POJOKSATU.id – Kekayaan biodiversitas hutan hujan tropis Indonesia kembali menunjukkan potensinya bagi dunia kesehatan.
Tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berhasil mengidentifikasi sejumlah senyawa bioaktif dari tanaman endemik Nusantara yang berpotensi dikembangkan sebagai kandidat obat kanker.
Penelitian tersebut dipimpin dosen Kimia FMIPA Unesa, Dr. Ratih Dewi, yang sejak 2018 bersama timnya mengeksplorasi berbagai tanaman dari kawasan Sumatra, Jawa, Kalimantan hingga Indonesia Timur.
"Kami mengeksplorasi tanaman dari kawasan Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga wilayah timur.
Area ini memiliki kekayaan senyawa luar biasa namun masih minim kajian keilmuan," ujar Ratih.
Fokus pada Senyawa Aktif Tanaman Endemik
Dalam penelitian tersebut, tim menggunakan pendekatan fitokimia modern untuk mengidentifikasi kandungan senyawa aktif dari ratusan fraksi tanaman.
Hasilnya, para peneliti menemukan berbagai senyawa baru dari kelompok flavonoid dan santon yang berasal dari tanaman genus Garcinia dan Flemingia.
Kedua kelompok tanaman tersebut diketahui memiliki aktivitas antioksidan sekaligus menunjukkan potensi sebagai antikanker.
Ratih menjelaskan, penelitian kemudian diarahkan untuk mengkaji hubungan antara struktur kimia suatu senyawa dengan aktivitas biologinya atau Structure-Activity Relationship (SAR).
"Fokus penelitian ada pada bagaimana perubahan struktur molekul alami meningkatkan kemampuannya menangkal radikal bebas serta menghambat sel kanker," jelasnya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Mengaji, Pesantren Diam-Diam Membentuk Soft Skill yang Dicari Dunia Kerja
Menargetkan Kanker Serviks dan Kanker Payudara
Seiring berkembangnya penelitian, fokus riset mengerucut pada dua jenis kanker yang banyak menyerang perempuan, yakni kanker serviks dan kanker payudara.
Tim menguji aktivitas senyawa terhadap sel kanker serviks (HeLa) dan sel kanker payudara (4T1) untuk mengetahui efektivitasnya sebagai kandidat terapi.
"Kondisi tersebut adalah dorongan terbesar riset ini berlanjut. Kita butuh kandidat obat herbal yang aman, selektif, dan bisa menjadi alternatif terapi masa depan," kata Ratih.
Meski demikian, temuan ini masih berada pada tahap penelitian laboratorium.
Senyawa yang ditemukan belum menjadi obat yang siap digunakan pada manusia dan masih memerlukan tahapan penelitian lanjutan, termasuk uji praklinis dan uji klinis sebelum dapat dinyatakan aman dan efektif sebagai terapi.
Garcinia Jadi Salah Satu Tanaman Paling Menjanjikan
Tim peneliti secara khusus mendalami sejumlah spesies endemik, di antaranya Garcinia celebica dan Garcinia xanthochymus.
Dari tanaman tersebut ditemukan senyawa golongan santon yang memiliki aktivitas sitotoksik tinggi terhadap sel kanker.
Untuk memperkuat hasil penelitian, tim juga menerapkan metode molecular docking secara in silico.
Teknik komputasi ini digunakan untuk memprediksi bagaimana senyawa alami berinteraksi dengan target molekuler pada sel kanker sehingga proses pencarian kandidat obat menjadi lebih terarah dan efisien.
"Perjalanan eksplorasi selama delapan tahun ini membuahkan pengetahuan baru soal kekayaan biodiversitas tropis Indonesia," ujar Ratih.
Hasil Riset Perkuat Inovasi Kesehatan Berbasis Biodiversitas
Selama delapan tahun penelitian, tim FMIPA Unesa telah menghasilkan berbagai luaran ilmiah, mulai dari Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), buku ber-ISBN, hingga publikasi pada jurnal internasional bereputasi Q2 dan Q3.
Baca Juga: Bupati Karawang Minta Polisi Usut Tuntas Kasus Tawuran Pelajar di Klari
Riset tersebut juga memperluas kolaborasi akademik dengan berbagai perguruan tinggi dan menjadi fondasi bagi pengembangan penelitian lanjutan.
Saat ini, pengembangan kandidat obat dilakukan menggunakan pendekatan network pharmacology untuk memahami cara kerja senyawa alami terhadap berbagai target biologis secara lebih komprehensif.
Melalui penelitian berkelanjutan ini, para peneliti berharap kekayaan flora tropis Indonesia tidak hanya menjadi warisan keanekaragaman hayati, tetapi juga mampu melahirkan inovasi kesehatan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat di masa depan. ***




