POJOKSATU.id - Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kembali menunjukkan komitmennya dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui dua program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilaksanakan di SDN Medalsari III, Desa Medalsari, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang.
Kedua program ini merupakan bagian dari skema Pengabdian kepada Masyarakat Wilayah Binaan Unggulan Fakultas (PPM-WBF) Tahun 2026 yang berfokus pada penguatan literasi, karakter, dan kesadaran lingkungan siswa sekolah dasar melalui pendekatan pembelajaran bahasa dan sastra yang kontekstual.
Dua kegiatan yang dilaksanakan adalah "Penguatan Kemampuan Berbahasa Kontekstual melalui Pembelajaran Ragam Bahasa bagi Siswa SDN Medalsari III" serta "Menjaga Alam Lewat Cerita: Pelatihan Storytelling Berbasis Ekologi Lokal untuk Anak Usia Sekolah Dasar" yang digagas oleh tim dosen Program Studi Sastra Indonesia.
Kedua program tersebut sama-sama menyasar siswa SDN Medalsari III dan melibatkan kolaborasi dosen, mahasiswa, pemerintah desa, serta pihak sekolah.
Program pertama, "Penguatan Kemampuan Berbahasa Kontekstual melalui Pembelajaran Ragam Bahasa", diketuai oleh Ahmad Maulana Ghufar, S.Pd., M.A., dengan anggota tim dosen Sigit Widiatmoko, S.S., M.Hum., Sigit Pramono, S.S., M.Hum., Ely Rusliawati, S.Pd., M.A., dan Ardia Septi Wijianti, S.Hum., M.A.
Kegiatan ini turut melibatkan tiga mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia UNJ sebagai bentuk implementasi Diktisaintek Berdampak sekaligus penguatan Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi.
Pemilihan SDN Medalsari III sebagai mitra didasarkan pada hasil identifikasi kebutuhan sekolah.
Tim menemukan bahwa perkembangan media digital dan penggunaan media sosial telah memengaruhi pola komunikasi siswa, di mana sebagian siswa masih kesulitan membedakan penggunaan ragam bahasa formal dan nonformal sesuai situasi komunikasi.
Kondisi ini mendorong tim pengabdian menghadirkan program yang tidak hanya meningkatkan keterampilan berbahasa Indonesia, tetapi juga menanamkan etika berkomunikasi agar siswa mampu menggunakan bahasa secara santun dan tepat kepada guru, teman sebaya, maupun masyarakat.
Ketua Tim Pengabdian, Ahmad Maulana Ghufar, S.Pd., M.A., menjelaskan bahwa kemampuan menggunakan bahasa sesuai situasi merupakan keterampilan penting yang perlu ditanamkan sejak usia sekolah dasar.
"Kami ingin anak-anak memahami bahwa bahasa bukan hanya soal benar atau salah secara tata bahasa, tetapi juga bagaimana menggunakan bahasa yang tepat sesuai dengan siapa mereka berbicara dan dalam situasi apa mereka berkomunikasi. Melalui kegiatan ini, kami berupaya menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan melalui permainan, simulasi, dan praktik langsung sehingga siswa lebih mudah memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Harapannya, keterampilan ini dapat menjadi bekal mereka untuk membangun komunikasi yang santun, percaya diri, dan menghargai orang lain," ujar Ahmad.
Untuk mencapai tujuan tersebut, tim pengabdian mengembangkan pembelajaran yang bersifat partisipatif dan menyenangkan, dengan berbagai media pembelajaran inovatif seperti Kartu Situasi Ragam Bahasa, salindia interaktif, serta roleplay yang mengajak siswa mempraktikkan penggunaan bahasa sesuai konteks komunikasi.
Pendekatan ini dirancang agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan pilihan kata, sapaan, dan gaya bahasa yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan kegiatan disusun melalui beberapa tahapan, mulai dari sosialisasi bersama pemerintah desa dan pihak sekolah, pelaksanaan pelatihan berbasis permainan, penerapan media pembelajaran, pendampingan, hingga evaluasi hasil belajar siswa melalui post-test.
Sebagai bagian dari luaran program, tim menargetkan terbitnya artikel media massa, video dokumentasi edukatif, poster pengabdian, profil kegiatan, Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas media pembelajaran yang dikembangkan, serta berbagai bentuk diseminasi lainnya.
Luaran tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai referensi bagi sekolah lain dalam mengembangkan pembelajaran bahasa yang lebih kontekstual, komunikatif, dan menyenangkan.
Kesan positif disampaikan oleh salah satu siswa SDN Medalsari III yang mengikuti kegiatan ragam bahasa ini. "Saya senang sekali belajar pakai permainan. Sekarang jadi paham cara berbicara yang santun dan tepat," ungkapnya.
Program kedua, "Menjaga Alam Lewat Cerita", bertujuan menumbuhkan kesadaran ekologis sejak usia dini melalui pendekatan literasi lisan.
Sebanyak 24 siswa SDN Medalsari III mengikuti pelatihan yang menggabungkan unsur sastra, permainan edukatif, dan pendidikan lingkungan dalam suasana belajar yang interaktif, kreatif, dan menyenangkan.
Ketua tim pengabdian, Ardia Septi Wijianti, S.Hum., M.A., menjelaskan bahwa pendekatan storytelling dipilih karena dinilai efektif untuk menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan kepada anak-anak.
Menurutnya, cerita tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang mampu membangun imajinasi, empati, serta kesadaran anak terhadap lingkungan di sekitarnya.
"Anak-anak belajar lebih mudah melalui cerita. Ketika mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga menyusun dan menceritakan kembali pengalaman tentang lingkungan mereka sendiri, nilai-nilai kepedulian terhadap alam akan lebih mudah tertanam dibandingkan hanya melalui ceramah," ujar Ardia.
Kegiatan diawali dengan sesi pembukaan dan apersepsi yang dipandu oleh mahasiswa fasilitator, di mana peserta diajak mengenali berbagai persoalan lingkungan di sekitar mereka, seperti pentingnya menjaga kebersihan sungai, dampak membuang sampah sembarangan, serta manfaat menjaga kelestarian hutan.
Suasana belajar kemudian semakin hidup melalui sesi "Berani Berbicara", yaitu rangkaian permainan komunikasi seperti Salam Hebat dan Toples Pertanyaan Berani, yang melatih rasa percaya diri serta kemampuan ekspresi wajah, intonasi, dan bahasa tubuh peserta sebelum memasuki sesi storytelling.
Pada sesi berikutnya, peserta mendengarkan dongeng Timun Emas yang telah dimodifikasi dengan memasukkan unsur-unsur lingkungan khas Desa Medalsari, seperti sungai, hutan, sawah, kebun, serta kehidupan masyarakat sekitar.
Tokoh Timun Emas digambarkan sebagai sosok pemberani yang berusaha menyelamatkan alam Desa Medalsari dari ancaman raksasa yang gemar membuang sampah dan merusak hutan.
Dongeng disampaikan secara interaktif sehingga peserta aktif menjawab pertanyaan, menirukan suara tokoh maupun satwa, serta memberikan pendapat mengenai persoalan lingkungan dalam cerita.
Puncak kegiatan adalah praktik storytelling berkelompok. Sebanyak 14 peserta dibagi ke dalam tiga kelompok dan didampingi langsung oleh fasilitator untuk menyusun cerita sederhana bertema pelestarian lingkungan berdasarkan pengalaman sehari-hari di Desa Medalsari, kemudian menampilkannya di hadapan teman-teman.
Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi dan pembacaan komitmen bersama untuk menjaga kebersihan lingkungan, mencintai alam Desa Medalsari, membuang sampah pada tempatnya, serta menjadi anak-anak yang berani bercerita untuk mengajak orang lain menjaga bumi.
Antusiasme juga disampaikan oleh salah satu siswa peserta pelatihan storytelling. "Cerita Timun Emasnya seru banget karena menceritakan lingkungan desa kita sendiri. Sekarang jadi makin berani untuk bercerita di depan teman-teman," tuturnya dengan ceria.
Program ini dilaksanakan oleh tim dosen yang diketuai Ardia Septi Wijianti, S.Hum., M.A., bersama Ely Rusliawati, S.Pd., M.A., Dr. Gres Grasia Azmin, S.S., M.Si., Ahmad Maulana Ghufar, S.Pd., M.A., Dr. Asep Supriyana, S.S., M.Pd., dan Sigit Widiatmoko, S.S., M.Hum., dengan dukungan mahasiswa fasilitator lapangan Azyan Alila Rayessa, Rifqu Latifah Rachmah, dan Saddam Mufti Khafidz.
Melalui kegiatan ini, tim mengembangkan Perangkat Edukasi Storytelling Ekologis (PESE), model pembelajaran yang mengintegrasikan pedagogi lisan, literasi ekologis, dan pemanfaatan media digital sederhana sebagai sarana edukasi lingkungan.
Kedua program pengabdian ini menunjukkan sinergi yang erat antara penguatan literasi berbahasa dan literasi ekologis di kalangan siswa sekolah dasar.
Jika program penguatan ragam bahasa membekali siswa dengan kemampuan berkomunikasi yang santun dan sesuai konteks, program storytelling menanamkan kepedulian lingkungan melalui kekuatan cerita.
Keduanya sama-sama melibatkan kolaborasi dosen, mahasiswa sebagai fasilitator lapangan, guru, dan pemerintah desa dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih komunikatif dan berkarakter.
Melalui kedua kegiatan ini, Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta menegaskan komitmennya dalam menghadirkan inovasi pembelajaran yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat kemitraan antara UNJ, SDN Medalsari III, dan Pemerintah Desa Medalsari.
Program ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 15 (Menjaga Ekosistem Daratan), serta diharapkan dapat menjadi model pembelajaran bahasa dan sastra yang berkelanjutan dalam membentuk generasi muda dengan kompetensi linguistik, etika komunikasi, dan kepedulian lingkungan yang kuat di era digital.***




