POJOKSATU.id - Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) resmi memulai pembelajaran secara serentak pada Senin, 10 Agustus 2026.
Pada tahap awal, terdapat 17 SNT yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Sekolah ini mengintegrasikan pendidikan jenjang SMP dan SMA dalam satu sistem pembelajaran.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan, SNT tidak hanya menerapkan kurikulum nasional, tetapi juga memiliki sejumlah program penguatan atau kurikulum nasional plus.
Baca Juga: Polda Metro Jaya Usut Kasus Hapalan Alquran Diberi Imbalan Miras, Cermati Dugaan Penistaan Agama
Keunggulan tambahan tersebut mencakup pengembangan kemampuan bahasa, akademik, olahraga, serta berbagai potensi lain yang dimiliki peserta didik.
"Jadi mengikuti kurikulum nasional tapi plus. Nah plusnya itu adalah keunggulan-keunggulan dalam bidang bahasa, kemudian juga tambahan untuk keunggulan akademik, olahraga, dan sebagainya," kata Mu'ti kepada wartawan saat di Balai Besar Guru Penggerak (BBGP), Parung, Kabupaten Bogor, Senin, 10 Agustus 2026.
Siswa SNT Wajib Ikut Ekstrakurikuler
Selain mengikuti mata pelajaran wajib, siswa SNT akan mendapatkan berbagai kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan bakat, minat, dan potensi mereka.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PAUD Dikdas dan Dikmen) Kemendikdasmen Gogot Suharwoto mengatakan, SNT ditargetkan memiliki sedikitnya 15 pilihan ekstrakurikuler.
Baca Juga: Enam Terdakwa Pengerukan Tanjung Perak Dinilai Tak Rugikan Negara, Diminta Dibebaskan
Namun, pada tahap awal, enam kegiatan ekstrakurikuler akan dibuka dan diwajibkan bagi siswa.
Dua di antaranya adalah Pramuka dan pencak silat. Keduanya dipilih karena memiliki nilai pendidikan karakter dan telah mendapatkan pengakuan UNESCO.
"Kita akan kembangkan minimal ada 15 ekskul, tapi untuk tahap pertama kita akan buka 6. Yang dua, yang wajib itu adalah Pramuka dan Pencak Silat, karena sudah diakui UNESCO," ujar Gogot.
Selain kegiatan tersebut, SNT juga memperkenalkan berbagai ekstrakurikuler yang menyesuaikan perkembangan zaman dan kebutuhan siswa.
Di bidang teknologi, siswa dapat dikenalkan dengan coding, artificial intelligence (AI), hingga robotik.
Ada pula kegiatan paduan suara, paskibra, serta penguatan kemampuan bahasa Inggris.
Baca Juga: KAI Daop 9 Jember Tutup 14 Perlintasan Liar, Pelanggar Terancam Denda Rp100 Juta Jika Nekat Buka
Gogot mengatakan, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi aktivitas tambahan, tetapi juga menjadi sarana bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan yang dapat menunjang masa depan mereka.
Pendidikan Karakter Jadi Bagian Penting
Pengembangan karakter juga menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan SNT.
Pada masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), siswa tidak hanya diperkenalkan dengan lingkungan sekolah.
Mereka juga mendapatkan penguatan pendidikan karakter.
Termasuk di dalamnya pengenalan gerakan nasional RANA atau Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak.
Dengan pendekatan tersebut, SNT diharapkan menjadi lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan siswa, baik dari sisi akademik maupun karakter.
Baca Juga: Jangan Terbalik Lagi! Aturan Penempatan Angka Ulang Tahun HUT RI yang Sering Bikin Bingung Netizen
1.800 Pendaftar, Hanya 17 Kepala Sekolah Terpilih
Untuk menjaga kualitas SNT yang baru pertama kali diterapkan, Kemendikdasmen melakukan proses seleksi terhadap kepala sekolah dan guru.
Seleksi kepala sekolah dilakukan secara ketat. Dari sekitar 1.800 pendaftar, hanya 17 orang yang akhirnya terpilih untuk memimpin 17 SNT.
Mendikdasmen mengatakan, para kepala sekolah terpilih memiliki pengalaman dalam mengelola satuan pendidikan.
"Para kepala sekolah itu mereka banyak yang sudah berpengalaman jadi kepala sekolah sebelumnya, dan kita seleksi, dari tadi 1.800 sekian, kita seleksi 17," kata Mu'ti.
Sementara itu, guru SNT berasal dari guru yang sudah ada dan sebagian memiliki pengalaman mengajar yang cukup panjang.
Baca Juga: GTC di Jantung Kota Cirebon Sampai Kapan Aset Publik Dibiarkan Mangkrak?
"Gurunya ini kami seleksi dari guru-guru yang sudah ada sekarang ini. Sebagian adalah guru-guru yang memang sudah berpengalaman," jelasnya.
Kehadiran 17 SNT menjadi langkah awal pemerintah dalam menghadirkan model sekolah terintegrasi yang menggabungkan kurikulum nasional dengan penguatan bahasa, akademik, olahraga, teknologi, dan karakter.
Jika pelaksanaannya berjalan sesuai harapan, pengalaman dari 17 sekolah perdana ini dapat menjadi pijakan penting untuk melihat bagaimana konsep SNT dikembangkan pada tahap berikutnya. ***




