POJOKSATU.id – Perubahan sosial yang berlangsung cepat, perkembangan teknologi digital, hingga tekanan ekonomi membuat keluarga menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Dalam situasi tersebut, keluarga tidak mungkin menjalani kehidupan tanpa persoalan.
Yang menjadi pembeda justru terletak pada kemampuan setiap keluarga dalam mengelola tantangan agar tidak berkembang menjadi krisis.
Pesan itu menjadi salah satu materi utama dalam Training of Trainers (ToT) Sekolah Keluarga Berkualitas (SKB) 2026 yang berlangsung pada Selasa (30/6).
Baca Juga: Bukan di Monas, Polri Kali Ini Gelar HUT Bhayangkara ke 80 Tahun di Satlat Brimob Cikeas
Guru Besar Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, Prof. Euis Sunarti, mengajak para fasilitator memahami bahwa ketahanan keluarga dibangun melalui proses pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.
Menurut Prof. Euis, masalah bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan harus dikelola dengan baik agar dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran keluarga.
"Masalah itu bukan dihindari, tetapi dikelola. Ketahanan keluarga lahir dari kemampuan mengelola sumber daya yang dimiliki hingga menghasilkan kesejahteraan," ujarnya.
Ia menjelaskan, sumber daya keluarga tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi atau materi.
Baca Juga: 8 Cara Merawat Rambut Panjang Pria agar Tetap Sehat, Bebas Kusut, dan Tidak Mudah Rontok
Pengetahuan, kualitas sumber daya manusia, waktu, perhatian, kemampuan mengelola emosi, hingga keterampilan menghadapi stres juga menjadi modal penting yang menentukan kekuatan sebuah keluarga.
Ketika seluruh sumber daya tersebut dikelola secara optimal, tekanan hidup tidak selalu menghasilkan dampak negatif.
Sebaliknya, tantangan dapat menjadi kesempatan bagi keluarga untuk tumbuh, belajar, dan semakin tangguh menghadapi perubahan.
Prof. Euis juga menekankan bahwa ketahanan keluarga merupakan proses yang terus berjalan.
Baca Juga: Warga Laporkan Dugaan Kejanggalan PADes Mertapadawetan ke Kejari Cirebon
Hasil yang dicapai keluarga pada satu fase kehidupan akan menjadi bekal untuk menghadapi fase berikutnya sehingga kesejahteraan keluarga harus terus dipelihara.
"Yang paling penting sebenarnya adalah bagaimana keluarga mengelola hati, mental, emosi, dan hubungan sosial.
Peristiwa yang sama bisa menghasilkan respons yang berbeda, tergantung bagaimana keluarga mengelolanya," jelasnya.
Setiap keluarga, lanjutnya, akan melewati delapan tahapan perkembangan, mulai dari pasangan baru menikah, memiliki anak, anak usia prasekolah, usia sekolah, remaja, anak mulai mandiri meninggalkan rumah, usia pertengahan, hingga memasuki usia lanjut.
Baca Juga: Keluar Melambai
Setiap tahapan memiliki tantangan, tugas perkembangan, dan potensi krisis yang berbeda sehingga membutuhkan strategi pengelolaan yang berbeda pula.
Buku Pop-Up Rumah Gambarkan Ketahanan Keluarga Secara Utuh
Agar konsep tersebut lebih mudah dipahami peserta, Prof. Euis menggunakan media pembelajaran berupa buku pop-up berbentuk rumah yang menggambarkan keseluruhan sistem ketahanan keluarga.
Rumah dipilih sebagai simbol karena keluarga merupakan fondasi utama kehidupan.
Setiap bagian rumah merepresentasikan unsur-unsur penting yang saling berkaitan dalam membangun keluarga yang kuat.
Baca Juga: Daftar HP Samsung yang Diprediksi Kebagian Android 17 dan One UI 9.0, Cek Apakah Punya Kamu?
Pada bagian pondasi, dijelaskan bahwa ketahanan keluarga dimulai dari kesiapan memasuki perkawinan, kesamaan nilai, tujuan hidup, serta berbagai sumber daya keluarga yang menjadi modal awal menghadapi kehidupan.
Sementara itu, tiang-tiang rumah menggambarkan dimensi utama ketahanan keluarga, yakni ketahanan fisik dan ekonomi, ketahanan sosial, serta ketahanan psikologis.
Seluruhnya diperkuat melalui pembagian peran, fungsi, dan tanggung jawab setiap anggota keluarga.
Baca Juga: IHSG Terus Merah, OJK Akui Ada yang Tidak Beres dengan Pasar Modal Indonesia
Bagian dalam rumah melambangkan hubungan antarseluruh anggota keluarga, mulai dari relasi suami istri, hubungan orang tua dengan anak, hingga interaksi antarsaudara.
Keharmonisan hubungan tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas keluarga.
Adapun bagian atap menggambarkan proses pengelolaan sumber daya dan penyelesaian masalah keluarga.
Dari proses inilah akan lahir kesejahteraan keluarga sebagai hasil yang kemudian menjadi modal menghadapi tahapan kehidupan berikutnya.
Melalui ilustrasi rumah tersebut, peserta juga diajak memahami bahwa ketahanan keluarga tidak bersifat statis.
Setiap fase kehidupan membutuhkan penyesuaian sehingga seluruh komponen "rumah" harus tetap kokoh agar keluarga mampu beradaptasi menghadapi perubahan.
Konsep Tong Bocor Jadi Gambaran Pentingnya Menjalankan Seluruh Fungsi Keluarga
Selain menggunakan ilustrasi rumah, Prof. Euis juga memperkenalkan konsep Tong Bocor sebagai media sederhana untuk menjelaskan syarat terbentuknya ketahanan keluarga.
Baca Juga: Potato Omelette Lumer, Menu Sarapan Praktis dengan Kentang, Telur, dan Keju yang Bikin Nagih
Ia mengibaratkan keluarga seperti sebuah tong yang tersusun dari papan-papan kayu.
Agar tong mampu menampung air dengan baik, seluruh papan harus lengkap dan memiliki tinggi yang memadai.
Konsep tersebut menggambarkan adanya dua syarat penting dalam membangun ketahanan keluarga, yakni syarat keharusan dan syarat kecukupan.
Syarat keharusan berarti seluruh fungsi keluarga harus hadir tanpa ada yang ditinggalkan.
Baca Juga: Benarkah Ukuran Pupil Mata Bisa Menjadi Tanda IQ Tinggi? Ini Penjelasan Hasil Penelitiannya
Sementara syarat kecukupan menekankan bahwa setiap fungsi harus dijalankan secara memadai meskipun alokasi waktunya dapat berbeda.
Sebagai contoh, orang tua yang memiliki kesibukan bekerja tetap perlu menyediakan waktu untuk mendampingi anak, membangun komunikasi, menanamkan nilai agama, karakter, serta memberikan perhatian terhadap perkembangan mereka.
Apabila salah satu fungsi keluarga diabaikan, akan muncul "kebocoran" yang berpotensi memicu berbagai persoalan pada masa mendatang.
Prof. Euis juga mengingatkan bahwa ketimpangan pembagian peran maupun beban dalam keluarga dapat menjadi titik kritis.
Terlalu fokus mencari nafkah hingga mengesampingkan pengasuhan dan komunikasi berisiko menurunkan kualitas hubungan antaranggota keluarga.
Karena itu, keseimbangan antara memenuhi kebutuhan ekonomi dan membangun kedekatan emosional perlu dijaga melalui komunikasi yang baik, aktivitas bersama, serta penanaman nilai-nilai kehidupan dalam keluarga.
Dalam pemaparannya, Prof. Euis kembali menegaskan bahwa keluarga yang tangguh bukanlah keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah.
Ketangguhan justru lahir ketika setiap anggota keluarga mampu mengelola tantangan, menjaga kesehatan mental, menguatkan hubungan sosial, serta memanfaatkan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk terus bertumbuh sesuai dinamika kehidupan. ***




