POJOKSATU.id – Membangun kepercayaan menjadi langkah awal yang menentukan keberhasilan pendampingan dalam Program Sekolah Keluarga Berkualitas (SKB) 2026.

Tanpa adanya rasa percaya, materi yang disampaikan akan lebih sulit diterima dan diterapkan oleh peserta dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan itu menjadi salah satu fokus utama dalam Training of Trainers (ToT) Fasilitator Sekolah Keluarga Berkualitas 2026 yang diselenggarakan IPB University melalui Lembaga Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I).

Baca Juga: Ini Dia Kuliah Rekayasa Nanoteknologi, Jurusan yang Mengembangkan Teknologi dari Skala Sepersejuta Milimeter

Melalui pelatihan ini, para calon fasilitator dipersiapkan agar mampu menghadirkan proses pembelajaran yang lebih humanis, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat di wilayah lingkar kampus.

Salah satu sesi pelatihan menghadirkan Alumni Fasilitator SKB 2025 Kelurahan Kencana, Ulty Midayati, yang membawakan materi bertajuk "Membangun Kepercayaan, Mendampingi, dan Bertumbuh Bersama."

Berangkat dari pengalaman mendampingi masyarakat, ia membagikan berbagai pendekatan sederhana yang terbukti mampu menciptakan hubungan yang kuat antara fasilitator dan peserta.

Baca Juga: Ketahui Kuliah Teknik Dirgantara, Jurusan yang Mempelajari Pesawat, Roket, dan Teknologi Penerbangan

Kepercayaan Menjadi Awal dari Proses Belajar
Menurut Ulty, keberhasilan seorang fasilitator tidak diukur dari banyaknya materi yang berhasil disampaikan.

Yang lebih penting adalah bagaimana peserta merasa diterima, didengar, dihargai, dan memiliki keberanian untuk mengubah pengetahuan menjadi tindakan nyata.

Di lapangan, seorang fasilitator akan bertemu dengan peserta yang memiliki latar belakang berbeda-beda, mulai dari ibu yang membawa balita, ibu hamil, hingga peserta yang masih ingin memahami tujuan program.

Kondisi tersebut membuat pendekatan yang hangat dan penuh empati menjadi fondasi utama dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Ekonom UMY: Bukan Berarti Fundamental Ekonomi Indonesia Sedang Rapuh

Selama mendampingi peserta, Ulty membiasakan diri menyapa setiap peserta secara personal, mengingat nama mereka beserta anak-anaknya, mendengarkan cerita keseharian tanpa menghakimi, serta menghadirkan ruang belajar yang aman dan terbuka.

Langkah-langkah sederhana itu membuat peserta lebih percaya diri untuk bertanya, berbagi pengalaman, dan aktif berdiskusi.

Pendampingan Efektif Lahir dari Kreativitas
Selain membangun kepercayaan, Ulty mengingatkan bahwa fasilitator juga harus siap menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

Kehadiran peserta yang tidak konsisten, keterbatasan waktu, hingga rendahnya rasa percaya diri peserta merupakan dinamika yang perlu disikapi dengan kreativitas.

Baca Juga: Mahasiswa UGM Ciptakan CalmBar dan SELF-SCAN, Inovasi untuk Bantu Cegah Gangguan Kecemasan pada Generasi Muda

Ia mendorong penggunaan berbagai pendekatan, seperti storytelling, diskusi interaktif, bahasa yang mudah dipahami, ice breaking, hingga humor ringan agar suasana belajar tetap hidup.

Pendekatan tersebut membantu peserta lebih nyaman mengikuti setiap sesi sekaligus memudahkan mereka memahami materi yang disampaikan.

Ulty juga memperkenalkan sejumlah inovasi lokal yang pernah diterapkannya selama menjadi fasilitator.

Mulai dari memberikan apresiasi sederhana kepada peserta, menyediakan camilan bagi anak-anak agar para ibu lebih fokus mengikuti kelas, hingga mendokumentasikan setiap kegiatan sebagai bentuk penghargaan atas perjalanan belajar peserta.

Baca Juga: Koramil 0401/Kota Karawang Berbagi di Jumat Berkah, Pekerja Jalanan Terima Bantuan Makanan

Menurutnya, dokumentasi bukan hanya menjadi pelengkap laporan kegiatan, tetapi juga menjadi rekam jejak perubahan yang dapat menumbuhkan semangat peserta untuk terus berkembang.

Harapan Baru Tumbuh dari Proses Pendampingan
Bagi Ulty, pendampingan bukan hanya memberikan manfaat bagi peserta, tetapi juga menjadi proses belajar bagi fasilitator.

Ia menyaksikan banyak peserta yang awalnya pendiam mulai berani menyampaikan pendapat, aktif berdiskusi, hingga memiliki keyakinan untuk merancang masa depan keluarganya dengan lebih optimistis.

Baca Juga: Jadwal Seleksi Kompetensi PPPK Sekolah Rakyat 2026 Dimulai 13 Juli, BKN Siapkan 42 Lokasi Ujian, Begini Sistem Ujiannya

Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi saat kegiatan berlangsung di Kampus IPB. Seorang peserta berbisik kepadanya, "Semoga nanti anakku bisa kuliah di sini."

Bagi Ulty, kalimat sederhana tersebut menjadi bukti bahwa pendampingan mampu menghadirkan harapan baru sekaligus memperluas cara pandang peserta terhadap masa depan pendidikan anak-anak mereka.

Menutup sesi, Ulty mengajak para calon fasilitator untuk menjalankan perannya bukan sebagai sosok yang paling mengetahui segala hal, melainkan sebagai teman belajar yang hadir, mendengarkan, menguatkan, dan tumbuh bersama masyarakat.

Ia juga mengusulkan penguatan sistem mentoring antara fasilitator alumni dan fasilitator baru, forum berbagi praktik baik secara berkala, serta pengayaan modul dengan pendekatan storytelling agar Program Sekolah Keluarga Berkualitas semakin dekat dengan kehidupan peserta.

Baca Juga: Mahasiswa Jatuh dari Lantai 6, Untar Digugat Rp1 Miliar, Kampus Tanggapi Gugatan Keluarga Adik Keisya Levronka Ini usai Kecelakaan

Microteaching Menguatkan Kesiapan Fasilitator
Sebagai tindak lanjut dari materi yang telah diterima, peserta ToT mengikuti sesi microteaching.

Peserta yang hadir secara luring maupun daring dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menyusun skenario pendampingan, mempraktikkan teknik fasilitasi, kemudian mempresentasikan hasilnya di hadapan peserta lain serta para narasumber.

Melalui sesi ini, para calon fasilitator tidak hanya memahami konsep pendampingan, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam membangun komunikasi, mengelola dinamika kelompok, serta menyampaikan materi secara efektif.

Bekal tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan setiap fasilitator Sekolah Keluarga Berkualitas 2026 siap mendampingi masyarakat dengan pendekatan yang adaptif, partisipatif, dan berorientasi pada kebutuhan peserta. ***