POJOKSATU.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat inovasi di sektor pertanian melalui pengembangan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap dampak perubahan iklim.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga produktivitas hortikultura sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional di tengah tantangan cuaca yang semakin ekstrem.
Komitmen tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam webinar HortiActive #27 bertema Pemuliaan Tanaman Sayuran Buah Berbasis Bukti Ilmiah dan Kebutuhan Industri Perbenihan yang diselenggarakan Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN.
Baca Juga: 7 Manfaat Buah Mangga untuk Kesehatan, Bantu Jaga Imunitas hingga Sehatkan Jantung
Kepala ORPP BRIN, Puji Lestari, mengatakan riset pertanian tidak cukup berhenti pada publikasi ilmiah.
Menurutnya, hasil penelitian harus mampu menjawab kebutuhan industri perbenihan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi petani dan masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa sektor pertanian saat ini menghadapi berbagai persoalan, mulai dari berkurangnya lahan produktif, degradasi tanah, keterbatasan air, hingga perubahan iklim yang memicu meningkatnya cekaman lingkungan dan serangan organisme pengganggu tanaman.
Baca Juga: Bahaya Terlalu Banyak Minum Air Putih, Bisa Sebabkan Keracunan hingga Gangguan Otak
Kondisi tersebut membuat pengembangan benih unggul yang tahan suhu tinggi, adaptif terhadap lingkungan, serta memiliki ketahanan terhadap hama menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.
"Melalui inovasi pemuliaan tanaman, kita berharap dapat menghasilkan benih unggul yang adaptif terhadap perubahan lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani," ujar Puji.
Senada dengan itu, Kepala Pusat Riset Hortikultura ORPP BRIN, Dwinita Wikan Utami, menilai pemuliaan tanaman kini harus memanfaatkan teknologi modern agar proses pengembangan varietas menjadi lebih cepat, presisi, dan berbasis data ilmiah.
Baca Juga: Libur Sekolah, KAI Daop 3 Cirebon Layani 136 Ribu Penumpang, Diskon Tiket 30 Persen Masih Berlaku
Menurutnya, keberhasilan menghasilkan varietas unggul tidak hanya bergantung pada aspek ilmiah, tetapi juga harus mempertimbangkan kebutuhan industri benih, pasar, serta kondisi yang dihadapi petani di lapangan.
Tomat Partenokarpik Lebih Tangguh Hadapi Suhu Tinggi
Dalam sesi ilmiah, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Hortikultura ORPP BRIN, Ika Cartika, memaparkan hasil penelitian mengenai tomat partenokarpik yang memiliki kemampuan beradaptasi lebih baik terhadap suhu tinggi.
Ia menjelaskan bahwa peningkatan temperatur akibat perubahan iklim dapat mengganggu pembentukan bunga dan buah pada tanaman tomat.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, BRIN mengembangkan tomat partenokarpik yang mampu menghasilkan buah tanpa proses pembuahan.
Hasil penelitian menunjukkan dua galur, yakni iaa9-3 dan iaa9-5, memiliki perubahan anatomi pada stomata, trikoma, serta jaringan daun yang membantu tanaman mengurangi kehilangan air, menjaga proses fotosintesis, dan meningkatkan toleransi terhadap suhu panas.
Selain itu, kedua galur tersebut juga diketahui memiliki sistem perakaran yang lebih baik, aktivitas enzim antioksidan lebih tinggi, serta mampu mempertahankan produksi buah meski berada pada kondisi suhu ekstrem.
Baca Juga: Tak Lagi Tanpa Identitas, Kakek Pencari Rumput di Jember Akhirnya Kantongi KTP dan KK
Cabai Tahan Kutudaun untuk Menekan Risiko Gagal Panen
Tak hanya tomat, BRIN juga mengembangkan cabai yang memiliki ketahanan terhadap serangan kutudaun (Aphis gossypii), salah satu hama utama penyebab turunnya produktivitas sekaligus penyebar berbagai virus tanaman.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Hortikultura ORPP BRIN, Ady Daryanto, mengatakan cabai merupakan komoditas strategis nasional sehingga peningkatan ketahanannya sangat penting untuk menjaga produksi sekaligus stabilitas harga pangan.
"Hasil pengujian menunjukkan bahwa genotipe C20 dan C367 secara konsisten mampu menekan perkembangan populasi kutudaun sehingga berpotensi menjadi donor ketahanan dalam program pemuliaan cabai," jelasnya.
Penelitian tersebut juga menghasilkan metode skrining clip cage yang dinilai efektif untuk mengevaluasi ketahanan tanaman.
Berdasarkan analisis genetik, sifat tahan terhadap kutudaun dikendalikan oleh beberapa gen dengan tingkat heritabilitas tinggi sehingga sangat potensial dimanfaatkan dalam pengembangan varietas baru.
Kolaborasi dengan Industri Jadi Kunci
Diskusi dalam webinar juga menghadirkan Nugraheni Vita Rachma dari PT Ewindo yang menyoroti pentingnya sinergi antara lembaga riset dan industri perbenihan.
Menurutnya, kolaborasi yang erat akan mempercepat lahirnya varietas unggul yang sesuai kebutuhan petani sekaligus memiliki daya saing di pasar.
Baca Juga: Mengenal Blackbox AI: Teknologi Kecerdasan Buatan yang Canggih tetapi Sulit Dijelaskan
Melalui HortiActive #27, BRIN berharap kerja sama antara peneliti, akademisi, dan industri semakin kuat sehingga inovasi pemuliaan tanaman dapat diterapkan lebih luas untuk menghadapi dampak perubahan iklim.
Dengan dukungan riset berbasis sains dan penerapan teknologi modern, BRIN optimistis pengembangan benih unggul akan menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan daya saing sektor hortikultura Indonesia di masa depan.***




