmi Undip, Senin, 10 Agustus 2026.

Baca Juga: Dandim Karawang Siapkan Kompi Produksi Walahar Jadi Wisata Edukasi Ketahanan Pangan

Melalui program tersebut, Dede akan menjalani pendidikan selama satu tahun di Undip dan kemudian satu tahun di Inggris.

Dukungan pendidikan yang diberikan Undip diperkirakan mencapai Rp1 miliar selama satu tahun masa studi di Inggris.

“More or less Rp 1 M,” jelas Suharmono, dikutip dari Kompas.com, Selasa, 11 Agustus 2026.

Keberanian Mahasiswa Harus Berdasarkan Kondisi Nyata
Suharmono menilai keberanian mahasiswa dalam menyampaikan pendapat merupakan hal penting.

Namun, keberanian tersebut harus dilakukan secara santun, bertanggung jawab, dan berdasarkan kondisi nyata yang ditemukan di masyarakat.

Baca Juga: Kampung Bahari Kembali Digebek BNN,Sempat Ada Perlawanan Saat Bos Narkoba Ditangkap

Terlebih, keberanian itu digunakan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat luas, bukan kepentingan pribadi.

Kisah Dede kemudian menjadi contoh bahwa mahasiswa dapat mengambil peran dalam menyampaikan persoalan daerah kepada pemerintah.

Apa yang disampaikan Dede mengenai harga beras di Alor tidak berhenti sebagai aspirasi dalam sebuah forum akademik.

Persoalan tersebut berlanjut dengan kunjungan langsung bersama Menteri Pertanian untuk melihat kondisi pangan dan pertanian di wilayah tersebut.

Baca Juga: Presiden Indonesia yang Terlupakan, Ahli Keuangan yang Teguh Menolak Nepotisme Penulis: Reizka Kemala Nazar

Dede Ikut Menteri Pertanian ke Alor
Setelah menyampaikan persoalan harga beras, Dede ikut bersama rombongan Amran selama empat hari di Alor.

Ia melihat langsung penanganan persoalan pangan dan pertanian yang sebelumnya disampaikannya.

Menurut Dede, pemerintah kemudian menyalurkan bantuan pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama tiga bulan.

Pemerintah juga menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak untuk membantu menekan dan mengendalikan kenaikan harga beras.

Baca Juga: Megawati Sarankan Menu MBG Lebih Beragam dari Makanan Khas Berbagai Daerah di Indonesia

“Setelah saya ke Alor bersama bapak menteri, pemerintah langsung memberikan penyaluran Bantuan Pangan alokasi tiga bulan di Alor, sekaligus menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak untuk menekan dan mengendalikan kenaikan harga beras,” ujar Dede.

Selain itu, dua gudang Bulog di Alor kini telah terisi penuh dengan pasokan beras.

Langkah tersebut dilakukan untuk membantu menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat setempat.

Pemerintah Siapkan Penanganan Jangka Panjang
Penanganan persoalan pangan di Alor tidak hanya dilakukan melalui bantuan beras.

Pemerintah juga menyiapkan langkah jangka panjang dengan memperkuat sektor pertanian agar petani lokal dapat meningkatkan produksi secara mandiri.

Baca Juga: Jurnalis Senior asal Karawang Oland Sibarani Kembali Pimpin Dewan Kehormatan PWI Jabar

Sejumlah bantuan pertanian disiapkan, mulai dari traktor roda dua dan roda empat hingga 20 unit pompa air.

Pemerintah juga merencanakan pembangunan sumur bor untuk membantu mengatasi persoalan irigasi yang selama ini menjadi salah satu kendala pertanian di Alor.

Di sisi lain, petani mendapatkan dukungan berupa bibit unggul padi dan kelapa.

Pengembangan bibit kakao juga didorong sebagai bagian dari upaya memperkuat potensi pertanian daerah.

Baca Juga: MSCI Rombak Indeks Saham Indonesia, CPIN dan GOTO Terdepak dari Global Standard

Menurut Dede, berbagai langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan produksi mandiri petani sekaligus membantu mengentaskan kemiskinan di Alor secara berkelanjutan.

Kunjungan tersebut juga menjadi momentum evaluasi bagi Bulog agar memberikan perhatian lebih terhadap wilayah 3T, yakni daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Dari sebuah keluhan tentang harga beras, perjalanan Dede kemudian berkembang menjadi dialog langsung dengan pemerintah dan kunjungan ke daerah asalnya.

Kini, keberaniannya tidak hanya membawa perhatian terhadap persoalan pangan di Alor, tetapi juga membuka jalan bagi perjalanan akademiknya menuju Inggris melalui beasiswa double degree dari Undip.***