POJOKSATU.id, JAKARTA— Mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri menyarankan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih beragam dengan memanfaatkan berbagai makanan khas di Indonesia.
Ketua Umum PDI ini juga mengaku pernah menyampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai menu MBG ini.
“Ini saya bilang pada Pak Prabowo urusan MBG, saya bilang sebagai Ibu lho. Saya sama beliau itu temanan sudah zaman dulu. Mas, makanannya saya lihat kok itu-itu saja toh yo. Lho mbok ya kan daerah kita ini macam-macam ya, mbok ya ada rendang sekali-kali,” ujar Megawati, dikutip dari kanal YouTube BPIP, Rabu (12/8/2026).
Baca Juga: Jurnalis Senior asal Karawang Oland Sibarani Kembali Pimpin Dewan Kehormatan PWI Jabar
Megawati menilai, keberagaman daerah di Indonesia semestinya dapat tecermin dalam makanan yang diberikan melalui program MBG.
Dia kembali menegaskan bahwa menu MBG menurut pandangannya masih terlalu seragam.
“Benar dong kan cuma itu-itu saja toh?” ucap Megawati. Dalam pidato yang sama, Megawati juga menyinggung persoalan stunting pada anak.
Dia mengingatkan para ibu agar lebih memperhatikan kebutuhan anak.
“Sekarang ini kan anak-anak banyak yang dirundung. Saya sampai mikir, ibu-ibunya ke mana ya?” kata Megawati.
Megawati kemudian menyinggung kebiasaan sebagian ibu yang menurut dia terlalu memperhatikan penampilan.
Baca Juga: Syarat Pengajuan PIP dan Beasiswa Lancar, Pengecekan NISN Anak Wajib Valid
Ia menilai, perhatian orangtua seharusnya tidak berhenti pada persoalan penampilan.
“Dulu kalau di partai saya saya bilangnya, 'Sudah Bu, Ibu tidak usah dandan deh pakai glowing-glowing seperti itu’. Lupa deh anaknya mestinya kan dibuat stuntingnya hilang,” ujar dia.
Pembahasan Megawati kemudian bergeser dari persoalan anak dan gizi ke persoalan pendidikan serta pekerjaan. Megawati mengatakan, ada sekitar 1 juta orang pintar yang saat ini tidak memiliki pekerjaan.
Dia pun khawatir kondisi tersebut membuat tenaga-tenaga pintar Indonesia justru diambil oleh negara lain.
“Bayangkan, saya dengar katanya ada sekitar 1 juta orang pintar yang sekarang tidak mendapat pekerjaan,” ujar Megawati.
“Hati-hati, kalau nanti mereka justru diambil oleh negara-negara lain. Coba jangan ketawa, saya saja sudah pusing memikirkannya,” sambung dia.
“Kok lucu ya, tidak ada pekerjaan? Nah, terus kalau sekolah, tujuannya ke mana? Gitu, loh,” ucap Megawati.
Menurut Megawati, persoalan tersebut perlu dicari penyebabnya agar pemerintah dan pihak terkait dapat memahami alasan kalangan terdidik kesulitan memperoleh pekerjaan.
Dalam kesempatan terpisah, Megawati meminta Badan Riset dan Analisis Kebijakan (BARAK) Pusat PDI-P membedah persoalan tersebut.
“Ini saya sedang suruh untuk membedah sebetulnya apa alasannya tidak bisa kerja dan mengapa terjadi seperti itu,” kata Megawati.
Pandangan Megawati ini disampaikan dalam acara Ekspos Naskah Sumber Arsip Dasar Negara II: Masa Reses dan Sidang Kedua Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan (BPUPK) 10 s.d. 17 Juli 1945, yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Senin (10/8/2026).***




