POJOKSATU.id — Bagi sebagian orang, membeli buku merupakan kegiatan yang menyenangkan.
Ada kepuasan tersendiri saat membawa pulang buku baru dengan harapan suatu hari nanti akan dibaca.
Namun, tidak sedikit yang akhirnya hanya menumpuk buku di rak tanpa pernah menyelesaikannya.
Fenomena ini ternyata memiliki istilah khusus, yaitu tsundoku.
Tsundoku merupakan istilah yang berasal dari Jepang untuk menggambarkan kebiasaan membeli buku, tetapi tidak langsung membacanya hingga koleksinya terus bertambah.
Kata ini berasal dari gabungan tsunde oku yang berarti "menumpuk untuk nanti" dan doku yang berarti "membaca".
Istilah tersebut telah dikenal sejak akhir abad ke-19 dan masih relevan hingga sekarang, terutama di era ketika akses terhadap buku semakin mudah melalui toko daring maupun diskon besar-besaran.
Meski sering dianggap sebagai kebiasaan yang kurang produktif, tsundoku sebenarnya tidak selalu bermakna negatif.
Banyak orang membeli buku karena tertarik pada topiknya atau ingin mempelajarinya di masa depan.
Baca Juga: IPB University Perdalam Potensi Komoditas Unggulan Lewat Pembelajaran Tematik OVOC 2026
Sayangnya, kesibukan, perubahan prioritas, atau bertambahnya koleksi membuat buku-buku tersebut belum sempat disentuh.
Dalam kondisi seperti ini, tsundoku lebih mencerminkan keinginan seseorang untuk terus belajar daripada sekadar hobi mengoleksi buku.
Selama pembelian dilakukan sesuai kemampuan finansial dan tidak mengganggu kebutuhan utama, kebiasaan tersebut umumnya tidak dianggap sebagai masalah.
Namun, tsundoku bisa berubah menjadi perilaku konsumtif apabila seseorang terus membeli buku secara impulsif tanpa mempertimbangkan kebutuhan maupun kondisi keuangan.
Misalnya, membeli buku hanya karena sedang diskon, mengikuti tren media sosial, atau merasa takut kehabisan stok, padahal masih banyak buku lain yang belum dibaca.
Jika kebiasaan tersebut membuat pengeluaran membengkak, menimbulkan penyesalan, atau menyebabkan tumpukan buku yang tidak pernah dimanfaatkan, maka tsundoku dapat menjadi bentuk konsumsi yang kurang sehat.
Dalam situasi seperti ini, persoalannya bukan terletak pada aktivitas membaca atau membeli buku, melainkan pada pola belanja yang tidak terkendali.
Di sisi lain, sejumlah penulis dan pemikir justru melihat sisi positif dari memiliki banyak buku yang belum dibaca.
Koleksi tersebut dianggap sebagai pengingat bahwa masih banyak pengetahuan yang belum dikuasai sehingga dapat memotivasi seseorang untuk terus belajar.
Pandangan ini menunjukkan bahwa buku yang belum dibaca bukan selalu menjadi simbol pemborosan, tetapi juga dapat menjadi investasi pengetahuan apabila suatu saat benar-benar dimanfaatkan.
Pada akhirnya, tsundoku bukanlah kebiasaan yang secara otomatis merugikan.
Selama pembelian buku dilakukan secara bijak, sesuai kemampuan, dan masih memiliki tujuan untuk dibaca di kemudian hari, kebiasaan ini tidak dapat langsung dikategorikan sebagai perilaku konsumtif.
Sebaliknya, jika membeli buku hanya menjadi pelampiasan keinginan berbelanja tanpa memperhatikan manfaat maupun kondisi keuangan maka tsundoku berpotensi memberikan dampak negatif.
Kuncinya bukan pada seberapa banyak buku yang dimiliki, melainkan apakah koleksi tersebut benar-benar memberikan nilai bagi pemiliknya, baik sekarang maupun di masa mendatang.***




