POJOKSATU.id - Tim dosen dan mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta (FBS UNJ), menggelar program Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Medalsari, Karawang, Jawa Barat, sepanjang Juli hingga Agustus 2026.
Program ini membekali warga, terutama pemuda desa, dengan keterampilan storytellinguntuk mengelola konten digital di media sosial.
Sasarannya adalah mendorong promosi potensi wisata dan budaya lokal agar lebih dikenal luas hingga ke luar daerah.
Baca Juga: Bruno Guimaraes Makin Dekat ke Arsenal, Newcastle Bidik Gelandang Borussia Dortmund
Kegiatan ini merupakan bagian dari skema Diktisaintek Berdampak yang digagas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, sebagai bentuk hilirisasi keilmuan kampus ke tengah masyarakat.
Selain itu, menjadi bagian dari komitmen UNJ Berdampak dalam mendorong penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
Program pengabdian ini digawangi 4 akademisi, yakni Ely Rusliawati, Sigit Widiatmoko, Sigit Pramono, dan Irsyad Ridho. Kegiatan ini turut didukung Pemerintah Kabupaten Karawang, yang dikenal dengan slogan “Pangkal Perjuangan”, melalui sinergi dengan pemerintah desa setempat.
Baca Juga: Kasus Sumpah Injak Alquran di Lebak Banten, 2 Tersangka Hanya Dituntut 2,3 Tahun Penjara
Menurut tim pengabdian, keterlibatan pemerintah daerah penting agar hasil pelatihan dapat berkelanjutan dan langsung terpakai oleh warga, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Kolaborasi lintas lembaga ini juga diharapkan membuka peluang pendampingan lanjutan setelah masa pengabdian resmi berakhir.
Dalam sesi pertama, tim pemateri memaparkan sejumlah teknik dasar storytelling yang bisa langsung dipraktikkan warga, mulai dari hook tiga detik pertama, struktur tiga babak, hingga formula before-after-bridge dan problem-agitate-solution.
“Konten yang dibungkus cerita memberi alasan emosional bagi penonton untuk peduli, bukan sekadar informasi,”demikian salah satu poin kunci yang disampaikan dalam materi lokakarya tersebut.
Peserta diajak memahami bahwa promosi wisata tidak lagi cukup dengan menjelaskan fasilitas, melainkan perlu dibangun lewat sudut pandang personal dan detail yang konkret.
Sesi ini berlangsung interaktif dengan peserta yang sebagian besar merupakan pemuda desa dan pengelola objek wisata setempat.
Teknik-teknik tersebut langsung dipraktikkan pada tiga potensi lokal Desa Medalsari, yaitu objek wisata Green Canyon Medalsari, kesenian wayang golek asuhan dalang muda Agus Paksi Buana, dan program desa ekowisata setempat.
Peserta pelatihan berlatih mengubah narasi promosi yang semula datar menjadi cerita bersudut pandang personal, misalnya kisah pemuda desa yang menemukan keindahan tersembunyi di balik tebing yang dulu hanya dilalui untuk mencari kayu bakar.
Pendekatan serupa juga diterapkan pada promosi wayang golek, dengan menonjolkan kisah personal sang dalang sejak kecil hingga kini tampil di atas panggung, agar penonton merasakan kedekatan emosional dengan tradisi tersebut.
Cerita desa ekowisata pun disusun ulang dari sudut pandang warga yang sempat merantau lalu memilih pulang membangun kampung halamannya sendiri, sehingga terasa lebih hidup dibanding sekadar daftar fasilitas wisata.
Baca Juga: Kronologi Pria Dianiaya Beramai-ramai dan Dipaksa Onani Teman Satu Kantor di Tangerang Banten
Usai penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik merangkai cerita atau storytelling untuk promosi wisata di Sanggar Paksi Buana bersama dalang muda Agustinus dan timnya.
Peserta diajak menggabungkan teknik storytelling yang baru dipelajari dengan kekayaan narasi wayang golek untuk membangun konten promosi wisata yang lebih hidup dan berakar pada budaya setempat.
Agustinus turut membagikan pengalamannya menjaga tradisi dalang di tengah gempuran hiburan digital, sekaligus mendorong peserta untuk berani menyisipkan kisah personal dalam setiap konten yang mereka buat.
“Cerita paling kuat selalu yang paling jujur,” salah satu pesan dari materi lokakarya yang kembali ditekankan saat sesi praktik berlangsung, dan sesi ini menghasilkan beberapa rancangan naskah cerita pendek yang memadukan kearifan lokal Medalsari dengan gaya bertutur khas wayang golek.
Sigit Widiatmoko selaku ketua tim pengabdian menuturkan bahwa kegiatan ini bertujuan agar warga desa tidak hanya menjadi objek promosi wisata, tetapi juga pelaku aktif yang mampu menceritakan sendiri kekayaan daerahnya dengan cara yang khas dan tidak seragam.
Ia berharap keterampilan storytelling yang diberikan dapat dimanfaatkan warga untuk mengangkat citra Green Canyon Medalsari maupun kesenian wayang golek di Sanggar Paksi Buana secara berkelanjutan di berbagai platform digital, mulai dari media sosial hingga kanal berbagi video.
Pendekatan ini dinilai penting mengingat potensi wisata alam dan budaya di desa tersebut selama ini masih sering dipromosikan dengan cara konvensional yang kurang menarik perhatian generasi muda.
Para dosen pendamping berharap sinergi antara akademisi, pengelola wisata, dan pelaku seni tradisi seperti Sanggar Paksi Buana dapat menjadi model pengembangan desa wisata berbasis narasi di daerah lain.
Baca Juga: Kisah Papua Dijaga Indonesia, Dari Sengketa Pascakemerdekaan, Trikora, hingga Pepera 1969
Rangkaian kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini akan terus berlanjut hingga akhir Agustus 2026 dengan pendampingan lanjutan bagi warga dalam memproduksi konten digital berbasis cerita.
Tim dari Program Studi Sastra Indonesia UNJ berencana mengevaluasi hasil karya peserta serta mendorong publikasi konten storytelling tersebut di kanal resmi desa dan sanggar agar dampaknya dapat langsung dirasakan oleh pelaku wisata setempat.
Selain pendampingan produksi konten, tim juga akan memantau perkembangan keterampilan bercerita para peserta sebagai bagian dari evaluasi keberlanjutan program.
Melalui program ini, Desa Medalsari diharapkan semakin dikenal luas, baik sebagai destinasi wisata alam maupun pusat pelestarian kesenian tradisional Jawa Barat.***




